Di Minangkabau, kebiasaan itu tumbuh dari keseharian. Alam dimanfaatkan secukupnya, tanpa merusaknya. Salah satunya mansiang, rumput rawa yang tumbuh liar di lahan tak produktif. Dulu dianggap gulma dan hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan sederhana, seperti wadah beras untuk melayat atau bekal ke ladang.
Kini, di tangan kreatif perempuan, mansiang menjelma menjadi produk kriya premium bernilai tinggi yang sejalan dengan gaya hidup berkelanjutan dan minim limbah. Yang dulu dianggap remeh, hari ini bertransformasi menjadi merek kriya kontemporer bernama Sakombu, UMKM Binaan BI KPw Sumatera Barat. Sakombu membuktikan, dari alam yang dirawat dan tradisi yang dijaga, tangan-tangan perempuan mampu menghasilkan karya berdaya saing global.
Cerita itu pun dibawa Sakombu ke Panggung Karya Kreatif Indonesia 2026.
Dari yang 'Terlupakan' Menjadi Bernilai
Sakombu lahir dari tangan Dewi Febriana, Founder sekaligus Creative Director. Berawal sebagai desainer di Jakarta, Dewi pindah ke Bali pada 2018. Saat pulang kampung ke Piyobang, Kabupaten Lima Puluh Kota, ia melihat potensi mansiang yang selama ini terlewat.
Ia menyebut proses itu sebagai “membangki batang terandam”. Filosofi Minangkabau untuk mengangkat kembali sesuatu yang telah terlupakan.
Bersama para perajin, Dewi mulai mengembangkan mansiang menjadi berbagai produk, dari basket dan home decor hingga tas. Prosesnya tidak instan. Bertahun-tahun ia lalui dengan riset, trial and error, hingga akhirnya tas backpack yang dikembangkan sejak 2019 meraih Good Design Indonesia dan G-Mark Good Design Award Jepang pada 2023.
Dari rumput yang dulu dipandang sebelah mata, Sakombu pun tumbuh menjadi karya yang membawa kearifan lokal Minangkabau ke panggung Karya Kreatif Indonesia 2026.
Dukungan BI dari Hulu ke Hilir!
Sejak bergabung sebagai binaan Bank Indonesia pada 2024, Sakombu mendapat pendampingan yang menyeluruh, bukan sekadar bantuan sesaat. Beberapa bentuk dukungannya, diantaranya:
Pelatihan bisnis dan costing, termasuk perhitungan HPP dan strategi harga jual agar produk lebih bernilai.
Onboarding media sosial, untuk memperluas jangkauan pasar secara digital.
Pendampingan kurasi produk, hingga Sakombu lolos seleksi untuk tampil di KKI 2026.
Fasilitasi pameran internasional, termasuk keikutsertaan di Spring Fair London 2026, Inggris.
"Yang saya suka dari BI, kita dari hulunya sampai hilirnya itu dikasih jalan, difasilitasi. Enggak berhenti di pelatihan doang, tapi juga dikasih wadah untuk tampil," ujar Dewi.
Perempuan sebagai Aktor UMKM Sustainable
Sakombu digerakkan sepenuhnya oleh tangan perempuan. Sekitar 10 artisan master mengerjakan lini premium, ditambah puluhan perajin untuk produk home decor. Mayoritas ibu rumah tangga yang awalnya menganyam sebagai pekerjaan sampingan, kini menjadikannya sumber penghasilan utama. Bahkan, artisan tertua yang masih aktif berusia 82 tahun.
Namun, keberdayaan di Sakombu bukan sekadar soal penghasilan. Perempuan juga diberi ruang untuk berkembang dan mengambil keputusan.
Dewi memegang arah kreatif dan bisnis sebagai pemimpin perempuan. Di tingkat perajin, ruang yang sama perlahan terbuka. Dari yang awalnya hanya mengikuti desain, kini sebagian perajin mulai berani menentukan sendiri warna dan motif yang mereka sukai.
Prosesnya tidak selalu mudah. Banyak perajin awalnya ragu dengan desain dan warna baru yang dianggap aneh. Dewi pun memilih tinggal berhari-hari di rumah mereka, membangun kepercayaan dan meyakinkan bahwa keahlian serta suara mereka punya nilai.
Sakombu menunjukkan, perempuan bukan sekadar penerima manfaat pemberdayaan. Mereka adalah penggerak ekonomi.
Dari 65,5 juta pelaku UMKM Indonesia, 64,5% dikelola perempuan, dengan kontribusi 61% terhadap PDB sektor UMKM. Karena itu, pemberdayaan perempuan perlu memberi mereka kapasitas, ruang untuk berpartisipasi, kendali, sekaligus manfaat dari aktivitas ekonomi yang mereka jalankan.
Membangkitkan Ekonomi Kampung
Ketika mansiang naik kelas, dampaknya ikut menghidupkan ekonomi kampung Piyobang. Lahan rawa yang dulu tak produktif kini menjadi sumber bahan baku. Lapangan kerja pun terbuka bagi perempuan, dari ibu rumah tangga hingga mahasiswa.
Saat pesanan ramai, pendapatan perajin ikut meningkat. Rumah yang dulu belum berloteng, kini sudah bertingkat.
Bukan hanya pendapatan yang tumbuh, keterampilan perajin pun berkembang. Standar kualitas dijaga lewat SOP. Dulu, mengajari perajin membaca penggaris saja butuh proses panjang. Kini, mereka terbiasa membaca lembar produksi dan bekerja sesuai toleransi ukuran yang ditetapkan.
Karena pemberdayaan bukan hanya soal memberi kesempatan bekerja, tetapi juga membangun keterampilan, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk tumbuh bersama usaha yang dijalankan.
Potensi Ekonomi dari UMKM Hijau
Mansiang dipanen setiap sembilan bulan tanpa perlu ditanam ulang. Seratnya lentur, tidak mudah patah, dan punya aroma khas rumput kering yang justru menjadi daya tarik bagi pelanggan Jepang dan ekspatriat.
Perpaduan bahan alami, proses yang berkelanjutan, dan desain kontemporer membuat Sakombu mampu masuk ke pasar yang semakin peduli pada produk ramah lingkungan.
Perjalanannya dimulai sederhana. Dewi menjajakan produk dari satu art market ke art market lain di Canggu, Ubud, dan Sanur dengan sepeda motor. Hingga kemudian dilirik trader Jepang dan concept store di Bali.
Kini, Sakombu menjangkau pasar Jabodetabek, Bali, Australia, Jepang, hingga Eropa melalui trader. Produk Sakombu juga digunakan sebagai amenities di sejumlah hotel butik di Bali, dengan harga mulai Rp150 ribu untuk suvenir.
Sakombu menunjukkan bahwa sustainability bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga menciptakan usaha yang mampu bertahan, tumbuh, dan terus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya. Bukti bahwa alam dan pemberdayaan, seperti alam dan ibu, bisa tumbuh berdampingan dari akar yang sama: menciptakan nilai untuk hari ini, tanpa menghabiskan peluang untuk generasi esok.