Sering kali perempuan diragukan ketika bicara sains dan teknologi tinggi. Benarkah perempuan tak mampu di bidang itu?
Sejarah justru menunjukkan sebaliknya.
Hedy Lamarr, aktris Hollywood era 1940-an, adalah salah satu pencetus teknologi frequency-hopping yang kini menjadi dasar WiFi, Bluetooth, dan GPS. Satu abad sebelumnya, ada pula Ada Lovelace, perempuan pertama di dunia yang menyusun algoritma pemrograman. Contoh lain, Marie Curie, satu-satunya orang yang meraih Nobel di dua bidang sains berbeda, fisika dan kimia. Dan mereka perempuan.
Tiga nama itu membuktikan bahwa: perempuan bisa, asal diberi ruang. Pertanyaannya, kalau kemampuan itu sudah ada, apa langkah selanjutnya?
Topik itulah yang diangkat dalam High Level Talk: "Women and Talent: Mencetak Talenta Digital dan Ekspansi Ekonomi Berbasis Inovasi" di ajang FEKDI x IFSE 2026, Plenary Hall – Jakarta International Convention Center. (25/09)
Bukan Soal Kemampuan, Tapi Soal Kesenjangan
Dalam diskusi tersebut, salah satu hal yang mengemuka adalah bahwa persoalan utama bukan pada kecanggihan teknologi.
Di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap berada di atas 5 persen, termasuk tinggi, melampaui banyak negara tetangga, tantangan utama justru ada pada kesenjangan: antara kota dan desa, masyarakat berpendidikan tinggi dan mereka dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah , serta kelompok yang telah memiliki akses digital dan mereka yang masih tertinggal.
Ada tiga tantangan yang perlu diatasi.
Pertama, konektivitas. Masyarakat di berbagai wilayah perlu memperoleh akses internet dan infrastruktur digital yang memadai. Kedua, ekosistem. Keterampilan digital harus dapat diterjemahkan menjadi peluang nyata. Ketiga, confidence atau kepecayaan diri.
Sebab, memilki akses dan memahami teknologi belum tentu membuat seorang percaya diri untuk memanfaatkannya bagi kebutuhan maupun pengembangan dirinya. Di sisi lain, minat generasi muda pada STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics, atau sains, teknologi, teknik, dan matematika) justru menurun, saat kebutuhan talenta teknologi kian mendesak. Karena itu, diperlukan insentif yang tepat, agar orang-orang berkemampuan teknologi tinggi tetap tertarik menekuni bidang ini.
Bagi perempuan, tantangan itu berlapis dengan social conditioning lama yang menganggap sains dan teknologi bukan "bidangnya". Karena itu, anak perempuan perlu didorong sejak dini untuk percaya bahwa laboratorium sains adalah bidang yang bisa mereka eksplorasi dan tekuni juga.
Kekuatan dan Kontribusi Perempuan pada Teknologi Indonesia
Perempuan adalah penggerak sekitar 70 persen ekonomi dunia lewat keputusan belanja rumah tangga. Di ranah digital dalam negeri, kontribusinya juga nyata. Survei Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) tahun 2023 mencatat, sekitar 39,23 persen transaksi fintech di Indonesia disumbang perempuan. Namun di sisi kepemimpinan, jalannya masih panjang, hanya sekitar 22,7 persen founder fintech Indonesia adalah perempuan.
Kesenjangan tersebut menunjukan tantangan selanjutnya, bagaimana memperluas peran perempuan, bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta, inovator dan pengambilan keputusan dalam ekosistem digital.
Salah satu buktinya datang dari kompetisi Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI). Tim SMART PAD, juara ke-2 PIDI kategori mahasiswa, beranggotakan tiga perempuan dan satu laki-laki berhasil mengembangkan solusi AI yang memetakan potensi pajak daerah, memadukan data Google Maps dengan data penerimaan pemerintah daerah. Karya ini menarik minat beberapa kepala daerah untuk diterapkan di wilayahnya.
Bagi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, kemampuan seperti itu memang selayaknya tak perlu dipertanyakan. "Perempuan atau laki-laki, kalau dia punya kemampuan dan integritas, kenapa harus dipermasalahkan?" ujarnya. Ia menambahkan, resiliensi perempuan sudah teruji lewat pengalaman mengandung dan melahirkan, dipadukan sifat empatetik yang membuat kepemimpinan perempuan lebih lengkap dalam mendengar dan mengambil keputusan, insting yang juga diperlukan dalam mencari solusi sosial lewat kebaruan teknologi.
Bank Indonesia Membangun Ekosistem Talenta Digital
Menyadari ruang itu perlu terus dibuka, Bank Indonesia membangun ekosistem lewat PIDI (Pusat Inovasi Digital Indonesia). Tahun ini saja, lebih dari 2.000 proposal masuk, disaring menjadi 800, dikurasi lagi bersama tenaga ahli hingga tersisa 80 yang dianggap paling relevan, dan akhirnya 10 tim terbaik menerima penghargaan.
Prosesnya tidak berhenti di kompetisi. Bank Indonesia turut merekrut dan membina talenta muda secara internal, dengan sekitar 330 pegawai muda kini mengikuti program peningkatan kapasitas digital.
Semua ini dijalankan dengan prinsip yang sama: inovasi harus berjalan seiring mitigasi risiko, karena di balik setiap teknologi selalu ada manusia yang mengoperasikannya. Semangatnya adalah sinergi, kolaborasi kementerian/lembaga, industri, perbankan, hingga akademisi untuk sama-sama mencetak talenta digital unggul, termasuk talenta perempuan di bidang teknologi dan digitalisasi.
Setelah Kompetisi, Talenta Melangkah ke Mana?
Lolos dari panggung kompetisi bukanlah akhir dari kontribusi pada kemajuan ekonomi dan keuangan digital. Kepada para pemenang, Bank Indonesia menyiapkan business matching, mempertemukan pemenang dengan bank, investor, dan pihak yang membutuhkan solusi mereka, sebagaimana tim pemetaan potensi pajak daerah tadi yang kini dilirik pemerintah daerah.\
Selain itu, ada program short course untuk membekali peserta memahami data dan AI secara lebih mendalam, yang animo pesertanya selalu melampaui kapasitas kelas.
Langkah berikutnya adalah memastikan talenta ini tak berhenti sebagai pengguna teknologi, melainkan menjadi pencipta. Destry menyebutnya, "bertransformasi dari sekadar technology user menjadi innovation creator." Sebab, teknologi yang dikembangkan dengan pemahaman akan kebutuhan nyata masyarakat akan jauh lebih bermakna daripada sekadar inovasi di atas kertas.
Ruang Talenta Perlu Terus Dibuka dan Dieksplorasi
Sejumlah inovasi yang dihadirkan para pemenang PIDI di FEKDI x IFSE tahun ini (seperti: menghadirkan solusi AI untuk pajak daerah, pasar kerja, dan deteksi fraud) menjadi bukti nyata, bahwa siapa saja bisa, asal diberi akses, kesempatan, dan kepercayaan diri untuk mencoba, termasuk bagi perempuan sebagai talenta digital.
Tugas bersama dari pemerintah, industri, lembaga pendidikan, hingga masyarakat, adalah untuk terus membuka ruang itu, bukan hanya bagi segelintir perempuan yang beruntung, tetapi bagi setiap anak perempuan yang percaya bahwasanya sains dan teknologi juga bidangnya.
Sobat Rupiah, saatnya PIDI menjadi inkubasi bagi lahirnya talenta-talenta digital perempuan baru di Indonesia, yang siap bereksplorasi pada kebaruan teknologi digital dan memberikan kontribusi bagi ekonomi negeri.