Cerita BI

BI Icon

​​​​Departemen Komunikasi​

8/22/2026 7:30 PM
Hits: 43

Generasi Muda, Penjaga Warisan yang Berani Berubah

Sobat Rupiah tahu tidak, sektor wastra dan kriya Indonesia seperti batik, tenun, songket, dan sejenisnya ditopang sekitar 47.700 unit usaha dengan 1,5 juta tenaga kerja. Tapi di balik angka itu, ada persoalan yang jarang dibicarakan terbuka: krisis regenerasi. 

Mayoritas pengrajin di sektor ini berusia lanjut, sementara transfer keterampilan dan kepemimpinan usaha ke generasi berikutnya berjalan lambat. Rasio kewirausahaan Indonesia sendiri baru sekitar 3,47 persen jauh dari angka minimal 4 persen yang biasa jadi syarat sebuah negara disebut maju. 

Isu inilah yang jadi sorotan Youth Talk di Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 hari ini, bertema Kreasi Karya, Generasi Berdaya, menghadirkan Rosita Dewi (Kepala Grup Ekonomi Keuangan Inklusif DEIH BI), Dr. Suhendi (Dosen Sekolah Bisnis IPB University), Ryandika Terra Gandewa (Owner LAMOPS Craftworks), dan Hisyam Suleiman (Direktur EB Batik).

Regenerasi Bukan Sekadar Pergantian Generasi

Menurut Dr. Suhendi, Dosen Sekolah Bisnis IPB University, regenerasi usaha sering disalahpahami sebagai sekadar memindahkan tongkat estafet dari orang tua ke anak. Padahal, generasi lama biasanya sudah punya keterampilan, tradisi, produk, dan relasi  tapi itu saja tidak cukup. Generasi baru perlu membawa hal lain: kepekaan terhadap pasar, kemampuan desain dan inovasi, penguasaan digital dan branding, kesadaran keberlanjutan, hingga model bisnis yang lebih relevan.
Baginya, regenerasi sejati bukan sekadar meneruskan usaha, melainkan meneruskan nilai sambil berani mengubah cara nilai itu diciptakan dan setiap UMKM butuh pendekatan berbeda, karena tidak semua punya masalah yang sama. Pesannya untuk generasi penerus sederhana tapi tajam, jangan hanya meneruskan usaha, buat usaha itu layak diteruskan.
Sementara itu, Ryandika Terra Gandewa dari LAMOPS Craftworks menyoroti persoalan yang lebih personal yaitu benturan ego antargenerasi. Orang tua punya ego mempertahankan tradisi, sementara anak punya ego untuk berubah. Tugas generasi muda, menurutnya, adalah menjembatani keduanya karena tradisi dan inovasi semestinya berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.

Ketika Teori Bertemu Kenyataan: Cerita dari Cirebon

Apa yang disampaikan di panggung talkshow ini punya wajah nyata dalam kisah Hisyam Suleiman, generasi kedua EB Batik di Cirebon, produsen batik yang berdiri sejak 1978. Hisyam mulai membantu bisnis keluarga sejak usia 20-an sambil kuliah, dan sempat ragu untuk benar-benar melanjutkan usaha ini sampai seorang mentor bisnis mengatakan "kalau bukan kamu yang melanjutkan, lalu siapa lagi?" Sejak 2016, ia memutuskan fokus penuh di EB Batik.
Benturan ego yang disebut Ryandika juga ia rasakan langsung. Banyak pengrajin senior meremehkan pendekatannya, kerap membandingkan caranya dengan "zaman dulu waktu papa" atau "zaman ibu". butuh sekitar lima tahun bagi Hisyam untuk idenya benar-benar didengarkan, dan budaya kerja yang sudah melekat bertahun-tahun perlu ketegasan untuk diubah.​
Salah satu perubahan konkret yang ia terapkan adalah membuat rancangan desain digital sebelum produksi dimulai. Dulu, batik dikerjakan tanpa gambar acuan yang jelas, sehingga hasil akhirnya bisa meleset dari harapan pembeli. Perubahan kecil ini berdampak langsung ke konsumen, dengan rancangan digital yang disesuaikan pesanan, hasil kain jadi lebih presisi, penting di tengah pembeli yang makin jeli membandingkan harga, kualitas, dan kecocokan warna sebelum membeli.

Inovasi yang Berdampak Sampai ke Sawah Tetangga

Bagi Hisyam, inovasi tidak berhenti di desain. Produksi batik menghasilkan limbah kimia dari pewarna, lilin, minyak, hingga deterjen yang selama ini mencemari sawah di sekitar. Berangkat dari keprihatinan itu, ia mengajak temannya lulusan teknik merancang alat pengolah limbah batik sejak 2021, mulai direalisasikan sebagai prototipe pada 2022, dan pada 2025 alat tersebut di-upgrade dengan dukungan Bank Indonesia sehingga bisa beroperasi lebih optimal. Air limbah yang tadinya keruh kini bisa diproses kembali menjadi jernih, dengan dua unit alat yang sudah dipasang untuk pemakaian komunal di desa tersebut.
Bagi warga sekitar, ini berarti sawah dan lingkungan yang tidak lagi tercemar oleh limbah produksi bukti bahwa inovasi generasi muda bisa berdampak jauh melampaui bisnis keluarganya sendiri.

Satu Pembelian, Manfaat untuk Banyak Orang

Ketika masyarakat membeli produk di EB Batik, secara tidak langsung mereka membantu setidaknya sepuluh orang bukan cuma pengrajin batiknya, tapi juga warga sekitar yang berjualan kebutuhan sehari-hari kepada para pengrajin tersebut. 
Efek berantai semacam ini membuatnya yakin bahwa ekosistem batik tidak bisa dibangun segelintir orang saja, melainkan butuh keterlibatan banyak pihak sekaligus sejalan dengan pesannya untuk generasi muda lain: pahami dulu tujuan dan arah kreasinya, jangan sekadar ikut tren, karena tanpa keunikan yang jelas, usaha akan sulit bertahan.
Dari panggung Youth Talk terlihat jelas: regenerasi bukan cuma soal siapa yang meneruskan usaha, tapi soal keberanian mengubah cara usaha itu menciptakan nilai bagi pemiliknya, bagi pembelinya, dan bagi lingkungan di sekitarnya.

Lampiran
Kontak
Halaman ini terakhir diperbarui 8/22/2026 7:32 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?
Tag :

Baca Juga