Kopi arabika dari dataran tinggi Bajawa, Flores, tumbuh di ketinggian 1.200–1.800 meter di atas permukaan laut dan pernah mendapat nilai kualitas 85,50 dari skala 100 oleh Specialty Coffee Association, lembaga penilai kopi internasional. Kawasan ini juga telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis sejak 2012, yang menjadi jaminan resmi atas kekhasan kopi asal wilayah tersebut.
Salah satu kelompok yang membawa kopi Bajawa ke pasar dunia adalah Kaghomasa, yang digagas sejak 2013 oleh Marsalina Walu atau yang akrab disapa Mama Lina.
Dari Kelompok Tani ke Meja Kopi Amerika
Kaghomasa berawal dari kelompok tani sederhana yang, menurut Mama Lina, saat itu belum banyak memahami seluk-beluk dunia perkopian. Para anggota memproduksi kopi dari rumah masing-masing, kemudian mengumpulkannya sebagai satu produk kelompok. Dari pasar lokal, Kaghomasa terus memperluas pengalaman dengan mengikuti berbagai pameran dan bertemu calon pembeli dari berbagai negara.
Salah satu momentum penting terjadi saat Kaghomasa mengikuti World of Coffee 2025. Di ajang tersebut, mereka bertemu dengan buyer dari Amerika Serikat yang kemudian membuka jalan bagi kopi Kaghomasa untuk masuk ke pasar Negeri Paman Sam. Kini, Amerika Serikat menjadi salah satu pasar terbesar Kaghomasa dalam dua tahun terakhir.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa akses pasar dapat membuka pintu, tetapi kualitas dan kesiapan UMKM yang membuat peluang itu menjadi nyata. Hal serupa juga dirasakan Kaghomasa melalui business matching, sebuah forum yang mempertemukan UMKM dengan calon pembeli dari berbagai negara. Bagi Mama Lina dan tim, pertemuan seperti ini bukan sekadar kesempatan memperkenalkan produk, tetapi juga ruang untuk memahami standar buyer, informasi harga, kebutuhan pasar, hingga karakter bisnis internasional.
Ketika pintu pasar semakin terbuka, Kaghomasa pun memiliki ruang untuk menunjukkan kualitas kopi Bajawa yang mereka bawa. Di KKI 2026, perjalanan membangun jejaring tersebut kembali berlanjut dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (NK) bersama buyer baru. Momen tersebut menunjukkan bagaimana akses, jejaring, dan kesiapan UMKM dapat saling melengkapi untuk membawa peluang pasar menuju kerja sama yang lebih konkret.
Belajar Dunia Ekspor Lewat Business Matching
Bagi mama Lina, keikutsertaan dalam business matching memberi manfaat yang lebih dari sekadar transaksi. Lewat kesempatan bertemu langsung dengan buyer luar negeri, ia dan tim jadi mengenal cara kerja pasar internasional mulai dari informasi harga, standar yang diminta buyer, hingga proses ekspor yang sebelumnya terasa asing. Pengetahuan semacam ini yang sulit didapat kalau hanya mengandalkan penjualan di pasar lokal.
Meski begitu, business matching juga punya tantangannya sendiri. Harga yang ditawar buyer luar negeri, menurut mama Lina, terkadang justru lebih rendah dibanding harga di pasar lokal situasi yang mengharuskan Kaghomasa pandai memilah peluang mana yang benar-benar menguntungkan. Di sisi lain, permintaan ekspor yang tinggi juga jadi tantangan tersendiri: karena Kaghomasa memproduksi kopi specialty, volume produksinya terbatas.
Kualitas yang Diakui, Persaingan yang Makin Ramai
Di tengah tantangan itu, ada satu capaian yang membanggakan: kualitas kopi Kaghomasa pernah diakui sebagai produk nomor satu oleh buyer internasional. Pengakuan seperti ini penting, karena persaingan di Bajawa sendiri cukup ramai banyak penggiat kopi lain yang juga memperebutkan perhatian pasar yang sama, termasuk dari investor besar yang turut mengincar lahan-lahan petani setempat.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah persaingan ini, Kaghomasa mengandalkan kebun sendiri sebagai strategi utama memastikan pasokan tetap terjaga tanpa terlalu bergantung pada pihak luar. Langkah ini sekaligus jadi bentuk kemandirian yang membuat kelompok tani ini tetap bertahan di industri kopi, sekaligus menjaga agar lahan-lahan kopi di Bajawa tidak beralih fungsi ke penggunaan lain.
Satu Cangkir, Dukungan bagi Banyak Petani
Bagi Sobat Rupiah, membeli kopi dari kelompok seperti Kaghomasa berarti ikut menjaga keberlangsungan usaha petani kopi lokal di tengah gempuran investor besar yang juga mengincar pasar yang sama. Setiap pembelian langsung turut membantu petani-petani di Bajawa tetap bertahan dan berkembang di industri yang mereka tekuni sejak lama.
Harapan mama Lina ke depan sederhana: Kaghomasa ingin terus tumbuh sebagai produsen yang mampu memenuhi permintaan pasar, tanpa kehilangan jati diri sebagai kopi specialty asal dataran tinggi Bajawa. Dari kelompok tani kecil yang dulu belajar dari nol, kini Kaghomasa membuktikan bahwa kopi Indonesia dengan kualitas dan cerita dibaliknya punya tempat sendiri di meja-meja kopi dunia.