Blue Economy: Peluang Baru dari Laut!
Pernah dengar istilah blue economy, Sobat Rupiah?
Sederhananya, blue economy adalah pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, tanpa merusak ekosistem laut.
Kini, laut semakin dilihat sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Indonesia pun punya modal besar, dengan wilayah laut yang luas dan jutaan masyarakat yang menggantungkan hidup pada pesisir. Di tengah peluang tersebut, generasi muda punya peran penting untuk memastikan potensi laut dapat terus dikembangkan dengan cara yang inovatif dan berkelanjutan.
Salah satunya LAMOPS, UMKM Binaan Bank Indonesia KPw Nusa Tenggara Barat (NTB) yang telah berkecimpung di bidang kriya sejak 2001. Usaha keluarga yang kini memasuki generasi kedua ini memanfaatkan kulit kerang mutiara untuk berbagai produk kriya dan aksesori premium. Lewat teknik Terawang, kulit kerang yang sebelumnya menjadi limbah di-upcycle menjadi produk bernilai.
Namun, nilai itu tak berhenti pada produk. LAMOPS juga membuka peluang bagi masyarakat pesisir NTB untuk memperoleh keterampilan dan sumber penghasilan baru. Tahun ini, karya LAMOPS berkesempatan tampil di Karya Kreatif Indonesia 2026.
Mengubah Limbah Jadi Produk Bernilai
Lombok dikenal sebagai salah satu sentra mutiara. Namun, ketika mutiara diambil, kulit kerang masih menyisakan persoalan: ke mana limbahnya pergi?
LAMOPS melihatnya sebagai peluang. Kulit kerang diolah menjadi produk kriya, sekaligus membuka ruang pemberdayaan bagi masyarakat pesisir.
Setiap tahun, LAMOPS memberikan pelatihan, terutama kepada anak-anak muda di wilayah pesisir. Mereka diajarkan mengolah kulit kerang menjadi produk kriya, bahkan beberapa kemudian mampu membuka usaha sendiri.
Bagi LAMOPS, keterlibatan anak muda bukan hanya tentang menambah jumlah pengrajin. Lebih jauh, mereka menjadi bagian penting dari regenerasi keterampilan sekaligus membuka kemungkinan lahirnya ide dan usaha baru dari potensi yang ada di daerahnya.
“Beberapa peserta bahkan kemudian mampu membuka usaha sendiri,” ujar Tera, generasi kedua LAMOPS.
LAMOPS percaya, semakin banyak limbah yang di-upcycle, semakin besar pula peluang ekonomi yang tercipta. Pemberdayaan pun tak berhenti pada keterampilan, tetapi membuka pilihan sumber penghasilan baru bagi masyarakat pesisir.
Menjembatani Dua Generasi
Perjalanan LAMOPS naik kelas juga tak lepas dari tantangan regenerasi usaha keluarga.
Tera mulai terlibat sejak 2011, saat masih kuliah, dari sisi marketing. Setelah sempat bekerja di Jakarta, ia kembali ke Lombok pada 2020 akibat pandemi COVID-19.
Kepulangannya menjadi titik balik. Sebagai generasi kedua, Tera membawa perspektif baru tentang digitalisasi dan pemasaran, sementara generasi pertama memiliki pengalaman puluhan tahun menjalankan usaha. Tujuannya sama, tetapi cara pandangnya berbeda.
Di tengah perbedaan itu, program Wirausaha Bank Indonesia (WUBI) hadir sebagai jembatan. Melalui pendampingan dan belajar bersama, dua generasi mulai menemukan bahasa yang sama. Struktur usaha dibenahi, peran diperjelas, dan pengalaman generasi pertama berjalan beriringan dengan perspektif generasi kedua.
“WUBI itu menjadi mediator. Kami dijembatani belajar bersama, akhirnya punya bahasa yang sama, irama yang sama, dan pada akhirnya visi yang sama,” ujar Tera.
Membenahi Pembukuan hingga Digitalisasi
Dukungan BI juga membantu LAMOPS membenahi fondasi bisnisnya.
Sebelumnya, pencatatan keuangan masih dilakukan secara manual dan sederhana. Setelah mendapat pendampingan, LAMOPS mulai membenahi pembukuan, memisahkan keuangan usaha dan keluarga, hingga menghitung cost of goods sold (COGS).
Hal ini sejalan dengan dorongan BI untuk meningkatkan literasi pencatatan keuangan UMKM melalui Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK), yang membantu UMKM memahami kondisi keuangan dan mendukung akses pembiayaan serta pengembangan usaha.
Di sisi pemasaran, LAMOPS juga mulai beradaptasi dengan digitalisasi. Media sosial dipahami sebagai “etalase digital”, layaknya pameran yang selama ini menjadi cara mereka bertemu pelanggan.
Sebagai UMKM Binaan, dukungan dari BI hadir melalui berbagai cara:
- Pendampingan WUBI, dalam membenahi pengelolaan usaha.
- Pembukuan dan literasi keuangan, termasuk pengenalan SIAPIK agar pencatatan usaha lebih tertata.
- Penguatan digitalisasi pemasaran, dari konvensional menuju pemanfaatan media sosial.
- Peningkatan kapasitas usaha, termasuk keselamatan kerja (K3) dan penguatan produksi.
- Penguatan praktik usaha berkelanjutan, termasuk pemanfaatan Kalkulator Hijau untuk membantu UMKM memahami dan menghitung jejak emisi usahanya.
- Perluasan akses pasar, melalui pameran, showcasing, hingga kesempatan membawa produk ke luar negeri, seperti Singapura.
Dukungan tersebut diberikan BI karena dampak LAMOPS tidak hanya dirasakan oleh bisnis, tetapi juga banyaknya masyarakat pesisir yang terlibat dalam rantai produksinya.
Pasar Blue Economy Masih Seksi!
LAMOPS mulai masuk pasar Business to Business (B2B) sejak 2022 dan menerima pesanan custom. Produknya juga mulai menjangkau pasar luar negeri, dengan Singapura yang sedang berjalan dan Italia dalam proses. Kapasitas produksinya sekitar 300 pieces per bulan, tergantung tingkat kerumitan desain. Pasar global pun masih terbuka bagi produk berbahan kulit kerang.
“Di luar negeri, kerang banyak digunakan sebagai material dekoratif dan inlay (teknik menyisipkan material sebagai hiasan). Bahkan di Jepang ada teknik Raden (seni hias menggunakan cangkang kerang) yang menggunakan kerang untuk inlay, dan produknya bisa bernilai sangat tinggi,” ujar Tera.
Tantangannya adalah mengolah bahan baku yang melimpah menjadi produk berkualitas, memiliki pasar, dan tetap berkelanjutan.
Di sinilah blue economy bertemu dengan ekonomi lokal. Ketika desa pesisir berkembang menjadi destinasi wisata, ikut tumbuh pula kebutuhan akan oleh-oleh, kriya, makanan, transportasi, dan usaha kecil lainnya. Bahkan dari sesuatu yang awalnya dianggap limbah, bisa lahir nilai tambah yang menggerakkan ekonomi di sekitarnya.
Tumbuh Lahirkan Dampak
Setelah 25 tahun, LAMOPS tak lagi melihat pertumbuhan hanya dari seberapa banyak produk yang terjual. Visinya lebih jauh: memberdayakan masyarakat, menciptakan dampak, dan membangun ekonomi yang berputar di wilayah pesisir.
Dari kulit kerang yang semula menjadi limbah, lahir produk bernilai. Dari produk, tercipta pekerjaan. Dari keterampilan, lahir pengrajin baru.
“Bukan sekadar mengejar profit. Kami ingin punya dampak yang lebih jauh, lebih banyak buat masyarakat dan membangun ekonomi sirkular dari sana,” ujar Tera.
Karena pada akhirnya, UMKM naik kelas bukan hanya ketika produknya semakin mahal atau pasarnya semakin luas. Tetapi ketika pertumbuhannya ikut menciptakan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, membuka ruang bagi generasi muda untuk berkarya dan berkontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia.
Dari laut, lahir sebuah usaha. Pengalaman menjadi fondasi, perspektif baru membawa perubahan, dan regenerasi menjaga keberlanjutannya.