BI Rate Tetap Pada Level 6,5% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Mei 2019

No. 12 / 23 / PSHM / Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 5 Mei 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5%. Keputusan diambil setelah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap perkembangan terkini perekonomian yang menunjukkan perkembangan semakin membaik sesuai dengan perkiraan. Level BI Rate tersebut dipandang masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi sebesar 5%±1% pada tahun 2010 serta masih kondusif bagi upaya memperkuat proses pemulihan perekonomian, stabilitas keuangan, serta intermediasi perbankan.

Dewan Gubernur berpendapat bahwa proses pemulihan ekonomi global terus berlanjut dengan intensitas yang semakin kuat dan berdampak positif terhadap perekonomian domestik terutama kinerja ekspor Indonesia. Proses pemulihan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat dan Jepang semakin membaik dan mendorong perbaikan perekonomian di negara-negara emerging market Asia seperti di Cina yang mencatat pertumbuhan ekonomi cukup tinggi dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Optimisme pemulihan ekonomi global semakin kuat meskipun masih terdapat risiko terkait krisis yang dialami sejumlah negara di Eropa seperti Yunani dan Portugal.

Berbagai indikator mengindikasikan perekonomian domestik tumbuh sesuai perkiraan, terutama ditopang oleh ekspor dan investasi. Disamping konsumsi swasta yang masih tetap tinggi, kinerja ekspor mencatat pertumbuhan yang positif bahkan berpotensi lebih tinggi dari perkiraan sejalan dengan pemulihan ekonomi dunia yang semakin kuat. Akselerasi ekspor produk manufaktur terus berlanjut sejalan dengan semakin optimisnya pemulihan ekonomi negara maju, sementara ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) masih tumbuh tinggi terutama ke Cina dan India. Optimisme terhadap prospek ekonomi yang semakin baik di dalam negeri mendorong meningkatnya kinerja investasi secara signifikan yang tercermin pada peningkatan impor bahan baku dan barang modal.

Perbaikan kinerja sektor eksternal tersebut berdampak positif pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Ekspor yang tumbuh tinggi mendorong surplus transaksi berjalan. Sementara itu, tingginya aliran modal masuk sejalan dengan meningkatnya keyakinan investor internasional terhadap prospek perekonomian domestik yang membaik telah menyebabkan surplus transaksi modal dan finansial. Dengan perkembangan ini, cadangan devisa Indonesia sampai dengan akhir April 2010 mencapai USD78,6 miliar atau setara dengan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Perkembangan NPI yang membaik tersebut menyebabkan apresiasi nilai tukar Rupiah cukup signifikan dengan volatilitas yang menurun. Penguatan nilai tukar secara signifikan juga dialami oleh hampir semua negara di kawasan.

Di sisi harga, tekanan inflasi sampai dengan bulan April 2010 masih terkendali pada tingkat yang rendah. Terkendalinya inflasi tercermin pada perkembangan inflasi inti yang masih dalam tren menurun yakni mencapai 3,70% (yoy) pada April 2010 dibandingkan Januari 2010 sebesar 4,43% (yoy), sejalan dengan penguatan nilai tukar rupiah, respon sisi penawaran yang dapat mengimbangi peningkatan sisi permintaan, dan terjaganya ekspektasi inflasi. Meskipun inflasi volatile food sedikit meningkat, dengan terkendalinya inflasi inti dan inflasi administered price pada tingkat yang rendah, secara keseluruhan inflasi IHK April 2010 masih terjaga yakni mencapai 0,15% (mtm) atau secara tahunan sebesar 3,91% (yoy).

Di sektor keuangan ditandai oleh fungsi intermediasi perbankan yang mulai meningkat dan stabilitas sistem perbankan yang tetap terjaga. Pertumbuhan kredit hingga akhir April 2010 tumbuh sebesar 14,5% (yoy), sesuai dengan perkiraan dan rencana bisnis bank (RBB). Hal ini sejalan dengan meningkatnya keyakinan pelaku ekonomi terhadap prospek perekonomian yang semakin membaik. Di sisi mikro, industri perbankan menunjukkan perkembangan yang tetap stabil sebagaimana tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) perbankan yang mencapai 19,1% dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%. Di bidang perbankan, Bank Indonesia akan terus memantau dan mendorong peningkatan efisiensi perbankan agar fungsi intermediasi perbankan dapat dioptimalkan.

Laporan lengkap mengenai pembahasan RDG 5 Mei 2010 yang memuat perkembangan makroekonomi dan kebijakan moneter dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) di website Bank Indonesia (www.bi.go.id/web/id/publikasi).

Jakarta, 5 Mei 2010

Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Dyah N.K. Makhijani
Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel