Cerita BI

BI Icon

​​​​Departemen Komunikasi​

8/23/2026 2:00 PM
Hits: 32

Koperasi Petani, Solusi Kolektif Memperkuat Harga Kopi

Kopi adalah anugerah bagi tanah asal dan para petaninya.”

Begitulah kiranya kepercayaan yang tumbuh di antara pecinta kopi dan pelaku bisnisnya. Selain bikin melek dan memberi dopamin kebahagiaan, ada mata rantai panjang yang menghidupi banyak orang dari nilai ekonomis kopi. Dari kebun, tangan petani, barista, hingga cangkir konsumennya.

Tren kopi pun terus berkembang. Di Indonesia bahkan tercatat sekitar 461.991 titik lokasi coffee shop per November 2025, menjadikannya negara dengan kedai kopi terbanyak di dunia, mengungguli China dan Amerika Serikat.

Tapi masalahnya, saat bisnis kopi tumbuh sebesar itu, apakah manfaatnya kembali ke petani di kebun?

Di Desa Dombu, Marawola Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pertanyaan itu dijawab lewat Koperasi Petani Kopi Kamanuru, salah satu UMKM binaan BI KPw Sulawesi Tengah.
Harga Kopi di Daerah Masih Rendah

Semua bermula dari keresahan pada 2017–2018, saat harga green bean asalan masih berkisar Rp20.000–Rp30.000 per kilogram.

“Nyaris tak bernilai ekonomi. Saking rendahnya harga kala itu, tak sedikit petani menebang pohon Arabika sendiri, karena biji besar dianggap kurang laku dibanding Robusta,” ujar Bobby, Divisi Pemasaran Kopi Kamanuru.

Dari keresahan itu, petani membentuk Himpunan Petani Kopi Kamanuru, yang berkembang menjadi koperasi untuk membeli cherry langsung dari petani, mengolahnya, lalu menjualnya dengan nilai lebih baik.

Varietas unggulannya adalah Tipika, dengan karakter rasa fruity nanas, jeruk, dan beri, disertai aroma floral jasmin. Ada juga Linies dan Katimor, tapi Tipika-lah yang produksinya paling sedikit namun paling dicari.
Membangun Koperasi untuk Solusi Bersama

Koperasi ini kini beranggotakan sekitar 30 orang, mengorganisasi 40–50 petani di lahan sekitar 40 hektare. Kebun tetap milik masyarakat, sementara koperasi mengurus pengolahannya, tanpa pemilik tunggal. Setiap anggota adalah pemilik bersama.

Modal awalnya sederhana: sekitar 20 orang patungan dari hasil 10 kilogram cokelat untuk membeli cherry pertama. Dari situ, mereka belajar mandiri selama tiga tahun, mulai pembenihan, budidaya, pengolahan pascapanen, hingga roasting, sekaligus bertukar ilmu dengan pelaku kopi luar Sulawesi Tengah. Satu pelajaran penting: dari 7 kilogram cherry hanya dihasilkan 1 kilogram green bean.

Kenapa harus koperasi, bukan usaha perorangan? Sebab petani sendirian sulit menegosiasikan harga, apalagi menjaga kualitas dan konsistensi pasokan ke pembeli besar. Petani pun tak lagi harus menjemur dan mengolah sendiri hasil panen, pekerjaan berat di daerah yang sering diguyur hujan.
“Lewat koperasi, posisi tawar petani jauh lebih kuat. Harga cherry stabil, alat dan proses pengolahan dipakai bersama, dan risiko gagal jual ditanggung kolektif,” ujar Bobby.

Tujuannya sederhana: petani menikmati kopi dari kebun sendiri tanpa membeli dari luar, menabung uang belanja kopi untuk kebutuhan seperti pendidikan anak, sementara kelebihan produksi dijual sebagai tambahan penghasilan. Bagi hasil koperasi kini bisa mencapai Rp2–3 juta per anggota per tahun, nilai yang mustahil didapat kalau petani berjalan sendiri-sendiri.
Dari Desa, Menembus Pasar Lebih Luas!

Kamanuru kini punya pelanggan individu, kafe, dan roastery di sekitar Palu, serta bermitra dengan pelaku usaha di Jakarta untuk green bean. Setiap biji yang sampai ke tangan barista adalah hasil rantai panjang menjaga kualitas, dari pemilihan cherry, proses natural yang dijaga ketat, hingga roasting yang disesuaikan karakter rasa.

