BI Rate Turun Menjadi 8% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Agustus 2019

No. 9/39/PSHM/Humas


Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari Kamis, 6 Desember 2007 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps dari 8,25% menjadi 8%. Pengambilan keputusan hari ini didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap perekonomian nasional yang terus mengalami peningkatan, arah perkembangan laju inflasi, serta prospek perekonomian ke depan. Penurunan BI Rate tersebut diyakini tidak mengganggu pencapaian sasaran inflasi, terutama dalam jangka menengah panjang. Bank Indonesia mengharapkan penurunan BI rate mampu memberikan stimulus dan menjaga momentum pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi dengan kestabilan makroekonomi yang terus terjaga pada tahun-tahun mendatang. Keputusan ini juga memerhatikan faktor-faktor risiko yang ada, terutama terkait dengan tingginya harga minyak dunia. 

 

Hasil penilaian Bank Indonesia menunjukkan bahwa gejolak eksternal dan dampak meningkatnya harga minyak saat ini terhadap ekspansi perekonomian dan inflasi masih dapat dikendalikan. Langkah-langkah kebijakan Pemerintah dalam menyikapi kenaikan harga minyak tersebut, diharapkan mampu meredakan tekanan terhadap kesinambungan fiskal sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi guna mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Kebijakan tersebut akan dibarengi dengan langkah-langkah Bank Indonesia yang terukur dan tepat waktu dalam menjaga volatilitas nilai tukar Rupiah. Bank Indonesia akan mengoptimalkan piranti-piranti kebijakan yang dimiliki guna mengarahkan inflasi pada sasaran yang telah ditetapkan. Bank Indonesia juga akan berupaya mendukung pencapaian sasaran inflasi ke depan melalui transparansi serta komunikasi yang efektif kepada masyarakat. Dengan sinergi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia tersebut, kondisi fundamental perekonomian Indonesia yang membaik, ketahanan yang semakin tinggi, kita berharap proses peningkatan pertumbuhan ekonomi masih stabil dan tetap berjalan.

 

Bank Indonesia optimis bahwa inflasi tahun 2007 akan berada pada kisaran sasarannya sebesar 6%±1%. Sedangkan untuk tahun 2008, meski terdapat tekanan inflasi, namun secara keseluruhan masih berada dalam trend jangka panjang yang menurun. Oleh karena itu, upaya dari berbagai pihak untuk bersama-sama mengantisipasi peningkatan risiko kenaikan harga-harga menjadi sangat penting agar target inflasi tahun 2008 sebesar 5%±1% dapat tercapai. Bank Indonesia mencatat beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai pada tahun 2008 yang dapat memberikan tekanan pada inflasi. Faktor-faktor tersebut antara lain, berlanjutnya peningkatan harga minyak dunia sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga-harga barang, persepsi pelaku ekonomi terhadap kesinambungan keuangan pemerintah, dan kemajuan implementasi terhadap paket kebijakan investasi, serta kemampuan pemerintah untuk mengatasi gangguan pasokan dan distribusi barang kebutuhan pokok.

 

Optimisme pencapaian sasaran inflasi tersebut sejalan dengan berlanjutnya kecenderungan penurunan harga.  Dalam bulan November 2007, laju inflasi tercatat 0.18 % atau menurun dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,79%. Secara tahunan, inflasi IHK dan inflasi inti pada bulan November 2007 masing-masing tercatat sebesar 6,71% dan 6,25%. Tekanan inflasi dari kelompok makanan bergejolak (volatile food) dan harga-harga yang ditentukan Pemerintah (administered prices) relatif rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Selain itu, tekanan kenaikan harga yang berasal dari peningkatan permintaan juga relatif rendah, seiring dengan penambahan kapasitas produksi nasional terkait dengan kegiatan investasi. 

 

Stabilitas nilai tukar rupiah pada November 2007 relatif terjaga. Volatilitas nilai tukar rupiah masih relatif stabil, meski dalam periode tersebut rupiah mengalami depresiasi. Secara rata-rata nilai tukar tercatat mengalami depresiasi dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata nilai tukar di November 2007 tercatat Rp 9.271 atau terdepresiasi 1,8% dibanding bulan Oktober 2007 sebesar Rp 9.101. Perkembangan ini antara lain dipicu oleh aliran keluar modal asing di pasar keuangan. Hal ini juga ikut menekan harga saham sehingga IHSG sempat mengalami penurunan menjadi 2.563 sebelum kembali meningkat pada akhir November pada level 2.688.

 

Secara umum, ekspansi perekonomian Indonesia diperkirakan masih akan terus berlanjut ke depan, atau sama dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2007 diperkirakan sebesar 6,5%, sehingga secara keseluruhan tahun akan mencapai 6,33%. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya konsumsi serta ekspor. Kuatnya pertumbuhan ekspor diharapkan dapat mendukung lebih baiknya kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). NPI pada tahun 2007 diperkirakan akan mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Sampai dengan November 2007, cadangan devisa tercatat sebesar 54,9 miliar dollar AS atau setara dengan 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. 

 

Dari sisi perbankan, penurunan suku bunga kredit perbankan masih berlanjut. Seluruh suku bunga kredit pada bulan Oktober tercatat mengalami penurunan. Fungsi intermediasi perbankan juga terus mengalami peningkatan, ditunjukkan oleh tren penyaluran kredit yang terus meningkat mencapai jumlah sekitar Rp. 980 triliun atau tumbuh sebesar 23,1%. Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga perbankan juga terus mengalami kenaikan mencapai jumlah Rp. 1.419 triliun atau tumbuh sekitar 15% secara tahunan.

 

Ke depan, stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan masih akan terjaga diikuti dengan berlanjutnya ekspansi perekonomian. Pertumbuhan ekonomi akan dapat lebih tinggi dari tahun sebelumnya, didukung oleh permintaan dalam negeri yang meningkat serta kinerja ekspor yang cukup baik. Dengan tetap tingginya ekspor serta perkiraan besarnya aliran modal masuk, neraca pembayaran akan mencatat surplus yang cukup besar. Kondisi ini akan semakin mendukung stabilitas nilai tukar dan pada gilirannya akan mengurangi tekanan inflasi ke depan.

 

Bank Indonesia akan senantiasa mencermati perkembangan makroekonomi secara seksama dengan tujuan akhir untuk mencapai target kestabilan harga. Kebijakan moneter dan perbankian akan tetap dilaksanakan  secara terukur dan berhati-hati untuk menciptakan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang mampu mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi.

 

 

Jakarta, 6 Desember 2007

Direktorat Perencanaan Strategis

dan Hubungan Masyarakat

 

Lukman Boenjamin

Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel