Cerita BI

BI Icon

​​Departemen Komunikasi​

8/20/2026 2:00 AM
Hits: 104

Sinergi Membawa Kopi Gayo dari Kebun hingga Pasar Global

​​Sekitar 120 ribu hektare kebun kopi membentang di dataran tinggi Gayo, salah satu kawasan perkebunan kopi arabika terbesar di Indonesia. Namun, luasnya kebun belum sepenuhnya sejalan dengan hasil panen. Dari potensi 1,5–2 ton kopi per hektare per tahun, produktivitas rata-rata petani baru sekitar 750 kilogram. 

Kesenjangan inilah yang menjadi salah satu cerita di balik perjalanan Asa Coffee Gayo. Bersama petani dan berbagai pihak berupaya membuka potensi itu melalui penguatan budidaya yang lebih baik, regenerasi petani, hingga akses pasar yang lebih luas. Supaya kopi Gayo tak hanya tumbuh di kebun tetapi juga memberi nilai lebih bagi petaninya, dibutuhkan ekosistem yang mempertemukan pengetahuan, pelaku usaha, dan pasar. Salah satu ruang untuk mempertemukan berbagai potensi tersebut hadir melalui Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.

Di ajang inilah Asa Coffee Gayo, yang dijalankan Armiyadi membawa cerita perjalanan kopinya dari dataran tinggi Gayo ke hadapan pasar yang lebih luas, bersama ratusan UMKM lain dari berbagai daerah dalam semangat “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing.” 

Kebun 120 Ribu Hektare, Hasil Baru Separuh Jalan

Dataran Tinggi Gayo menaungi perkebunan kopi rakyat seluas sekitar 120 ribu hektare, salah satu kawasan kopi arabika terbesar di Indonesia. Namun luas lahan besar itu belum diiringi hasil maksimal produktivitas rata-rata petani baru 750 kilogram per hektare per tahun, padahal potensinya bisa 1,5–2 ton per hektare per tahun artinya, baru separuh potensi kebun kopi Gayo yang benar-benar dimanfaatkan.

 

Bagi masyarakat yang setiap hari menyeruput kopi, angka ini punya arti besar, produktivitas naik berarti petani punya lebih banyak waktu merawat setiap pohon biji dipetik tepat waktu, diproses lebih cermat, dan hasilnya cita rasa yang lebih konsisten sampai ke cangkir.

 

Menurut Armiyadi, rendahnya produktivitas ini bukan semata soal alam, tapi juga soal manusia. Banyak yang menjadi petani karena merasa tak ada pilihan karier lain, bukan karena memilihnya dengan sadar. Persepsi bahwa "jadi petani tidak butuh sekolah" membuat sebagian petani kurang membekali diri dengan ilmu budi daya yang benar dari pemilihan varietas hingga peremajaan tanaman yang usianya lewat masa produktif.

 

Kebun yang Lebih Rapi, Hasil yang Lebih Tinggi

Untuk menjawab persoalan itu, Asa Coffee Gayo mengembangkan sistem tanam pagar metode budidaya modern ala Brasil yang bisa memuat hingga 4.000 pohon per hektare (dari sekitar 1.500 pohon di kebun konvensional) dengan susunan lebih rapi, sehingga produktivitas meningkat sekaligus kebun jadi lebih estetik.

 

Kebun yang tertata membuat profesi petani terasa lebih bermartabat penting untuk mengubah pandangan generasi muda terhadap dunia pertanian. Manfaatnya juga langsung terasa, perawatan yang merata membuat biji kopi punya kualitas lebih seragam, sehingga cita rasa kopi yang dinikmati jadi lebih konsisten. Edukasi lewat media sosial pun perlahan membangun kepercayaan petani untuk membeli bibit berkualitas dan mengubah cara bertani mereka.

 

Kalau Semua Ingin Jadi Barista, Siapa yang Menanam Kopinya?

Tantangan terbesar ke depan adalah regenerasi. Armiyadi menyoroti fenomena generasi muda lebih tertarik jadi barista ketimbang petani padahal tanpa petani, tak ada biji kopi yang bisa diolah barista mana pun. Sebagian orang tua pun masih enggan mengizinkan anaknya menjadi petani, menganggap profesi ini kurang menjanjikan.

 

Salah satu langkah yang diambil untuk mengubah persepsi ini adalah pelatihan yang menyasar generasi muda dan perempuan-perempuan jadi sasaran penting karena merekalah yang kelak mengajarkan cara bertani kepada anak-anaknya, sehingga keterampilan bertani terus diwariskan antargenerasi. Program semacam ini, yang salah satunya difasilitasi Bank Indonesia, menjadi investasi jangka panjang agar pasokan kopi berkualitas dari Gayo tidak terputus. 


Sinergi Membawa Kopi Gayo ke Pasar Global

Selain pelatihan, Asa Coffee Gayo juga mendapat pendampingan manajemen bisnis, kesempatan ikut pameran, hingga pertemuan dengan calon pembeli sebagian didukung Bank Indonesia. Akses semacam ini membantu memperluas jaringan usaha, yang pada akhirnya dirasakan petani binaan lewat permintaan pasar yang lebih besar. 


Produk Asa Coffee Gayo kini mencakup green bean, roasted bean, bubuk kopi, hingga coffee shop sendiri, dan sudah menembus ekspor ke Amerika Serikat, Korea Selatan, China, dan Jepang. Dukungan ini tak berhenti di omzet sebagian usaha dijalankan sebagai CSR lewat konten edukasi rutin ke publik, membantu generasi muda memahami dunia kopi sekaligus menarik minat orang yang tadinya awam soal kopi. Petani sukses jadi contoh nyata bahwa bertani, dengan cara benar, adalah pilihan karier yang menjanjikan 

 

Menanti Panen yang Lebih Baik

Semua upaya dimulai dari membuat kebun lebih rapi, pelatihan generasi muda, hingga pendampingan bisnis bermuara pada satu tujuan hasil panen yang lebih baik. Kopi tetap butuh waktu dan proses alam yang tak bisa dipercepat, tapi strategi produksi yang tepat bisa membuat hasilnya lebih optimal, sehingga petani lebih sejahtera dan nilai jual kopi dihargai lebih tinggi. Pesan Armiyadi sederhana: menjadi petani bukan sesuatu yang buruk profesi ini kurang diminati karena cara bertani yang keliru, padahal dengan pendekatan benar, hasilnya bisa berlipat ganda.

 

Apa Artinya Buat Kita?

  • Kualitas kopi yang dinikmati bukan kebetulan. Semakin baik proses budi daya, kurasi, dan pengolahan, semakin baik pula cita rasa yang sampai ke cangkir hasil kerja keras panjang dari kebun hingga pengolahan.

  • Membeli produk UMKM kopi lokal berarti menopang ekonomi daerah penghasil kopi, bukan sekadar transaksi biasa sebagian usaha ini menjalankan program edukasi dan pemberdayaan petani.

  • Isu regenerasi petani relevan buat siapa pun, bukan cuma warga Aceh kalau generasi muda terus enggan menjadi petani, dampaknya bisa dirasakan lewat pasokan kopi berkualitas di masa depan.

 

Penguatan ekosistem kopi Indonesia dari hulu ke hilir adalah upaya bersama setiap cangkir yang Sobat Rupiah nikmati membawa cerita kesejahteraan yang lebih panjang, bagi petani, daerah penghasil kopi, dan keberlanjutan kopi Indonesia di pasar dunia.



Lampiran
Kontak
Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB​​​​​​​​​​​​​​
Halaman ini terakhir diperbarui 8/20/2026 7:42 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?
Tag :

Baca Juga