Namun tantangan masih ada. “Ada pembeli minta 300 kilogram per bulan, sementara koperasi baru sanggup memenuhi 100 kilogram, karena bahan baku cherry masih terbatas akibat penanaman ulang yang baru berjalan tiga tahun,” ujar Bobby.

Pengemasan masih manual, kebutuhan kemasan tertentu didatangkan dari Jakarta, dan toko ritel sendiri belum ada. Mereka masih mengandalkan sistem pre-order demi menjaga kesegaran kopi. Di sisi lain, minat kopi Arabika di Sulawesi Tengah mulai tumbuh, meski masih ada anggapan keliru bahwa Arabika bikin asam lambung, sesuatu yang terus perlu mereka edukasi ke masyarakat setempat.
BI Hadir Memperkuat Sisi Produksi

Kualitas kopi yang baik saja tidak cukup jika sisi produksinya belum mengimbangi permintaan pasar. Di sinilah pendampingan BI berperan, memperkuat fondasi produksi Kamanuru agar naik kelas tanpa mengorbankan kualitas.

Selama sekitar tiga tahun menjadi binaan BI KPw Sulawesi Tengah, dukungan yang diberikan BI meliputi:

  • Dukungan peralatan produksi, berupa mesin wash, pengupas, ayakan, hingga alat sangrai

  • Penguatan rumah produksi

  • Pelatihan manajemen keuangan, bermanfaat bagi koperasi yang dulu kerap bingung soal selisih uang kas

  • Perluasan akses pasar lewat pameran dan promosi

  • Penguatan jejaring dengan pelaku industri kopi lain


Dampaknya nyata!
Pesanan 20 kilogram yang dulu perlu tiga hari tiga malam dengan mesin manual, kini pesanan 50 kilogram selesai dalam satu hingga dua hari.

Kamanuru sudah mengikuti World of Coffee Jakarta 2025, dan tahun ini kembali hadir di Karya Kreatif Indonesia 2026, ruang belajar sekaligus tempat menerima masukan.

Sebagai bagian dari komitmen BI memperkuat ekosistem kopi nasional dari hulu ke hilir, dukungan terhadap UMKM kopi secara umum, termasuk Kamanuru di dalamnya, diperkuat lewat Cangkir Barista, program unggulan Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu 2026. BI menargetkan 400 barista bersertifikat internasional setiap tahun, dengan satu syarat: barista yang lolos wajib membina petani kopi, dari cara memilih cherry hingga memilah kualitas biji, sehingga barista dan petani sama-sama terangkat.

Meski begitu, mereka jujur mengakui: urusan budidaya dan pascapanen lanjutan masih dipelajari sendiri, artinya masih ada ruang untuk dukungan lanjutan di sisi ini.
Membidik Pasar Baru, dari Hulu ke Hilir

Kamanuru kini menanam sekitar 10 ribu bibit kopi untuk mendongkrak produksi tahun depan, sembari membidik pasar kopi bubuk dan sasetan bagi masyarakat perdesaan, serta merencanakan pusat edukasi kopi di Marawola Barat.

Cerita Kamanuru adalah potret kecil dari rantai nilai kopi yang lebih besar. Petani di kebun, koperasi yang mengolah, barista yang meracik, hingga Sobat Rupiah yang menyeruput kopi di kafe, semua saling menghidupi. Kopi enak di cangkir tak akan ada tanpa petani yang dihargai layak di hulunya.

Kisah inspiratif dari UMKM Kopi Kamanuru membuktikan, ketika petani ikut membangun rantai nilai, secangkir kopi bisa membawa manfaat yang jauh lebih besar, hingga kembali ke desa asalnya, tanah tempat ia tumbuh.

Jadi Sobat, lain kali saat menyeruput kopi favorit, coba tanya asalnya dari mana, bisa jadi Sobat sedang menopang mimpi dan kehidupan seorang petani di lereng pegunungan yang entah jauh disana.




Lampiran
Kontak


​​Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB​​​​​​​​​​​​​​

Halaman ini terakhir diperbarui 8/23/2026 7:03 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?
Tag :

Baca Juga