“Dokter.. Apakah bisa tolong gugurkan anak di kandungan saya?”
Pertanyaan seperti ini tidak jarang ditujukan pada saya saat berpraktik sebagai dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Meskipun sudah beberapa kali mendengarnya, hati saya tetap hancur ketika ada nyawa tak berdosa yang tidak diinginkan oleh orang yang seharusnya paling mengasihinya.
Suatu hari saya bertemu sepasang suami istri dengan dua anak berumur 8 dan 5 tahun di sebuah klinik. Permintaan menggugurkan anak ketiga mereka keluar dari mulut sang ayah. “Dokter, tolong gugurkan kandungan istri saya,” begitu katanya dengan suara bergetar. Hal yang selalu saya tanyakan, “Kenapa ingin menggugurkan anak ini, Pak?”. Kali ini giliran sang ibu yang menjelaskan, “Kami baru ditipu orang, Dok. Uang hilang semua di tabungan setelah buka link. Kami tidak tahu harus bagimana. Yang terpikir adalah kami harus gugurkan anak ini karena tidak ada biayanya, Dok.”. Di ruangan klinik sore itu, saya merenung sambil mendengar isak tangis sang ibu.
***
Saat ini dunia menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Perang di beberapa negara, bencana alam, kelaparan, hingga perubahan iklim membuat roda ekonomi global tersendat. Demikian pula Indonesia, meski relatif lebih tangguh dibanding beberapa negara lain, tidak luput dari imbasnya. Di Indonesia harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja semakin kompetitif, banyaknya pekerja yang mengalami PHK, dan daya beli masyarakat menurun. Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang memilih bekerja lebih keras, namun tidak sedikit orang yang memilih jalan pintas: menipu.
Tanpa memandang siapa korbannya, sang penipu dengan mudah meraup yang bukan menjadi haknya. Di era digital, penipuan tidak lagi sekedar “surat kaleng warisan fiktif”. Kini, teknologi justru menjadi medium utama. Dari pesan singkat berisi link berbahaya, akun media sosial palsu, hingga skema investasi bodong yang dikemas rapi, semuanya memanfaatkan situasi ekonomi yang sulit dan kerentanan psikologis manusia. Korbannya bervariasi mulai dari pengusaha, pedagang kecil, buruh, orang tua atau anak muda.
Sedih rasanya mendengar salah satu pasien saya menjadi korban penipuan itu. Karena keterbatasan biaya untuk menghidupi anaknya, mereka sampai ingin menggugurkan kandungannya. Saya yakin di balik keputusan itu ada pergulatan batin yang berat, bukan semata keinginan pribadi, melainkan tekanan dari realitas hidup yang serba sulit. Saya memeriksa pasien itu seperti pasien lainnya, melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan ultrasonografi. Terlihat kantung kehamilan sesuai usia kandungan 10 minggu dan sudah terdengar detak jantung janin yang keras. Sungguh ironis, di satu sisi ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh, namun di sisi lain ada keluarga yang terjebak dalam ketidakberdayaan ekonomi akibat menjadi korban penipuan.
Terbesit di pikiran saya sebuah cara untuk melawan penipuan digital seperti ini. Menariknya, cara ini justru memiliki kesamaan prinsip dengan dunia kedokteran yang saya pelajari: jika kita tahu apa yang benar, maka kita akan peka terhadap yang salah. Prinsip sederhana, namun sangat kuat untuk dijadikan bekal menghadapi dunia yang penuh jebakan digital.
Sebagai seorang dokter, saya diajarkan sejak mahasiswa untuk mengenal anatomi tubuh yang benar. Guru saya pernah berkata “Dengan tahu susunan tubuh yang normal, dokter akan segera menyadari jika ada sesuatu yang tidak normal dan bisa mengenali ribuan penyakit”. Dulu saya tidak mengerti perkataan beliau. Bagaimana dengan menguasai beberapa hal saja, kita bisa mengenali ribuan penyakit. Namun empat belas tahun berlalu sejak saya mendengar ajaran itu, baru saya paham artinya. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, penemuan akan ratusan bahkan ribuan penyakit baru bermunculan. Pasien datang dengan berbagai keluhan baru yang terkadang tidak bisa ditemukan di textbook tebal yang saya pelajari. Ternyata tidak semua kelainan harus dihafalkan satu per satu. Dengan memahami bagaimana
seharusnya organ tubuh bekerja dan bagaimana bentuk anatominya, saya bisa dengan cepat mengetahui dimana titik penyakit atau organ yang diserang. Misalnya, saya tahu bahwa denyut nadi normal berkisar antara 60–100 kali per menit. Jika pasien yang saya periksa memiliki denyut nadi 40 atau 140 kali per menit, alarm dalam diri saya otomatis berbunyi: ada yang salah. Prinsip ini berlaku universal: mengetahui kebenaran membuat kita lebih peka terhadap kesalahan
Setelah saya renungkan fenomena penipuan digital bekerja menyerupai dengan penyakit: ia menyerang saat pertahanan sedang lemah. Banyak orang berpikir mereka harus menghafal dan mengenali seluruh jenis modus penipuan, padahal sama seperti seorang dokter yang tidak harus menghafal dan mengenai seluruh jenis penyakit. Setiap hari, metode penipuan baru terus muncul. Solusi sebenarnya bukanlah menghafal semua modus, melainkan setidaknya ada dua hal yang harus kita pahami.
Pertama, kebenaran mengenai psikologi manusia, mengapa kita dapat ditipu. Dari beberapa jurnal yang saya baca, beberapa sifat alamiah manusia dapat menjadi “pintu masuk” bagi penipu digital.
Manusia secara alamiah memiliki kepercayaan (trust) terhadap orang lain, terlebih bila sosok yang muncul dirasa akrab atau link yang dikirim bersifat resmi. Penipu memanfaatkan aspek ini dengan sangat cerdik – mereka mempersonalisasi pesan, menggunakan nama, status atau informasi korban seolah-olah didapat dari sumber yang sah. Karena kepercayaan ini, korban dapat dengan mudah membuka pesan jebakan atau bahkan sampai memberitahukan data pribadinya. Inilah mengapa kepercayaan dapat menjadi “pintu masuk” bagi penipu digital.1-3
Selain itu, manusia juga secara alamiah memiliki rasa takut (fear), urgensi, dan rasa ingin tahu (curiosity). Hal ini dapat memicu respon impulsif manusia. Pasien yang saya ceritakan di awal mendapatkan pesan “menarik” di smartphone miliknya bahwa akan ada imbalan sebesar dua puluh juta rupiah bagi 50 orang pertama yang
menekan link tertera. Kombinasi kesulitan ekonomi yang sedang dialami pasien saya, dengan rasa urgensi dan emosional mempersingkat waktu berpikir kritis,
sehingga dia bertindak terburu-buru tanpa memeriksa fakta atau mencurigai bahwa ini mungkin penipuan. Rasa takut akan kerugian atau kehilangan menggerakkan orang melakukan tindakan yang sebenarnya di luar kebiasaannya.1
Dengan memahami aspek psikologis ini, kita bisa lebih waspada. Sama halnya seperti dokter yang tahu bahwa pasien dengan faktor risiko tertentu lebih mudah terkena penyakit, kita pun bisa mengenali kondisi rawan terjadinya penipuan.
Kedua, memahami transaksi yang benar. Manusia kadangkala kekurangan literasi digital dan tidak selalu mengetahui seperti apa transaksi digital yang benar. Akibatnya, kita tidak punya tolok ukur atau standar yang jelas untuk membandingkan mana yang normal dan mana yang mencurigakan. Jika kita tahu alur transaksi digital yang benar, maka segala sesuatu yang menyimpang akan terasa janggal. Sederhananya, jika kita tahu bahwa bank dan institusi resmi tidak pernah meminta data pribadi (PIN, OTP, CVV, password) melalui telepon, SMS atau pesan di WhatApp maka setiap ada yang menanyakan hal tersebut bisa langsung dikenali sebagai penipuan.
Bank Indonesia sebenarnya sudah sejak tahun 2020 semakin gencar melakukan literasi digital dan perlindungan konsumen. Salah satu kampanye andalannya adalah PeKA: Peduli, Kenali, dan Adukan. Saya melihat sudah banyak artikel dan video edukasi mengenai hak dan kewajiban konsumen agar tidak mudah tertipu. Dengan banyaknya media informasi seperti ini seharusnya kita bisa mendeteksi penyimpangan sekecil apa pun. Kalaupun kita sudah terlanjur menjadi korban, jangan diam. Kita seharusnya tau mekanisme pengaduan resmi yang bisa membantu meminimalisir kerugian. Ada juga layanan BICARA 131 sebagai pusat aduan masyarakat yang mudah diakses. Semua ini menunjukkan bahwa Bank Indonesia ingin melindungi konsumen, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi edukasi. Kewajiban kita adalah memperkaya literasi dan waspada terhadap titik lemah.
Sebuah pesan ikonik yang diucapkan Bang Napi, seorang host acara kriminal di televisi:
“Ingat, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. WASPADALAH! WASPADALAH! WASPADALAH!”
Melalui pesan itu, saya belajar bahwa memperlengkapi diri kita dengan informasi dan ilmu pengetahuan sama pentingnya dengan menjaga diri untuk tidak lengah dari penjahat.
***
“Pak, Bu, kehamilan ini baik. Adik bayi sudah berusia 10 minggu atau 2,5 bulan. Saya percaya bahwa Tuhan selalu memberikan masalah satu paket dengan solusinya. God’s will, God’s bill. Ketika Tuhan percayakan buah hati di rahim Ibu, saya percaya Tuhan juga sudah siapkan segala kebutuhan untuk dia melalui Bapak dan Ibu. Kehamilan ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan baru kalian sebagai keluarga.” hanya ini yang bisa saya sampaikan pada mereka. Hasil gambar ultrasonografi dicetak, vitamin kehamilan ditebus dan akhirnya keluarga itu keluar dari ruangan praktik saya dengan mantap untuk melanjutkan kehamilannya. Saya berharap tidak ada lagi nyawa yang harus dipertaruhkan akibat korban penipuan digital. WASPADALAH!
Referensi:
1. Montañez R, Golob E and Xu S (2020) Human Cognition Through the Lens of Social Engineering Cyberattacks. Front. Psychol. 11:1755. doi: 10.3389/fpsyg.2020.01755
2. Siddiqi, M.A.; Pak, W.; Siddiqi, M.A. A Study on the Psychology of Social Engineering-Based Cyberattacks and Existing Countermeasures. Appl. Sci. 2022, 12, 6042. https://doi.org/ 10.3390/app12126042
3. https://www.coalitioninc.com/blog/security-labs/the-psychology-of-social engineering