Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II-2010 - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
05 Agustus 2020

Tinjauan Umum
 
Perekonomian Indonesia pada triwulan II-2010 menunjukkan penguatan ekonomi yang terus berlanjut. Optimisme tersebut didukung oleh kinerja investasi dan ekspor yang tumbuh lebih tinggi, seiring dengan perbaikan ekonomi global. Kondisi perekonomian yang semakin menunjukkkan suasana optimis tersebut mendukung prospek ekonomi lebih baik dari perkiraan semula. Perekonomian Indonesia di tahun 2010 diperkirakan akan tumbuh menuju batas atas kisaran 5,5%-6,0% dan pada tahun 2011 mencapai 6,0%-6,5%. Dari sisi harga, tekanan inflasi sepanjang triwulan II-2010 menunjukkan peningkatan yang disebabkan oleh kelompok volatile food, yaitu dari aneka bumbu dan beras. Sementara itu, kelompok administered prices dan inflasi inti memberi kontribusi yang menimal terhadap perkembangan harga sepanjang triwulan II-2010. Dengan demikian, secara keseluruhan tahun, inflasi IHK tahun 2010 akan tetap berada pada kisaran sasaran inflasi sebesar  5%±1%.

Pemulihan ekonomi global masih terus berlanjut, meskipun diwarnai tekanan di pasar keuangan global dan kekhawatiran terhadap sustainabilitas pemulihan ekonomi Eropa. Laju pemulihan ekonomi global pada triwulan II-2010 diperkirakan moderat dibandingkan dengan triwulan I-2010. Meskipun demikian, perkembangan tersebut tetap menimbulkan optimisme yang positif terhadap proses pemulihan global. Kondisi tersebut didukung oleh membaiknya kondisi di negara maju, terutama AS dan Jepang, serta sejumlah negara di Asia. Di kawasan Asia, pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan kecuali China yang sedikit melambat, terkait kebijakan yang ditempuh pemerintah China untuk mengatasi gejala overheating. Krisis Eropa memicu tekanan di pasar keuangan global sepanjang triwulan II-2010, tercermin dari anjloknya bursa saham global dan melonjaknya CDS serta yield spread PIIGS (Portugal, Italy, Ireland, Greece, and Spain). Di Asia, flight to quality terindikasi dari posisi jual neto investor asing di bursa saham, pelemahan mata uang regional, serta meningkatnya CDS sovereign. Sejauh ini dampak krisis di Eropa lebih banyak terasa pada tekanan di pasar keuangan global dan belum berpengaruh signifikan terhadap prospek pemulihan ekonomi global secara keseluruhan. Berbagai upaya yang ditempuh negara yang mengalami krisis di Eropa seperti austerity program, bantuan EU dan IMF sejauh ini mampu meredam gejolak pasar keuangan global yang terjadi sepanjang triwulan II-2010.

Kinerja ekonomi domestik triwulan II-2010 diperkirakan lebih baik dari proyeksi sebelumnya. Pada triwulan II-2010, ekonomi domestik diperkirakan tumbuh 6,0%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,7%. Optimisme tersebut didukung oleh kinerja investasi yang tumbuh lebih tinggi. Pertumbuhan investasi diperkirakan mencapai 10% (yoy) pada triwulan II-2010, sebagai respons dari permintaan domestik dan eksternal yang semakin kuat. Iklim investasi yang lebih baik juga didukung oleh sovereign credit rating Indonesia yang terus meningkat sejalan dengan semakin membaiknya fundamental ekonomi. Secara sektoral, kinerja ekonomi tahun 2010 terutama didukung oleh sektor perdagangan hotel dan restoran (PHR) serta sektor pengangkutan dan komunikasi. Akselerasi perekonomian domestik yang lebih tinggi membutuhkan dukungan terutama terkait implementasi percepatan program-program infrastruktur.

Pertumbuhan ekonomi yang terus membaik, tercermin pula pertumbuhan ekonomi daerah yang terus menguat. Kinerja perekonomian daerah terutama ditopang oleh perekonomian di Jakarta, Jawa Bagian Barat, Jawa Bagian Timur serta Sulawesi, Maluku dan Papua. Kinerja perkembangan ekonomi daerah yang membaik tersebut terutama didukung oleh membaiknya kinerja konsumsi, investasi dan ekspor. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di daerah yang tetap kuat ditunjukkan oleh pertumbuhan kredit konsumsi yang meningkat, pertumbuhan penjualan eceran yang tetap tinggi, dan stabilnya nilai tukar petani di berbagai wilayah. Selain itu, penyelenggaraan Pilkada, yang terkonsentrasi di triwulan II-2010, berperan pula dalam meningkatkan konsumsi daerah. Dari sisi investasi, peningkatan terutama terjadi pada investasi bangunan. Kegiatan investasi bangunan yang tumbuh cukup tinggi terjadi di Sumatera, Jakarta serta Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kegiatan investasi bangunan di daerah-daerah tersebut terutama pada sektor properti untuk komersial dan residensial. Dari sisi ekspor, pertumbuhan yang tetap tinggi terjadi di Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua dan Sumatera untuk komoditas hasil tambang dan Jakarta serta Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara untuk produk manufaktur.

Dari sisi harga, tekanan inflasi sepanjang triwulan II-2010 menunjukkan peningkatan yang bersumber dari faktor nonfundamental. Kenaikan harga komoditas bumbu-bumbuan dan beras sepanjang triwulan II-2010 memberi tekanan pada inflasi IHK cukup signifikan. Inflasi IHK pada Juni 2010 tercatat sebesar 0,97 (mtm), lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya yaitu 0,15% di Mei dan -0,14% di April 2010. Dengan perkembangan tersebut, selama triwulan II-2010 inflasi IHK tercatat sebesar 1,41 (qtq) atau mencapai 5,05% (yoy), meningkat signifikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 0,99% (qtq) atau 3,43% (yoy). Tingginya inflasi komoditas bahan makanan terjadi karena kendala pasokan yang dipicu oleh gangguan produksi dan distribusi akibat tingginya curah hujan di beberapa daerah. Sementara itu, perkembangan harga kelompok administered prices berdampak relatif kecil pada inflasi IHK. Dari sisi faktor fundamental, tekanan inflasi inti masih relatif rendah, ditopang oleh terkendalinya ekspektasi inflasi, minimalnya tekanan eksternal dan masih memadainya respons penawaran terhadap kenaikan permintaan. Meskipun tekanan inflasi pada triwulan II-2010 meningkat, secara keseluruhan tahun inflasi IHK diperkirakan akan tetap berada pada kisaran sasaran inflasi 5%±1%.

Kondisi ekonomi global yang semakin kondusif dan fundamental ekonomi domestik yang cukup kuat mendukung neraca pembayaran Indonesia (NPI) triwulan II-2010 tetap solid. Transaksi berjalan diperkirakan akan mencatat surplus, terutama disebabkan oleh perbaikan ekonomi global yang terus berlanjut dan tren kenaikan harga komoditas global. Dari sisi neraca transaksi modal dan finansial (TMF) triwulan II-2010 diperkirakan juga mencatat surplus. Surplus neraca TMF didukung oleh kembali masuknya arus modal asing sejalan dengan gejolak pasar keuangan global yang mereda dan perbaikan outlook credit rating Indonesia. Dengan perkembangan tersebut cadangan devisa pada akhir Juni 2010 mencapai 76,3 miliar dolar AS, atau setara dengan 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Sejalan dengan kinerja NPI yang solid dan faktor risiko yang terjaga, nilai tukar rupiah berada pada tren menguat. Jika dibandingkan dengan triwulan I-2010, secara rata-rata rupiah menguat sebesar 1,58% (qtq), mencapai Rp9.110 per dolar AS. Penguatan rupiah pada triwulan II tersebut diikuti oleh volatilitas yang turun dari 0,57% pada triwulan I-2010 menjadi 0,47% pada triwulan II-2010. Pada akhir triwulan II-2010 rupiah ditutup pada level Rp9.060 per dolar AS, atau menguat 0,33% (ptp) dibandingkan dengan triwulan I-2010. Paket kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia pada tanggal 15 Juni 2010 secara umum direspons positif oleh pelaku pasar baik domestik maupun internasional sehingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah mereda, dan semakin memperkuat manajemen moneter dan pendalaman pasar keuangan.

Kinerja pasar keuangan secara keseluruhan pada triwulan II-2010 membaik, meski sempat tertekan pada Mei 2010. Kondisi pasar SUN dan pasar modal berangsur membaik, setelah sempat tertekan sentimen negatif krisis utang di Eropa pada Mei 2010. Membaiknya pasar modal dan SUN pada triwulan II-2010 ditopang oleh kembali masuknya dana investor asing dan meredanya tekanan bubble di pasar saham. Di pasar uang antarbank, kondisi likuiditas selama triwulan II-2010 cukup baik. Pelebaran koridor suku bunga PUAB O/N per 17 Juni 2010 berdampak pada penurunan suku bunga PUAB O/N. Sejalan dengan perbaikan kondisi global dan fundamental domestik, transmisi kebijakan moneter terus membaik. Hal tersebut tercermin dari penurunan suku bunga deposito dan kredit, serta pertumbuhan kredit yang meningkat diperkirakan mencapai 18,6% pada Juni 2010.

Di sisi mikro perbankan, kondisi perbankan nasional tetap stabil. Hal itu tercermin dari masih terjaganya rasio kecukupan modal (CAR) per Mei 2010 sebesar 17,8%. Sementara itu, rasio gross non-performing loan (NPL) tetap terkendali pada 3,6% dengan rasio neto sebesar 1%. Selain itu likuiditas perbankan, termasuk likuiditas di pasar uang antar bank kian membaik dan dana pihak ketiga (DPK) yang masih meningkat.
Dengan mempertimbangkan bahwa tingkat BI Rate 6,5% masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5%±1% dan arah kebijakan moneter saat ini juga dipandang masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian di tengah masih tingginya risiko global yang bersumber dari krisis utang di sejumlah negara Eropa, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 5 Juli 2010 memutuskan untuk  mempertahankan BI Rate pada level 6,5% dengan koridor suku bunga PUAB O/N sebagai sasaran operasional kebijakan moneter sebesar ±100 bps. 
 

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel