Klaster cabai Merah Pengembangan Klaster Cabai di Kabupaten Garut - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
11 Agustus 2020

Cabai merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan memberikan andil signifikan terhadap inflasi, khususnya saat harganya melambung.

Sejak pertengahan hingga akhir tahun 2010, harga cabai di tingkat konsumen melambung sangat tinggi mencapai Rp 100.000/kg.

Padahal di sisi lain, Jawa Barat merupakan produsen cabai merah terbesar di Indonesia dengan sentra terbesar di Kabupaten Garut. Dengan kondisi tersebut maka KBI Bandung mengembangkan klaster cabai dengan tujuan antara lain mendukung pengendalian harga dan pengembangan ekonomi daerah melalui peningkatan kinerja petani yang tergabung dalam klaster.

Upaya pengembangan klaster dilakukan dengan melibatkan multi stakeholder terkait mulai dari sisi suplai sampai dengan hilir. Tidak kurang dari perusahaan pemasok bibit, dinas terkait yang mendampingi budidaya dan penguatan kelompok, serta perusahaan penampung cabai dilibatkan. Sebagai target awal, Koperasi Cagarit yang mewadahi kelompok tani holtikultura di empat kecamatan yaitu Bayongbong, Cisurupan, Cikajang dan Wanaraja menjadi prioritas untuk diperkuat kelembagaannya dalam hal pengembangan usaha dan organisasi.

Penguatan kelembagaan koperasi merupakan hal penting karena koperasi ini menjadi lembaga yang mewadahi dan mewakili petani untuk berhubungan dengan perusahaan penampung dan pengolah cabai. Sebelumnya petani secara individual menjual langsung hasil produksinya ke pengumpul, pasar induk maupun pasar tradisional. Akibatnya saat itu, petani tidak memiliki posisi tawar yang bagus, yang merupakan dampak risiko fluktuasi harga cabai. Melalui kerja sama kemitraan dengan koperasi tersebut, pemasaran cabai tampak lebih terkoordinasi, dan petani memperoleh kepastian harga dengan adanya pola kontrak dengan pihak pabrikan/industri makanan.

Ini tercermin dari kontrak usaha dengan PT Heinz ABC dan PT Indofood Sukses Makmur, pabrikan, yang sudah terjalin sejak tahun 2010. Dengan terjalinnya kemitraan diatas tersebut, diperlukan adanya perbaikan cara kerja dan budidaya petani untuk menjaga agar kriteria produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pabrikan. Untuk itu kepada petani diberikan peningkatan kompetentesi budidaya dan pengolahan cabai paska panen termasuk sosialisasi skim pembiayaan yang sesuai dengan kultur petani. Dari gambaran klaster tersebut, peranan koperasi dalam usaha penyediaan bibit maupun pemasaran produk menjadi kunci utama keberhasilan kelompok tani di wilayah tersebut. Ke depan, koperasi ini diharapkan mampu menjadi mediator dalam prospek pasar bagi komoditas dan petani lainnya di wilayah tersebut.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel