Pernyataan Gubernur Bank Indonesia: Stabilitas Makroekonomi Terus Berlanjut, Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Meningkat, BI Rate Tetap 9% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Agustus 2019
No. 9/16/PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari ini adalah Rapat Dewan Gubernur Triwulanan yang membahas secara komprehensif 2 (dua) agenda pokok yaitu: Pertama, review terhadap perkembangan makroekonomi dan dinamika kegiatan usaha di sektor riil di dalam upaya mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi yang direncanakan, dan Kedua, assessment stabilitas moneter dan sektor keuangan, serta keputusan (stance) kebijakan moneter untuk satu bulan ke depan.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan-I 2007 diperkirakan sebesar 5,4% atau masih sesuai dengan perkiraan semula. Penguatan pertumbuhan ekonomi tersebut didukung oleh kinerja ekspor dan investasi swasta yang mulai meningkat. Sementara, pertumbuhan konsumsi swasta masih lambat. Peningkatan investasi swasta tersebut terindikasi dari pertumbuhan investasi bangunan, yang tercermin pada peningkatan permintaan semen, besi dan baja, adanya peningkatan kredit investasi riil pada berbagai sektor usaha, dan adanya peningkatan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), yang berasal dari peningkatan investasi mesin dalam negeri.

Dari sisi neraca pembayaran (NPI), kinerja selama triwulan I 2007 diperkirakan akan lebih baik dari perkiraan awal tahun. Surplus NPI mengalami peningkatan hingga mencatat USD3,3 miliar, lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal tahun sebesar USD2,9 miliar. Perbaikan tersebut terutama ditopang oleh lebih tingginya surplus current account dibandingkan perkiraan semula. Dengan realisasi NPI yang lebih baik dari perkiraan tersebut, cadangan devisa sampai akhir Maret 2007 telah tercatat sebesar USD47,2 miliar. Dengan berbagai perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah pada triwulan I 2007 menguat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada akhir Maret 2007, nilai tukar rupiah secara rata-rata mencapai Rp9.101 per USD, atau terapresiasi 0,34% dari triwulan sebelumnya sebesar Rp9.132 per USD. Penguatan tersebut juga ditopang oleh membaiknya faktor fundamental lainnya sebagaimana tercermin pada imbal hasil rupiah yang tetap menarik, serta faktor risiko yang terjaga.

Hasil pemantauan dan kajian Bank Indonesia menunjukkan bahwa inflasi pada triwulan I-2007 tetap terkendali dan masih sesuai dengan proyeksi awal tahun. Secara tahunan (y-o-y), inflasi IHK pada bulan Maret 2007 relatif stabil sekitar 6,5% (y-o-y). Berbagai faktor yang mempengaruhi relatif stabilnya inflasi adalah antara lain arah kebijakan moneter yang ditetapkan Bank Indonesia sebelumnya, minimalnya tekanan inflasi kelompok harga yang dikendalikan pemerintah (administered prices) dan melimpahnya pasokan komoditas bahan makanan khususnya bumbu-bumbuan sehingga mengurangi tekanan inflasi akibat kenaikan harga beras. Secara fundamental, tekanan inflasi tetap terjaga sejalan dengan penguatan nilai tukar dan permintaan yang masih belum kuat.

Ke depan, secara umum proyeksi pertumbuhan ekonomi 2007-2008 masih sesuai dengan perkiraan semula yaitu 6,0% di tahun 2007 dan 5,7%-6,7% di tahun 2008. Beberapa indikator ekonomi menunjukkan bahwa akselerasi pertumbuhan ekonomi masih akan terus berlanjut. Sumber pertumbuhan ekonomi tersebut terutama berasal dari ekspor dan perbaikan permintaan domestik, khususnya investasi yang terus tumbuh sejalan dengan membaiknya persepsi bisnis. Berbagai upaya pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi dan program untuk mempercepat realisasi pembangunan infrastruktur –terutama proyek kelistrikan dan  transportasi– diperkirakan mampu mendorong investasi  tumbuh lebih tinggi.  Sementara itu, kinerja ekspor masih dapat tumbuh pada level yang cukup tinggi didukung oleh sektor pertanian dan industri. Sejalan dengan itu, rencana kenaikan defisit pengeluaran pemerintah juga akan mendorong tercapainya pertumbuhan ekonomi.

Asesmen Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa stabilitas keuangan diperkirakan masih terjaga. sinyal penurunan BI Rate selama ini masih direspon secara positif oleh sektor keuangan dan sektor riil sebagaimana tercermin pada nilai tukar yang stabil, harga saham yang bergerak naik dan yield SUN tenor terpendek yang menurun.

Di bidang perbankan, secara umum kondisi industri perbankan nasional menunjukkan pertumbuhan yang membaik, seperti tercermin pada pertumbuhan kredit, total aset dan permodalan. Kredit meningkat sebesar Rp8,9 triliun menjadi Rp826,3 triliun (month to month /m-t-m) pada bulan Februari 2007 atau naik Rp 111,7 triliun secara y-o-y. Adapun permodalan mengalami sedikit peningkatan dan cenderung terus menguat menjadi sebesar 20,9% dari bulan sebelumnya 20,7%.  Total asset perbankan meningkat Rp2,6 triliun (0,2%) secara m-t-m menjadi sebesar Rp1.693 triliun atau naik Rp226,8 triliun (15,5%) secara y-o-y. Sementara itu, Net Interest Income (NII) sedikit mengalami penurunan dari Rp 7,9 triliun pada Januari 2007 menjadi Rp 7,3 triliun pada bulan Februari 2007. Penurunan NII terutama karena penurunan pendapatan bunga kredit setelah jumlah kredit turun pada bulan Januari 2007. Kenaikan total asset perbankan dan penurunan NII menyebabkan Return on Asset (ROA) mengalami penurunan tipis dari 2,8% menjadi 2,7% (m-t-m). Sementara, tingkat NPL perbankan masih tetap terjaga, dimana NPL Gross 6,8% dan NPL Net 3,4%.

Dari kondisi dan perkembangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa stabilitas makroekonomi pada triwulan I-2007 masih terkendali. Gairah kegiatan usaha di sektor riil juga terus menunjukkan kecenderungan meningkat. Berbagai langkah kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia yang ditempuh selama ini diharapkan akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Kebijakan Bank Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, yang ditempuh melalui penurunan BI Rate dan relaksasi beberapa ketentuan perbankan diharapkan akan dapat mendorong fungsi intermediasi perbankan di dalam mendukung kebangkitan sektor riil. Industri perbankan berpeluang untuk dapat terus menurunkan Cost of Loanable Fund dan meningkatkan efisiensi operasinya, sehingga tingkat suku bunga kredit menjadi semakin murah dan dapat tersalurkan kepada sektor-sektor yang produktif.

Setelah melalui berbagai perhitungan dan pertimbangan yang mendalam terhadap perkembangan tersebut diatas, kebijakan moneter Bank Indonesia saat ini diputuskan untuk berada dalam keadaan netral. Dalam RDG hari ini, BI Rate diputuskan untuk tetap dipertahankan pada tingkat 9%. Burhanuddin Abdullah menegaskan bahwa: “Jeda ini ditujukan untuk mencermati lebih jauh dampak dan perkembangan berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah, termasuk Bank Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menyeimbangkan pergerakan kondisi moneter dengan kondisi di sektor riil dan perbankan. Bank Indonesia meyakini bahwa sasaran inflasi tahun 2007 sebesar 6%±1% dan tahun 2008 sebesar 5%±1% akan dapat tercapai”.

Saat ini, dari hasil pemantauan terhadap perkembangan beberapa kelompok harga administered prices, bahan-bahan pokok dan kelompok volatile food serta beberapa indikator makroekonomi lainnya, terdapat indikasi yang perlu dicermati lebih jauh mengenai kemungkinan kenaikan inflasi di waktu-waktu mendatang.  Di samping itu, ekspektasi masyarakat terhadap inflasi diperkirakan juga berada dalam trend yang meningkat, sejalan dengan membaiknya prospek permintaan domestik, akibat peningkatan kegiatan ekonomi.

Untuk mengantisipasi perkembangan tersebut, Bank Indonesia perlu terlebih dahulu mencermati dan mengkaji secara lebih dalam berbagai indikator makroekonomi terkait agar dapat mempertahankan sasaran inflasi IHK tahun 2007-2008 sebagaimana yang telah ditetapkan.  Meskipun demikian, Bank Indonesia melihat bahwa ruang untuk penurunan BI Rate ke depan masih terbuka, sejalan dengan optimisme bangkitnya gairah usaha di sektor riil. “Kami menilai keputusan BI Rate saat ini masih mampu memberikan ruang gerak yang cukup bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit ke level yang cukup rendah”, demikian tambah Burhanuddin.

Bank Indonesia akan senantiasa mencermati perkembangan makroekonomi secara seksama dengan tujuan akhir untuk mencapai target kestabilan harga. Pada sisi moneter, kebijakan Bank Indonesia akan terus diarahkan untuk menciptakan stabilitas makroekonomi guna mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi melalui penerapan Inflation Targeting Framework (ITF) secara konsisten.  Di bidang perbankan, Bank Indonesia akan terus berupaya meningkatkan intermediasi perbankan sebagai bagian komitmen Bank Indonesia untuk mendorong pembiayaan sektor riil, sebagaimana telah pula dilakukan melalui penerbitan kebijakan relaksasi terakhir.

Jakarta, 5 April 2007
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Budi Mulya
Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel