Di satu tempat, seorang petani muda di pinggiran kota dengan santainya memantau kadar air lahan dari layar ponsel. Cukup sentuh, sistem irigasi otomatis menyala. Tapi di pelosok desa, ada pula petani yang masih menebak kapan hujan akan turun sambil menengadah ke langit, berharap cuaca berpihak padanya.
Keduanya sama-sama menanam harapan, tapi tidak sama dalam kesempatan.
Inilah gambaran tantangan kita hari ini. Ketimpangan pemanfaatan teknologi di sektor pangan. Namun, justru dari keterbatasan itulah, lahir sebuah gagasan besar: frugal innovation, inovasi hemat namun berdampak hebat.
Hal ini dibahas mendalam pada perhelatan FEKDI x IFSE 2025, dalam sebuah sesi casual talk, frugal innovation adalah pendekatan pengembangan teknologi yang berfokus pada efisiensi sumber daya, baik dari sisi komputasi, energi, biaya, maupun data, tanpa mengorbankan manfaat dan dampak sosialnya.
Potensi Besar, Peluang Tak Terbatas
Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ini berkontribusi sekitar 12,4% terhadap PDB nasional pada tahun 2024, dan menyerap hampir 30% tenaga kerja Indonesia. Tak hanya soal pangan, di dalamnya ada jutaan UMKM yang bergerak di bidang olahan hasil bumi, pangan lokal, hingga agrowisata.
Namun sayangnya, produktivitas belum sejalan dengan potensinya. Sebagian petani masih terjebak pada pola konvensional: sistem tanam manual, prediksi cuaca yang mengandalkan intuisi, dan distribusi hasil panen yang belum efisien. Di sinilah peran teknologi hadir, bukan untuk menggantikan petani, tapi untuk membantu mereka tumbuh lebih cepat dan lebih cerdas.
Smart Farming yang Sederhana tapi Berdampak
Digitalisasi di sektor pangan bukan hal yang jauh di awang-awang. Kini, smart farming tak lagi identik dengan alat mahal atau teknologi rumit.
Sensor kelembaban tanah berbasis Internet of Things (IoT) bisa dibuat dengan biaya di bawah satu juta rupiah. Drone pemantau tanaman kini bisa dirakit oleh mahasiswa. Bahkan, aplikasi prediksi cuaca dan pola tanam bisa diunduh gratis di ponsel biasa.
Dengan smart farming sederhana seperti ini, petani bisa tahu kapan harus menyiram, berapa banyak pupuk yang dibutuhkan, hingga waktu panen terbaik. Semua berbasis data, bukan lagi tebak-tebakan.
Inilah esensi frugal innovation: menciptakan solusi efisien dengan sumber daya minimal.
Teknologi yang tidak mewah, tapi bermanfaat. Tidak kompleks, tapi inklusif.
Frugal Innovation: Keterbatasan yang Menjadi Keunggulan
Frugal innovation bukan tentang “murah”, melainkan tentang cerdas dan berdampak.
Misalnya alat pendeteksi hama dari kamera ponsel yang diolah dengan algoritma ringan. Inovasi seperti ini adalah bentuk nyata low-cost technology for high-impact results.
Konsep ini juga sejalan dengan semangat empathic technology, yakni teknologi yang memahami pengguna. Bagi petani, AI (Artificial Intelligence) bukan sekadar alat pintar, tapi mitra yang membantu. Dengan empathic AI, petani bisa mendapatkan rekomendasi pemupukan yang tepat, memantau hama secara real-time, hingga memprediksi tren harga pangan dengan mudah.
Kolaborasi dan Sinergi: Gerakan Nyata dari Bank Indonesia dan mitra terkait
Tentu, inovasi tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara kebijakan, teknologi, dan masyarakat.
Bank Indonesia (BI) turut berperan dalam mendorong transformasi ini melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Program ini bukan hanya tentang menjaga harga pangan tetap stabil, tapi juga memperkuat fondasi produktivitas nasional.
Dalam GNPIP, BI mendorong digitalisasi rantai pasok pertanian, memfasilitasi pencatatan distribusi secara elektronik, hingga membuka akses ke sistem pembayaran digital melalui QRIS untuk memudahkan transaksi antar petani, pedagang, dan pembeli. Bahkan di beberapa daerah, inovasi seperti smart irrigation system dan e-logistics dashboard sudah diimplementasikan untuk mempercepat distribusi pangan.
Kuncinya satu: kolaborasi. Pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas petani harus berjalan beriringan, menjadikan digitalisasi bukan sekadar tren, tapi strategi bertahan dan tumbuh.
Ketahanan Pangan menjadi Harapan Ekonomi
Digitalisasi di sektor pangan bukan sekadar menjawab tantangan hari ini, tapi membangun masa depan yang tangguh.
Dengan pendekatan frugal innovation, pertanian bisa menjadi lebih efisien, ramah lingkungan, dan berdaya saing. UMKM pangan bisa memperluas pasar, meningkatkan efisiensi produksi, dan memperkuat posisi mereka dalam rantai ekonomi nasional.
Tak hanya itu, frugal innovation juga membuka peluang bagi anak muda. Menciptakan teknologi tepat guna yang menjawab persoalan nyata di lapangan.
Dari sinilah lahir generasi baru inovator bangsa: bukan hanya tech-savvy, tapi juga impact-driven.
Salah satu buktinya bisa dilihat lewat BI–OJK Hackathon 2025, bagian dari rangkaian FEKDI x IFSE 2025. Melalui ajang ini, anak muda dari berbagai daerah beradu ide menghadirkan solusi digital yang inklusif dan hemat biaya, mulai dari penerapan AI untuk sektor pangan dan pertanian, hingga pengembangan sistem cerdas bagi UMKM. Hackathon ini bukan sekadar lomba, tetapi wadah kolaborasi untuk membangun inovasi sederhana yang punya dampak besar.
Menanam Harapan, Menuai Masa Depan
Sobat Rupiah, dunia kini berubah cepat, tapi bukan berarti kita harus tertinggal.
Dengan semangat frugal innovation, kita belajar bahwa kemajuan tidak harus mahal, dan teknologi bisa jadi sahabat yang merangkul, bukan meminggirkan.
Bank Indonesia percaya, ekonomi yang kuat berawal dari ekosistem yang inklusif. Dari sawah yang cerdas, dari tangan petani yang melek data, dari inovasi kecil yang berdampak besar.
Jadi, mari bersama menjaga pangan, mendukung petani, dan menanam masa depan yang lebih hijau dengan inovasi yang sederhana namun bermakna.
Karena dari satu ide hemat, bisa tumbuh ekonomi hebat!