Klaster Ayam Ras di Kabupaten Ciamis - Provinsi Jawa Barat - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
11 Agustus 2020

Jawa Barat merupakan produsen ayam ras pedaging terbesar secara nasional. Pada tahun 2009, produksi komoditas ini mencapai sekitar 34,63% produksi nasional. Berdasarkan data Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Ciamis merupakan produsen ayam ras pedaging paling tinggi ke-2 di Jawa Barat setelah Kabupaten Bogor.

Klaster Ayam Ras yang dikelola para peternak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, merupakan lokasi usaha terbesar di wilayah Priangan Timur. Ayam ras pedaging merupakan komoditas unggulan yang sudah terbentuk dari hulu ke hilir, memiliki prospek perkembangan yang besar dilihat dari sisi populasi, kemampuan produksi, jumlah peternak dan sistem kelembagaan yang ada wilayah tersebut. Komoditas ayam ras pedaging juga merupakan salah satu sumber tekanan inflasi dengan fluktuasi harga yang tidak menentu, karena kurangnya pasokan DOC dan pakan.

Karena itu KBI Tasikmalaya memandang perlu melakukan kerja sama dengan Pemda Kabupaten Ciamis sebagai lokasi terbesar di wilayah Priangan Timur. Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan pada 3 November 2011 disaksikan oleh Kepala Badan koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah IV Priangan Provinsi Jawa Barat.

 

Untuk menjaga hubungan hidup antara peternak dan Poultry Shop  (PS), maka dijalin pola kemitraan yang terbagi tiga kelompok yaitu Peternak Makloon, Peternak Kemitraan dan Peternak Mandiri. Khusus di Kabupaten Ciamis, pola kemitraan yang cocok adalah model Makloon dan Kemitraan. Hubungan peternak Makloon (plasma) dengan PS memakai sistem upah per ekor berdasarkan indeks prestasi. Peternak hanya menyediakan kandang dan sekam, sedangkan DOC, pakan dan obat-obatan semuanya dipenuhi oleh PS. Ayam setelah besar diambil kembali oleh PS.


 Sebaliknya pola kemitraan, hubungan kerja tidak menggunakan model upah per ekor, melainkan kontrak kerja dengan ssitem jual beli. Semua kebutuhan peternak akan dipenuhi oleh PS, lalu ayam hasil pembesaran dibeli oleh PS sesuai harga pasar dipotong nilai bahan baku. Sedangkan model Peternak Mandiri dianggap kurang menguntungkan peternak, karena tingginya risiko akibat fluktuasi harga DOC dan harga jual ayam. Sementara industri peternakan ayam di Ciamis saat ini baru didukung oleh satu rumah potong unggas (RPU) modern di Kecamatan Cihaurbeuti, dan hasil panennya dipasarkan dalam bentuk ayam hidup ke Bandung dan Jakarta, hanya sebagian kecil saja yang diserap pasar lokal.


 Mengingat waktu tempuh Ciamis-Jakarta sekitar 6 jam, maka ada problem inefisiensi pada pasca panen, karena produk yang diperdagangkan berupa benda hidup yang selalu terkait dengan risiko kematian dan penyusutan selama di perjalanan.


 Meski  menghadapi kendala pada sistem delivery, Kabupaten Ciamis masih tetap menghasilkan output maupun input pada industri peternakan ayam pedaging. Ini terbukti dari besarnya suplai ayam broiler yang menghasilkan output yang kompetitif. Faktanya sampai sekarang suplai ayam broiler dari Ciamis mampu memenuhi 40% kebutuhan di wilayah Bandung dan Jakarta.


 Kabupaten Ciamis tercatat sebagai produsen ayam ras pedaging nomor dua tertinggi setelah Kabupaten Bogor. Potensi ini didukung oleh adanya perusahaan peternakan yang memproduksi DOC (bibit) sendiri yaitu PT Tanjung Mulya Perkasa, Tanjung Mulya PS dan Mulya Jaya PS, dengan kapasitas parents stock (PS) sebesar 300.000 ekor, dan mampu menghasilkan DOC rata-rata 250.000 ekor per minggu.


 Sementara kebutuhan DOC Kabupaten Ciamis sekarang sekitar 1,75 juta ekor per minggu. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, 14,28% diantaranya dipasok oleh breeder lokal, sedangkan sisanya dipasok dari Jakarta, Bandung dan Surabaya.


 Hanya persoalannya, adanya keterbatasan pakan. Hingga saat ini belum ada pengusaha lokal yang dapat memproduksi pakan, kecuali ada satu poultry shop (PS) yaitu Andika PS yang baru pada tahap produksi mencampur konsentrat dengan jagung dan dedak untuk dijadikan pakan. Andika sendiri baru memenuhi  4% kebutuhan pakan ayam ras pedaging, sedangkan sisanya dipasok oleh perusahaan besar seperti Charoen Pokphan dan Comfeed. Demikian juga untuk kebutuhan obat-obatan dan vaksin masih disediakan oleh perusahaan besar yang ada di luar Kabupaten Ciamis.
 Dari gambaran tersebut, klaster ayam ras pedaging perlu bimbingan pelatihan dan pelatihan yang rutin dalam Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan semua stakeholders. Selain itu, perlu adanya peningkatan produksi dua input utama yaitu biaya produksi DOC dan biaya produksi pakan.  Kini sudah saatnya perlu pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan peternak. Sehingga nantinya para peternak mampu menggunakan teknik budidaya modern yang sangat berpengaruh pada produktivitas ayam.


 Untuk itu keterlibatan stakeholders yang terkait dengan klaster ayam ras pedaging  perlu terus ditingkatkan antarlintas sektoral, baik dari praktisi, akademisi, perbankan, Dinas/Instansi terkait di Kab/Kota Ciamis.


 Kinerja klaster pada tahun 2011 berdasarkan data Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis, terdapat penambahan populasi ayam sebesar 21,56% yaitu dari 11.425.000 ekor (2010) menjadi 13.888.000 ekor pada akhir 2011. Ini berarti ada penambahan jumlah peternak sekitar 769 orang dengan rata-rata memelihara 3.200 ekor per orang.  Dari sisi penyaluran kredit kepada sektor pembibitan dan budidaya unggas, dalam periode yang sama terjadi kenaikan sebesar 143,08% yaitu dari Rp 36,102 juta (2010) menjadi Rp 87,759 juta pada akhir tahun 2011. ​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel