Pola Pembiayaan dan Usaha Pengolahan Mangga - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
07 Juli 2020

POLA PEMBIAYAAN DAN USAHA PENGOLAHAN MANGGA

Mangga merupakan tanaman buah asli yang berasal dari India yang kemudian menyebar ke wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Indonesia memiliki ratusan jenis tanaman mangga, beberapa jensi di antaranya telah diusahakan secara komersial antara lain gedong, arummanis, indramayu, golek dan manalagi.

Buah mangga banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas baik dalam bentuk buah segar maupun dalam bentuk olahan seperti juice atau sari buah, purce atau bubur buah, squash, bar buah, konsentrat, dodol, manisan dan tepung biji mangga.

Jawa Barat merupakan produsen mangga terbesar kedua di Indonesia setelah jawa timur dengan kontribusi sebesar 16,76%. Kabupaten Cirebon merupakan daerah produksi mangga terbesar ke-2 di Jawa Barat setelah Indramayu.

Usaha pengolahan mangga di wilayah Cirebon memiliki potensial yang cukup besar karena didukung dengan sumber bahan baku yang cukup tinggi sebesar 302.274 kwt/ tahun. Secara garis besar, industri pengolahan mangga oleh kelompok usaha bersama, kelompok tani atau perseorangan telah berjalan dengan baik, namun terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan seperti Manajemen perencanaan usaha, teknologi pengolahan, kebersihan tempat pengolahan dan higientitas olahan mangga, serta IPAL.

Berdasarkan hasil survei diperoleh data bahwa 54% pelaku usaha masih menggunakan modal sendiri dalam menjalankan usahanya, modal koperasi sebesar (15%) dan Bank keliling sebesar (11%), jika dilihat dari data tersebut dapat dilihat bahwa masih minimnya kegiatan usaha tersebut tersentuh oleh pihak perbankan.

UMKM seringkali kesulitan mendapatkan sumber pendanaan, satu dan lain hal karena suku bunga pinjaman yang tinggi dan berdasarkan hasil analisis kredit khususnya terkait dengan jaminan “dianggap” tidak memenuhi. Untuk kepentingan UMKM suatu bank sebagai suatu lembaga keuangan hendaknya mampu secara cermat mengetahui kepentingan UMKM yang bersangkutan.

Berdasarkan kondisi diatas, perlunya koordinasi antar stakeholder UMKM seperti (assosiasi pengolahan mangga, dinas UMKM dan dinas indag) dalam pembinaan terhadap UMKM, penguatan system jaringan pasar pengolahan mangga tidak hanya terbatas pada pasar lokal wilayah cirebon namun bisa mengakses luar jawa dan export, selain itu juga perlu adanya pelatihan manajemen resiko pengelolaan mangga.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel