Berita Terkini (Siaran Pers)

BI Icon

​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​Departemen Komunikasi​​​​​​​​​​​​​​​​​​​

9/15/2026 10:00 AM
Hits: 202

Kajian Stabilitas Keuangan 47: Menjaga Resiliensi Sistem Keuangan, Memperkuat Momentum Pertumbuhan Ekonomi

Siaran Pers
Press Releases

No. 28/187/DKom

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, sistem keuangan Indonesia tetap kuat dan solid, pertumbuhan ekonomi tetap baik, dan stabilitas makroekonomi tetap terjaga. Layaknya akar bambu yang kokoh untuk bertahan menghadapi tekanan namun lentur mengikuti arah angin, demikian pula sistem keuangan kita dengan fundamental ekonomi yang kuat dalam menghadapi guncangan, namun tetap responsif dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi. Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, dalam peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan No. 47, Agustus 2026 (KSK No. 47) di Bank Indonesia, Jakarta (14/9). Peluncuran dihadiri oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dan Sekretaris KSSK, Arief Wibisono. Turut hadir pula perwakilan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), LPS, perbankan, industri keuangan non bank, asosiasi, ekonom, dan akademisi.

Solikin menekankan pentingnya memaknai RESILIENSI melalui empat prinsip. RE – Responsif dalam membaca perubahan gejolak global, SI – Sinergi antar kementerian, lembaga, otoritas dan industri, LIEN – Lincah dan Enduring dalam beradaptasi serta bertahan, dan SI – Siaga mengantisipasi kerentanan dan menjaga ketahanan sistem keuangan dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.

Sistem keuangan yang resilien tidak hanya mampu bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga harus mampu mengubah ketahanan sistem keuangan menjadi pembiayaan yang lebih kuat bagi perekonomian, demikian ditambahkan Solikin. Untuk mendukung momentum tersebut, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan makroprudensial yang longgar guna mendorong intermediasi perbankan ke sektor-sektor produktif dan prioritas. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) serta implementasi program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI), dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential principle). Dengan ketahanan yang solid dan ruang pembiayaan yang masih terbuka lebar, Bank Indonesia optimis kredit/pembiayaan perbankan pada tahun 2026 mampu tumbuh pada kisaran 8–12%.

Untuk saling memperkuat pemahaman dan optimisme pelaku industri keuangan mengenai perkembangan stabilitas sistem keuangan terkini serta upaya bersama mendorong kontribusi intermediasi terhadap pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia menyelenggarakan seminar nasional bertema “Resiliensi Sistem Keuangan sebagai Fondasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia". Seminar nasional menghadirkan narasumber Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Dhaha Praviandi K. yang menyampaikan peran kebijakan Makroprudensial dalam menjaga resiliensi; Direktur Perencanaan Fiskal, Moneter, dan Sektor Keuangan Kementerian PPN, Tari Lestari yang memaparkan kebutuhan pembiayaan yang selaras dengan arahan pembangunan nasional; dan Ketua Umum APINDO, Shinta Widjaja Kamdani yang menjelaskan permasalahan yang terjadi dari sisi pelaku usaha. Ketiga narasumber menekankan kebutuhan untuk terus mendorong optimisme dan menguatkan sinergi dalam berkontribusi menyelesaikan permasalahan struktural yang menjadi kendala dari sisi pelaku usaha agar pertumbuhan intermediasi lebih tinggi. Seminar dilengkapi dengan penyampaian testimoni bagaimana menggiatkan ekonomi melalui pembiayaan produktif oleh Sekretaris Himpunan Bank Milik Negara, Eko Setyo Nugroho.

Buku KSK No. 47 mengusung tema “Menjaga Resiliensi Sistem Keuangan, Memperkuat Momentum Pertumbuhan Ekonomi". Tema ini menegaskan bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia pada semester I 2026 tetap kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global, ditopang oleh likuiditas dan permodalan perbankan yang memadai dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Juni 2026 sebesar 23,70% serta risiko kredit yang tetap rendah dengan Rasio Kredit Bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) sebesar 2,09% (bruto) dan 0,82% (neto) pada Juni 2026. Ketahanan tersebut memperluas ruang intermediasi bagi perbankan untuk terus mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Peluncuran buku KSK No. 47 diharapkan menjadi referensi strategis bagi pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat luas. Terbitnya kajian ini juga diharapkan menjadi momentum untuk membangun ekspektasi positif khususnya bagi dunia usaha atas kondisi sistem keuangan yang berdaya tahan dan tumbuh tinggi.

 

Jakarta, 15 September 2026
Departemen Komunikasi
Ramdan Denny Prakoso
Direktur Eksekutif

Lampiran
Kontak

Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Halaman ini terakhir diperbarui 9/15/2026 10:47 AM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?
Tag :

Baca Juga