Cerita BI

BI Icon
​Departemen Komunikasi ​

3/18/2024 2:00 PM
Hits: 2174

Pengalaman Pertama Pakai QRIS di Thailand


Apakah bisa transaksi menggunakan QRIS di Thailand?

Tentu saja bisa. Transaksi di Thailand sekarang sudah bisa pakai QRIS, sebab Bank Indonesia (BI) telah memperluas QRIS ke berbagai negara, termasuk Thailand, melalui QRIS Cross-Border

Salah satu yang sudah mencoba transaksi pakai QRIS di Thailand adalah Asrul. Pengalaman Asrul berbelanja di Thailand dengan QRIS menggambarkan kepraktisan dan kemudahan transaksi. Pengalaman ini mencerminkan bagaimana inovasi QRIS Cross-Border meningkatkan efisiensi pembayaran di luar negeri, memberikan gambaran jelas tentang manfaat dan kenyamanan sistem ini dalam pengalaman berbelanja selama di Thailand.

Yuk, simak ceritanya!

“Apa jadinya jika negara-negara berkembang di ASEAN bersinergi untuk mewujudkan visi pertumbuhan ekonomi regional yang berdaya saing global?“

Sepenggal kalimat menarik tersebut mewarnai percakapan saya dengan salah seorang teman saya yang bernama Asrul. Pertemuan dengan Asrul kali ini membahas seputar pengalaman mengesankannya selama di Thailand, salah satunya terkait pengalaman belanja pakai QRIS Cross-Border Thailand hingga pandangan kami terhadap pertumbuhan ekonomi ASEAN ke depan. 

Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia dalam keketuaan ASEAN 2023 menginisiasi penerapan pembayaran lintas negara melalui Quick Response Code Indonesian Standard atau yang disebut QRIS Cross-Border. 

Ini artinya segala bentuk transaksi pembayaran yang dilakukan oleh pelancong asing di kawasan ASEAN nantinya akan dapat dilakukan secara non tunai tanpa harus repot-repot menukarkan uang tunai terlebih dahulu di money changer

Dari 11 negara anggota ASEAN, baru Thailand, Malaysia, dan Singapura yang resmi mengadopsi program QRIS Cross-Border. Sehingga, beruntung sekali Asrul mampu mencecap tonggak sejarah awal penerapan QRIS Cross-Border di Thailand.

Kebetulan, saya ini memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang ekonomi, sedangkan Asrul dari latar belakang teknologi. Maka dari itu, akan sangat menarik jika membahas penggunaan QRIS Cross-Border dengan mengkolaborasikan pandangan kami dari sudut pandang ekonomi dan teknologi. Dimulai dari mazhab ekonomi, penerapan QRIS Cross-Border ini sebenarnya merupakan suatu terobosan yang sangat brilian dalam mengeskalasi pertumbuhan ekonomi ASEAN. 

Sebagai gambaran, jumlah Produk Domestik Bruto (PDB) ASEAN tahun 2021 adalah sebesar 3,9 triliun USD dan menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia, di bawah Amerika Serikat (23,32 triliun USD), Cina (17,73 triliun USD), Jepang (4,94 triliun USD), dan Jerman (4,26 triliun USD). Salah satu komponen yang digunakan dalam penghitungan PDB adalah tingkat konsumsi penduduk suatu negara. Sedangkan besaran konsumsi tersebut dapat tergambar melalui aktivitas jual beli atau lalu lintas pembayaran yang ada di negara tersebut.

Upaya Bank Indonesia (BI) dalam menciptakan sistem pembayaran lintas negara yang semakin praktis sangat berpotensi tingkatkan perekonomian, terutama sektor pariwisata yang mampu menarik wisatawan asing. Bayangkan, transaksi jual beli di tempat wisata dengan cara konvensional pakai uang tunai saja sudah ramai, apalagi dengan adanya QRIS Cross-Border. Tentu saja, ini sangat berpeluang meningkatkan perekonomian berkali-kali lipat karena kemudahan transaksi non tunai yang ditawarkan. 

Sebelumnya, metode pembayaran dengan uang tunai yang dilakukan oleh wisatawan asing mengharuskan mereka menukar uang negara mereka atau dolar AS dengan mata uang negara tujuan terlebih dahulu. Ini menyebabkan para wisatawan berpikir konservatif dan cenderung berhemat dalam membelanjakan uangnya karena keterbatasan jumlah uang yang dibawa. 

Lain halnya jika pembayaran dilakukan secara non tunai melalui QRIS Cross-Border, “bisa-bisa barang dagangan sekaligus tokonya dibeli oleh turisnya, Bro! hahaha!" candaku bersama Asrul.

“Ini gila, transaksi jual beli di kawasan wisata Wat Arun Bangkok yang sebelumnya ribet harus menukarkan uang rupiah atau dolar AS dengan uang domestik terlebih dahulu, kini cukup scan QRIS saja!" cerita Asrul semakin semangat. Dia pun melanjutkan cerita mengenai cara memakai QRIS di Thailand. 

“Jadi gini bro, pertama-tama buka aplikasi pembayaran, lalu scan QR Thailand, masukkan nominal dalam Thai Baht, konfirmasi tujuan dan nominal dalam Rupiah, masukkan PIN, dan buummm...transaksi pun dinyatakan berhasil." Mudah sekali, namun perlu dipahami bahwa transaksi non tunai bisa dilakukan apabila penjual sudah mendaftar sebagai merchant yang menyediakan jasa layanan pembayaran berbasis QRIS. Untuk saat ini, jumlah limit maksimal per transaksi yang bisa dilakukan melalui QRIS adalah sebesar Rp10 juta.

Berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh program QRIS Cross-Border ini merupakan suatu terobosan yang sangat brilian dalam memangkas kerumitan sistem pembayaran konvensional yang telah ada sebelumnya. Industri pariwisata Indonesia harus jeli melihat peluang ini dengan memaksimalkan penerapan QRIS Cross-Border pada tempat-tempat wisata yang berpotensi menarik kedatangan pelancong asing seperti Bali, Yogyakarta, Lombok, Jakarta, dan daerah potensial lainnya. 

“Ya lucu banget lah Bro kalo Indonesia sebagai penggagas lahirnya QRIS Cross-Border tetapi malah ketinggalan dengan negara ASEAN lainnya dalam implementasi program tersebut, hahaha!“ canda Asrul yang semi kritis.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia yang berasal dari negara kawasan ASEAN pada tahun 2018, era sebelum pandemi, yakni sebanyak 5.453.330 kunjungan. Malaysia paling mendominasi dari jumlah tersebut sebanyak 2.503.344 kunjungan, diikuti Singapura sebanyak 1.768.744 kunjungan. 

Kunjungan wisatawan mancanegara pada tempat-tempat wisata Indonesia ini merupakan kesempatan yang sangat baik dan harus diikuti dengan kesiapan para pelaku usaha setempat akan penerapan QRIS Cross-Border. Para pelaku bisnis baik dari kalangan elite maupun kalangan kecil harus berkolaborasi dalam memajukan pariwisata Indonesia.

Pelaku bisnis skala menengah ke bawah atau yang biasa disebut dengan industri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sangat mendominasi perekonomian Indonesia. Hal ini tergambar dari data Kementerian Koperasi dan UMKM tahun 2021 yang menunjukkan jumlah UMKM di Indonesia sebanyak 64 juta unit usaha. Kontribusi ekonominya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional bahkan mencapai 61 persen atau sebesar Rp8.573 triliun. 

Para UMKM ini pun juga menjamur keberadaannya di tempat-tempat wisata Indonesia. Sehingga, tingkat keberhasilan penerapan QRIS Cross-Border pada UMKM tersebut akan sangat menentukan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Kunci kebangkitan ekonomi Indonesia dari mimpi buruk pandemi COVID-19 pun terletak pada UMKM ini.

Jika sebelumnya membahas QRIS Cross-Border dari mazhab ekonomi, kali ini membahas sedikit dari mazhab teknologi. QRIS Cross-Border yang baru menetas dan menapaki dunia digital ini sebenarnya dapat dikembangkan lebih jauh melalui integrasi sistem pembayaran dengan aplikasi jurnal pelaporan keuangan. Inovasi ini memungkinkan setiap pembayaran yang terekam dapat dikonversi menjadi laporan keuangan yang tersaji secara real-time pada aplikasi semisal berupa jurnal penerimaan dan jurnal pengeluaran. 

Adanya laporan keuangan pada aplikasi tersebut dapat memudahkan para pebisnis dalam menilai kondisi keuangan usahanya dan merencanakan proyeksi bisnis ke depan. Laporan keuangan pun dapat menjadi sarana pengajuan pendanaan ke bank. Ini menjawab salah satu persoalan besar para pengusaha kecil atau yang biasa disebut UMKM terkait kurangnya akses permodalan ke bank akibat ketidakmampuan dalam penyajian laporan keuangan. 

Padahal, laporan keuangan ini merupakan indikator penilaian usaha dan syarat mutlak bagi pihak bank dalam membuat keputusan terkait penyaluran pinjaman modal. Sehingga, pengembangan teknologi QRIS Cross-Border pada sistem pelaporan keuangan akan sangat dibutuhkan oleh UMKM.

Selayaknya keindahan pelangi yang baru tersingkap di kala hujan badai telah mereda, pandemi COVID-19 yang sempat menghempaskan sendi perekonomian dunia sebenarnya membawa sebuah hikmah yang patut kita syukuri. Hikmah tersebut berupa pergeseran tren jual beli dari tunai ke non tunai yang diakibatkan oleh adanya pembatasan aktivitas manusia saat itu. 

Program QRIS Cross-Border yang diinisiasi Indonesia dalam keketuaan ASEAN 2023 ini diharapkan mampu mengangkat kembali perekonomian bangsa, terutama sektor pariwisata, dari keterpurukan pandemi COVID-19 di masa silam. Penerapan QRIS Cross-Border ini juga memiliki potensi yang luar biasa bagi perekonomian ASEAN. Bayangkan jika 11 negara anggota ASEAN menerapkan QRIS Cross-Border secara bersamaan, ini akan membentuk sebuah kawasan ekonomi yang sangat besar dan terintegrasi satu sama lainnya. 

Menariknya lagi, tiap negara anggota ASEAN tersebut memiliki keunikan tersendiri pada pariwisatanya masing-masing. Semisal, Myanmar yang terkenal akan julukannya sebagai negeri seribu pagoda, atau Thailand yang terkenal sebagai negeri gajah putih. Berbagai keunikan yang dimiliki oleh negara ASEAN tersebut akan saling melengkapi satu sama lainnya. Sehingga, ini akan dapat menguatkan kolaborasi pembangunan ekonomi di antara negara-negara ASEAN, khususnya pada sektor pariwisata.

Pada akhirnya, penerapan QRIS Cross-Border ini diharapkan tidak hanya mampu mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia saja, namun kawasan ASEAN juga. Hingga, bukan suatu kemustahilan apabila ekonomi ASEAN mampu mengejar ekonomi Cina atau bahkan Amerika Serikat. Bukankah Amerika Serikat merupakan sebuah negara yang terbagi menjadi beberapa negara bagian? 

ASEAN pun demikian, negara-negara ASEAN dapat bersatu dan membentuk sebuah kawasan yang dapat dinamakan ASEAN Serikat, dan jika disingkat namanya pun menjadi AS juga. Ini artinya ada duo AS di dunia ini yang saling berpacu dalam pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, kita semua harus kompak dalam mendukung penerapan QRIS Cross-Border yang dapat menjadi motor penggerak ekonomi kawasan ASEAN yang dikomandoi Indonesia sebagai negara dengan skala ekonomi terbesar di kawasan tersebut. 

Karya

Haris Fifta Putra

Juara 1 BI Digital Content Competition 2023

Kategori Featured Article

 


Lampiran
Kontak

Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB

Halaman ini terakhir diperbarui 3/18/2024 2:50 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?
Tag :

Baca Juga