Hingga 2021, ASEAN beranggotakan 10 anggota
dengan anggota Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Brunei
Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Pada akhir KTT ASEAN 2022,
Timor Leste disepakati secara prinsip menjadi anggota ASEAN kesebelas.
Indonesia telah berperan sebagai Keketuaan ASEAN secara resmi selama
tiga kali (1976, 2003, 2011) dan menghasilkan capaian-capaian yang
mendorong kemajuan ASEAN. Hasil yang dicapai pada KTT Keketuaan
ASEAN sebelumnya di antaranya dituangkan dalam a.) Bali Concord I
yang menyepakati dibentuknya ASEAN Secretariat di Jakarta dengan
Sekretaris pertama dari Indonesia serta Program Aksi yang mencakup
kerja sama di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan
penerangan, keamanan, dan peningkatan mekanisme ASEAN; b.) Bali
Concord II yang berkontribusi pada konsep komunitas ASEAN dengan
tiga pilar, serta c.) Bali Concord III yang memberikan sumbangsih
disepakatinya peta jalan Masyarakat ASEAN pada 2015 dengan 3 Pilar
(termasuk Masyarakat Ekonomi ASEAN), serta peran kerja sama di
bidang politik keamanan kawasan, dan pengembangan ekonomi (termasuk
ekonomi Asia Pasifik/RCEP).
Tema
“ASEAN Matters: Epicentrum of Growth”
“ASEAN Matters” bermakna bahwa Indonesia ingin menjadikan
ASEAN tetap penting dan relevan bagi masyarakat ASEAN dan dunia.
ASEAN berperan penting tidak hanya bagi negara di dalam kawasan,
tetapi juga bagi dunia. Baik berperan sentral sebagai motor
perdamaian maupun kesejahteraan kawasan.
Pada tahun 2023, Indonesia juga akan fokus memperkuat ASEAN menjadi
kawasan ekonomi yang tumbuh cepat, inklusif, dan berkelanjutan.
Sebagai Ketua, Indonesia juga bertujuan untuk memperkuat kapasitas
dan efektivitas kelembagaan ASEAN agar mampu menjawab tantangan 20
tahun ke depan. Indonesia bertekad mengawal menuju ASEAN 2045, yang
perlu senantiasa lebih adaptif, responsif, dan kompetitif. Semua itu
harus diperjuangkan dengan cara “ASEAN way” yang sejalan
dengan semangat kerja sama dan implementasi prinsip Piagam ASEAN.
“Epicentrum of Growth” bermakna bahwa Indonesia ingin
menjadikan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan dan
dunia. Untuk itu, Indonesia sebagai Ketua memiliki tujuan untuk
memperkuat pemulihan ekonomi dan menjadikan Asia Tenggara sebagai
mesin pertumbuhan dunia yang berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi
ASEAN hampir selalu berada di atas rata-rata dunia. Sementara untuk
menopang pertumbuhan yang berkelanjutan, kerja sama di ASEAN akan
terus ditingkatkan, khususnya di bidang ketahanan pangan, ketahanan
energi, kesehatan, dan stabilisasi keuangan. Sudah saatnya ASEAN
menegaskan kembali perannya sebagai pusat “episentrum pertumbuhan”.
Logo
Elemen: Langit, Pegunungan dan Lautan, Burung Maleo, Bentuk
Dinamis, Logotype
Makna filosofis: “Sebuah visualisasi dari ASEAN dalam bola dunia
persatuan”. (The globe of unity, epicentrum of growth)
Logo ASEAN Indonesia 2023 secara keseluruhan menggambarkan bola
dunia sebagai representasi wadah negara-negara ASEAN dalam satu
kesatuan, yang bergerak bersama, optimis ke arah pertumbuhan
yang lebih baik serta membawa dampak positif, baik secara
internal untuk kawasan maupun eksternal untuk dunia.
Resource: https://tinyurl.com/LogoIndonesiaASEAN2023.
Peran, Kontribusi, dan Manfaat
Optik Domestik
-
Melanjutkan keberhasilan dalam Presidensi G20 2022, Indonesia
melanjutkan kembali kepemimpinan global (global
leadership) untuk menjalankan amanat konstitusi UUD
1945 dalam menjalankan perannya sebagai bagian masyarakat
dunia secara bebas aktif di dalam forum regional dan dunia.
-
Indonesia memiliki peran strategis dalam wilayah ASEAN dengan
potensi sumber dayanya yang mencakup jumlah penduduk
terbesar ke-4 dunia dan terbesar di ASEAN, negara demokrasi
terbesar ketiga di dunia dan ASEAN, populasi muslim terbesar
di dunia dan ASEAN, serta ekonomi terbesar di ASEAN (2021)
dan salah satu dari 20 ekonomi besar dunia dalam G20,
sehingga perlu memainkan peran penting di tingkat regional
dan dunia.
-
Indonesia dapat menjadi etalase kepemimpinan di ASEAN dan
mendorong tindakan nyata dari ASEAN dalam menghadapi
berbagai tantangan dan risiko regional dan global, seperti
pemulihan pandemi, dampak perubahan iklim, disrupsi digital
dan dampaknya, dampak konflik geopolitik dunia, dan juga
upaya membantu negara yang menghadapi kerentanan ekonomi.
-
Keketuaan Indonesia dalam ASEAN 2023 dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi dan perputaran ekonomi baik di level
daerah maupun nasional.
-
Keketuaan Indonesia dalam ASEAN 2023 dapat mendorong promosi
destinasi wisata dan produk/industri dalam negeri yang
memiliki potensi keunggulan kompetitif bagi Indonesia.
-
Keketuaan Indonesia dalam ASEAN 2023 dapat mendorong lebih
banyak investasi dan perdagangan di sektor-sektor strategis
di Indonesia.
-
Di sisi lain, Keketuaan Indonesia dalam ASEAN 2023 dapat
menciptakan stabilitas, perdamaian, dan keteraturan di
kawasan ASEAN, sehingga Indonesia dapat melanjutkan
pembangunan di segala bidang dan dapat mendorong Indonesia
menjadi negara yang lebih maju.
-
Keketuaan Indonesia dalam ASEAN 2023 juga dapat meningkatkan
kerja sama di bidang pembangunan dan percepatan pemajuan
ekonomi, antara lain, perluasan perdagangan, investasi,
kepariwisataan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta bidang
pendidikan.
-
Keketuaan Indonesia dalam ASEAN 2023 dapat menjadi wadah bagi
Indonesia dalam menyuarakan kepentingan nasional di kawasan
Asia Tenggara dan kepentingan bersama di forum
internasional.
Optik Regional dan Global
-
Melanjutkan keberhasilan dalam Presidensi G20 2022, Indonesia
melanjutkan kembali peran kepemimpinan global (global
leadership) dalam menjalankan perannya sebagai bagian
masyarakat dunia secara bebas aktif di dalam forum regional
dan dunia, yang juga sesuai dengan amanat konstitusi UUD
1945.
-
Indonesia memiliki peran strategis dalam wilayah ASEAN dengan
potensi sumber dayanya yang mencakup jumlah penduduk
terbesar ke-4 dunia dan terbesar di ASEAN, negara demokrasi
terbesar ketiga di dunia dan ASEAN, populasi muslim terbesar
di dunia dan ASEAN, serta ekonomi terbesar di ASEAN (2021)
dan salah satu dari 20 ekonomi besar dunia dalam G20,
sehingga perlu memainkan peran penting di tingkat regional
dan dunia.
-
Sebagai salah satu pendiri ASEAN, Indonesia telah
berkontribusi signifikan dalam mengembangkan kawasan ASEAN
secara strategis. Di antaranya, Indonesia telah menginisiasi
pembahasan Masyarakat ASEAN 2015 melalui Bali Concord II dan
III yang menjadi dasar bagi ASEAN dalam mengimplementasikan
Masyarakat Ekonomi ASEAN/MEA (ASEAN Economic Community/AEC)
2015 sebagai bagian 3 pilarnya, serta gagasan RCEP dalam
rangka meningkatkan peran strategis ASEAN pada level global.
-
Sebagai hasil dari hasil kesepakatan KTT dalam Bali Concord I,
Indonesia menjadi tuan rumah bagi kantor ASEAN Secretariat
(ASEC) dan sekaligus menempatkan pejabatnya sebagai
Sekretaris ASEAN yang pertama. Untuk itu, Indonesia
(Jakarta) dapat berperan strategis sebagai
Diplomatic Capital of Indo-Pacific melalui
keberadaan ASEAN Headquarters (ASEAN Secretariat/(ASEC),
dimana Indonesia terletak di antara dua benua (Asia dan
Australia) serta berada di antara dua samudra (Samudra
Hindia dan Samudra Pasifik) yang memberikan posisi strategis
dari segi politik maupun ekonomi dan perdagangan
internasional.
-
Ekonomi ASEAN 2021 (10 negara) merupakan ekonomi terbesar
kelima di dunia, sehingga peran ASEAN menjadi strategis
sebagai salah satu wilayah ekonomi yang mendukung
pertumbuhan ekonomi dunia.
-
Di tahun 2023 ini, pertumbuhan perekonomian global masih
menunjukkan sinyal pelemahan seiring tantangan ekonomi
global yang masih membayangi. Oleh karena itu, Indonesia
bersama dengan negara anggota ASEAN perlu mengambil langkah
kolektif dalam memperkuat kolaborasi dan kerja sama melalui
3 Priorities Economic Deliverables (PEDs):
Recovery-Rebuilding, Digital Economy & Sustainability.
Peran ASEAN sangatlah penting dalam mengatasi tantangan
ekonomi yang ada, dan melalui penguatan kerja sama dalam
kerangka 3 PEDs tersebut, ASEAN diharapkan dapat melangkah
bersama sebagai Epicentrum of Growth guna menghadapi
berbagai tantangan, risiko dan masalah dunia bersama.
-
Untuk mewujudkan 3 Pilar Priorities Economic Deliverables,
ASEAN akan melakukan langkah-langkah utama sebagai berikut:
-
Recovery-Rebuilding: ASEAN bertujuan untuk
mengeksplorasi Policy Mix yang terkalibrasi,
direncanakan dan dikomunikasikan dengan baik untuk
memastikan pemulihan dan pertumbuhan ekonomi, juga
demi memitigasi risiko seperti inflasi dan
volatilitas aliran modal. ASEAN akan membahas
kerangka analisis yang sistematis dengan
mengeksplorasi implementasi IMF Integrated
Policy Framework (IPF) dan BI
Macro-Financial Stability (MFSF). ASEAN
juga akan menjajaki strategi diversifikasi mata uang
dengan eksplorasi transaksi mata uang lokal, atau
biasa disebut Local Currency Transaction (LCT)
Framework. Selain itu, sistem perbankan juga harus
diperkuat melalui kebijakan makroprudensial dan
integrasi kerangka perbankan demi meningkatkan
stabilitas makroekonomi dan keuangan di ASEAN.
Reformasi struktural di negara-negara ASEAN juga
perlu diterus didorong, khususnya melalui hilirisasi
industri dan mengatasi ketahanan pangan.
-
Digital Economy: Untuk memperkuat inklusi
keuangan dan literasi digital, negara anggota ASEAN
perlu meningkatkan kapasitas masing-masing dalam
memformulasikan strategi edukasi finansial secara
nasional dan meningkatkan interkonektivitas sistem
pembayaran regional. Dengan adanya
Regional Payment Connectivity (RPC)
Initiative yang lebih luas, ekonomi dan keuangan
digital ASEAN dapat terintegrasi dan
merepresentasikan ASEAN pada dunia melalui
implementasi G20
Roadmap for Enhancing Cross Border Payments.
Selain itu, peningkatan inklusi keuangan digital
juga dapat dilakukan melalui
Digital Financial Inclusion Festival dan
implementasi
Guideline to Strengthen Digital Financial
Literacy in ASEAN. Terkait isu
Central Bank Digital Currency (CBDC),
aset kripto dan keamanan siber, perlu adanya
penguatan kolaborasi Bank Sentral dan Otoritas
Moneter dari segi regulasi dan pengawasan dari
potensi risiko yang dapat ditimbulkan.
-
Sustainability: Sebagai kawasan yang paling terdampak
oleh bencana alam dan risiko terkait iklim, ASEAN perlu
merapatkan barisan guna mempersiapkan dan mengarah ke tujuan
yang sama dalam kaitan transisi menuju ekonomi hijau,
diantaranya melalui penyusunan ASEAN Taxonomy on Sustainable
Finance dan Study on the Role of Central Banks in Managing
Climate and Environment-Related Risk. ASEAN secara kolektif
harus melangkah bersama untuk mewujudkan skema sustainable
financing dalam rangka mencapai 2030 Sustainable Development
Goals dan target net-zero. Pada momen Keketuaan Indonesia
pada ASEAN 2023 ini, Bank Indonesia juga akan menginisiasi
Central Bank Policy Discussion untuk integrasi ESG
pada formulasi kebijakan dan proses bisnis bank sentral.
-
Untuk itu, Keketuaan Indonesia dalam ASEAN 2023 menjadi wadah
untuk mencapai komitmen bersama dalam mewujudkan upaya
konkret bersama (concrete collective actions) tersebut.
Rangkaian Kegiatan
Rangkaian kegiatan ASEAN 2023.
Asean Finance Minister And Central Bank Governor Meeting (AFMGM)
Pertama
ASEAN FEST 2023
Sebagai perhelatan pendukung ASEAN Finance Ministers and
Central Bank Governors Meeting (AFMGM) ke-2 2023, ASEAN FEST
yang diselenggarakan pada tanggal 22-25 Agustus 2023 di JCC
Senayan, Jakarta hadir untuk memperluas diskusi seputar 3
Priorities Economic Deliverables (PEDs): Recovery-Rebuilding,
Digital Economy & Sustainability.
Di tengah diskusi yang dilakukan para delegasi, seluruh
masyarakat dapat menjadi bagian penting dari momentum penting
Keketuaan ASEAN Indonesia 2023 melalui ASEAN FEST.
Masuklah dalam pengalaman dan rasakan kebanggaan bangsa di
tengah kawasan ASEAN melalui sejumlah seminar, pameran, hiburan
dan wahana berbagai negara ASEAN dengan rincian pada booklet
berikut:
ASEAN Indonesia 2023
merujuk pada momen penting saat Indonesia dipercaya memegang
keketuaan (presidensi) Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara
(ASEAN). Kepemimpinan ini berlangsung
sepanjang satu tahun penuh, mulai dari 1 Januari hingga 31
Desember 2023.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai Keketuaan ASEAN
Indonesia 2023:
Tema Utama
Indonesia mengusung tema
"ASEAN Matters: Epicentrum of Growth":
-
ASEAN Matters: Ambisi Indonesia untuk
menjadikan ASEAN tetap penting, relevan, dan mampu menjadi motor
perdamaian serta stabilitas bagi masyarakat kawasan maupun
dunia.
-
Epicentrum of Growth: Tekad untuk
memosisikan kawasan Asia Tenggara sebagai pusat pertumbuhan
ekonomi global yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Tiga Pilar Isu Prioritas
Untuk mewujudkan tema tersebut, Indonesia menetapkan tiga pilar
fokus ekonomi:
-
Recover-Rebuilding: Mempercepat
pemulihan ekonomi pascapandemi demi membangun kembali ketahanan
kawasan.
-
Digital Economy: Mendorong transformasi
digital dan inklusi keuangan, termasuk perluasan konektivitas
pembayaran regional (seperti QRIS antarnegara).
-
Sustainability: Berfokus pada isu
keberlanjutan seperti transisi energi hijau dan pertumbuhan yang
ramah lingkungan.
Rangkaian KTT Utama
Sepanjang 2023, Indonesia sukses menyelenggarakan dua Konferensi
Tingkat Tinggi (KTT) utama:
-
KTT ke-42 ASEAN (Mei 2023):
Diselenggarakan di
Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Pertemuan ini sangat berfokus pada isu-isu masyarakat,
perlindungan pekerja migran, pemberantasan perdagangan orang,
serta penguatan internal organisasi.
-
KTT ke-43 ASEAN (September 2023):
Diselenggarakan di
Jakarta. KTT ini lebih luas karena
melibatkan negara-negara mitra wicara eksternal (seperti AS,
Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan) dalam format East Asia
Summit guna membahas ketahanan pangan global,
stabilitas maritim, dan geopolitik kawasan.
Hasil dan Warisan Penting (Legacy)
-
Kepentingan Rakyat Utama: Kesepakatan
para pemimpin untuk menempatkan perlindungan hak-hak masyarakat,
khususnya pekerja migran dan korban tindak pidana perdagangan
orang (TPPO), sebagai prioritas tinggi
-
ASEAN Concord IV: Indonesia menginisiasi
penyusunan Bali Concord IV sebagai landasan
strategis jangka panjang untuk menyongsong visi ASEAN 2045
agar organisasi menjadi lebih adaptif menghadapi tantangan masa
depan.
-
Keanggotaan Timor Leste: Di bawah
keketuaan Indonesia, Timor Leste untuk pertama kalinya mulai
dilibatkan secara aktif dalam pertemuan-pertemuan ASEAN setelah
disepakati secara prinsip menjadi anggota ke-11.
Jika Anda tertarik, bagian mana yang ingin Anda ulas lebih
dalam? Kita bisa membahas mengenai
kesepakatan penanganan krisis Myanmar,
implementasi QRIS lintas negara ASEAN,
atau
suasana pelaksanaan KTT di Labuan Bajo