Pernyataan Gubernur Bank Indonesia : BI Rate Turun Menjadi 9,75% - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
23 Mei 2019
No. 8/ 61 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari ini memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 50 bps dari 10,25% menjadi 9,75%. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi kondisi makroekonomi terkini, mencermati  hasil berbagai survei, dan memandang prospek ekonomi moneter ke depan, termasuk upaya pencapaian sasaran inflasi ke depan, yaitu 6±1% untuk tahun 2007. Keputusan tersebut juga diambil untuk mempertahankan persepsi positif pelaku ekonomi, mendukung perbaikan iklim usaha, sekaligus menjaga stabilitas di pasar keuangan.

Secara umum, stabilitas makroekonomi hingga bulan November 2006 masih tetap terjaga. Hal itu memberikan keyakinan bahwa akselerasi pertumbuhan ekonomi masih dapat terus berlangsung. Beberapa faktor yang menjadi pendorong peningkatan kegiatan ekonomi tersebut antara lain peningkatan pengeluaran konsumsi rumah tangga sebagai dampak positif membaiknya daya beli masyarakat dan turunnya suku bunga, membaiknya kinerja ekspor, dan peran pengeluaran Pemerintah yang meningkat signifikan khususnya untuk belanja modal dan belanja barang.  Sementara itu, indikator makroekonomi lainnya juga terus menunjukkan perkembangan yang kondusif seperti tercermin dari inflasi IHK yang masih dalam tren menurun dan nilai tukar rupiah yang cenderung menguat.

Nilai tukar rupiah menguat dengan volatilitas yang lebih rendah. Secara rata-rata nilai tukar rupiah menguat 0,4% menjadi Rp9.138 per USD disertai tingkat volatilitas yang menurun menjadi 0,3%. Kondisi tersebut ditopang oleh membaiknya kondisi makroekonomi di dalam negeri yang tercermin pada surplus neraca pembayaran yang cukup besar, berlanjutnya tren penurunan inflasi, imbal hasil Rupiah yang masih terjaga, serta faktor risiko eksternal yang minimal.

Inflasi IHK masih tetap terkendali dan dalam tren menurun. Relatif stabilnya nilai tukar rupiah, terjaganya pasokan, minimnya kenaikan harga barang-barang yang dikendalikan pemerintah (administered prices), terjaganya ekspektasi inflasi, serta telah berlalunya dampak musiman lebaran, mendorong rendahnya inflasi pada November 2006. IHK tercatat 0,34% (mtm) atau 5,27% (yoy) sehingga dalam sebelas bulan di 2006 inflasi IHK baru mencapai 5,32% (ytd). Tren penurunan inflasi tercermin pada perkembangan inflasi inti yang menurun sebagaimana diperkirakan namun masih berada pada level yang tinggi. Secara bulanan inflasi inti hanya mencapai 0,30% (mtm) dan secara tahunan mencapai 5,92% (yoy).

Kebijakan penurunan BI Rate sejauh ini direspon secara positif oleh pelaku ekonomi baik di sektor keuangan maupun sektor riil. Di pasar saham, IHSG terus meningkat terutama didorong oleh ekspektasi terus membaiknya prospek makroekonomi sejalan dengan menurunnya suku bunga. Respon positif juga terjadi di pasar obligasi pemerintah tercermin pada yield SUN yang secara umum masih dalam tren menurun.

Secara umum, kondisi industri perbankan menunjukkan pertumbuhan, seperti tercermin pada pertumbuhan total asset yang didukung pertumbuhan aktiva produktif, termasuk kredit. Pertumbuhan kredit selama tahun 2006 (hingga Oktober) meski masih di bawah target, telah meningkat sebesar Rp 66 triliun (9%-ytd ).  Sementara itu, di tengah kecenderungan suku bunga kredit yang bergerak turun, dalam bulan Oktober, total aset industri perbankan meningkat menjadi Rp1.605,2 triliun di mana aktiva produktif industri bertambah sebesar Rp16,5 triliun (1,1%) yang didanai oleh peningkatan dana pihak ketiga sebesar Rp28,2 triliun (2,3%).

Di sektor riil, sinyal penurunan BI  Rate telah mendorong peningkatan keyakinan konsumen dan optimisme produsen terhadap perbaikan perekonomian. Hal ini tercermin dari meningkatnya konsumsi dan produksi. Selain itu, penurunan BI Rate juga membuka peluang bagi dunia usaha untuk memperoleh alternatif pembiayaan nonbank yang semakin murah. Kondisi ini memungkinkan dunia usaha untuk meningkatkan produksi dalam rangka memenuhi peningkatan permintaan domestik.

Ke depan, kegiatan ekonomi diharapkan akan terus meningkat meskipun terdapat terdapat beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai. Dari sisi internal, Bank Indonesia memperkirakan terdapat kemungkinan  meningkatnya tekanan inflasi di 2007 sebagai akibat dari kenaikan biaya-biaya dan meningkatnya permintaan domestik. Sementara dari sisi eksternal, kebijakan moneter di beberapa kawasan cenderung masih menunjukkan trend tight-bias (bias ketat) dengan risiko ketidakpastian dari harga minyak dunia dan meningkatnya ketidakseimbangan global.  Menyikapi kondisi tersebut, Bank Indonesia akan menjalankan kebijakan moneter secara lebih terukur dan berhati-hati.


Jakarta, 7 Desember 2006
Direktorat Perencanaan  Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Budi Mulya
Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel