Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sumatera Utara Agustus 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Januari 2020
​​

ASESMEN MAKRO EKONOMI REGIONAL

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada triwulan II 2017 tumbuh sebesar 5,09 % (yoy) meningkat tajam dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,50% (yoy). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Sumatera Utara masih cukup kuat. Hal ini terutama didorong oleh peningkatan investasi di tengah permintaan domestik yang sedikit melambat. Namun demikian, permintaan domestik masih tumbuh tinggi dan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara. Kegiatan investasi terkait dengan membaiknya kinerja industri pengolahan merespons peningkatan ekspor luar negeri khususnya komoditas CPO. Sementara itu, konsumsi yang masih cukup solid seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat karena THR, penerimaan ekspor dan gaji ke 14. Secara sektoral, kinerja 4 sektor utama (sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi) pada triwulan II 2017 cenderung meningkat. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan kinerja sektor pertanian khususnya subsektor perkebunan. Puncak panen kelapa sawit yang jatuh pada triwulan II 2017 dan perbaikan permintaan dunia serta pertumbuhan harga CPO yang masih positif telah menopang peningkatan kinerja subsektor perkebunan khususnya kelapa sawit. Perbaikan subsektor perkebunan tersebut mendorong peningkatan kinerja sektor industri pengolahan.

ASESMEN KEUANGAN DAERAH

Sesuai dengan polanya, belanja fiskal Provinsi Sumatera Utara baik yang dibiayai oleh APBD Provinsi maupun APBD Kabupaten/Kota mengalami sedikit peningkatan meskipun penyerapannya belum optimal yang mencapai 33,7% dari Pagu atau lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 55,3%. Diperkirakan realisasi anggaran pemerintah daerah akan dilakukan pada triwulan III dan IV 2017 meskipun masih dibayangi oleh risiko adanya penundaan penyaluran DAU untuk daerah-daerah dengan realisasi belanja yang masih rendah.  

ASESMEN INFLASI          

Membaiknya pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada triwulan II 2017 diikuti oleh terkendalinya tekanan inflasi. Inflasi IHK pada triwulan II 2017 tercatat sebesar 3,75% (yoy), menurun dibanding triwulan I 2017 sebesar 3,91% (yoy). Capaian tersebut juga berada dibawah inflasi nasional yang mencapai 4,4% (yoy). Rendahnya capaian inflasi ini terutama didorong oleh membaiknya pasokan pangan sehingga mendorong penurunan harga pangan yang cukup dalam dibandingkan tahun 2016. Dengan capaian tersebut, inflasi tahun kalender Sumatera Utara baru mencapai -0,43% (ytd). Dengan perkembangan tersebut dan inflasi Juli 2017 yang masih tercatat mengalami deflasi, inflasi 2017 diperkirakan berada pada kisaran sasaran inflasi 4±1%. Sementara itu, tekanan inflasi inti juga relatif menurun ditopang oleh apresiasi nilai tukar ditengah tingkat pendapatan masyarakat yang masih tertekan oleh penurunan harga komoditas perkebunan. Meskipun demikian, tingkat optimisme masyarakat dalam merealisasikan aktivitas konsumsinya masih cukup baik yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang cenderung meningkat. Di sisi lain, tekanan inflasi Administered Prices  justru cenderung menahan lebih dalamnya penurunan tekanan inflasi. Tekanan inflasi administered prices cenderung meningkat terkait dengan adanya penyesuaian beberapa komoditas yang diatur pemerintah. Secara umum, rendahnya capaian inflasi mendorong optimisme capaian inflasi tahunan 2017 yang diperkirakan berada pada sasaran inflasi nasional, yaitu sebesar 4±1%. Meski demikian, tetap patut diwaspadai risiko inflasi terkait dengan peningkatan tekanan inflasi dari sisi administered prices terkait rencana penyesuaian BBM satu harga yang rencananya.  

ASESMEN STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM

Membaiknya perekonomian Sumatera Utara pada triwulan II 2017 ditopang oleh stabilitas keuangan Sumatera Utara yang relatif terjaga. Kinerja perbankan di Sumatera Utara menunjukkan intermediasi perbankan yang cukup baik yang tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang telah mencapai 92,2% disertai dengan risiko kredit yang masih di bawah level indikatif (2,8%). Meskipun demikian, kinerja perbankan masih belum optimal terkait dengan perkembangan aset, dana dan kredit yang cenderung melambat.

Sejalan dengan hal tersebut, perbaikan perekonomian Sumatera Utara turut ditopang oleh kondisi ketahanan korporasi di Sumatera Utara yang masih terjaga. Risiko rentabilitas, solvabilitas, dan interest service coverage ratio membaik, sementara tingkat risiko likuiditas, turn over aset dan persediaan relatif stabil. Membaiknya kinerja korporasi pada triwulan II 2017 diperkirakan didorong oleh korporasi yang terus melakukan efisiensi akibat belum cukup kuatnya tingkat permintaan ditengah harga jual yang cenderung menurun.  

ASESMEN PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Membaiknya perekonomian Sumatera Utara pada triwulan II 2017 ditopang oleh stabilitas keuangan Sumatera Utara yang relatif terjaga. Kinerja perbankan di Sumatera Utara menunjukkan intermediasi perbankan yang cukup baik yang tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang telah mencapai 92,2% disertai dengan risiko kredit yang masih di bawah level indikatif (2,8%). Meskipun demikian, kinerja perbankan masih belum optimal terkait dengan perkembangan aset, dana dan kredit yang cenderung melambat.

Sejalan dengan hal tersebut, perbaikan perekonomian Sumatera Utara turut ditopang oleh kondisi ketahanan korporasi di Sumatera Utara yang masih terjaga. Risiko rentabilitas, solvabilitas, dan interest service coverage ratio membaik, sementara tingkat risiko likuiditas, turn over aset dan persediaan relatif stabil. Membaiknya kinerja korporasi pada triwulan II 2017 diperkirakan didorong oleh korporasi yang terus melakukan efisiensi akibat belum cukup kuatnya tingkat permintaan ditengah harga jual yang cenderung menurun..   

ASESMEN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Membaiknya kinerja perekonomian Sumatera Utara pada Triwulan II 2017 belum tercermin pada perbaikan kondisi ketenagakerjaan, Namun demikian persepsi terhadap ketersediaan tenaga kerja pada triwulan mendatang meningkat. Sementara itu, tingkat kemiskinan di Sumatera Utara per triwulan I 2017  tercatat sebanyak 1.453,9 ribu jiwa atau 10,22% dari jumlah penduduk Sumatera Utara. Kondisi tersebut lebih baik dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya.  Perbaikan tingkat kemiskinan di Sumatera Utara juga terlihat dari  angka kemiskinan  yang berada di bawah angka kemiskinan Nasional yang tercatat sebesar 10,64%. Seiring dengan perbaikan tersebut, Indeks Keparahan dan Indeks Kedalaman Kemiskinan pada Triwulan I 2017 juga menunjukkan penurunan. Hal ini mengindikasikan ketimpangan kemiskinan semakin berkurang.    

PROSPEK PEREKONOMIAN

Pada triwulan IV 2017 perekonomian Sumatera Utara diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan III 2017 yang didorong oleh permintaan domestik seiring dengan realisasi anggaran pemerintah terutama belanja modal yang semakin meningkat. Optimisme konsumen diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya seiring dengan perayaan Natal dan Tahun Baru. Dari sisi eksternal kinerja ekspor pada triwulan IV 2017 juga diperkirakan masih tumbuh positif, seiring dengan pola seasonalnya dan perbaikan permintaan dari negara tujuan utama seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. Sementara itu, harga CPO ke depan diperkirakan akan menurun akibat kembali normalnya pasokan dari Indonesia dan Malaysia pasca anomali cuaca di tahun 2016 menjadi faktor utama yang menekan harga CPO di 2017 serta terhambatnya permintaan akibat penerapan proteksi perdagangan di beberapa negara konsumen utama CPO seperti India dan negara-negara di Eropa. Secara keseluruhan tahun, kinerja perekonomian Sumatera Utara pada tahun 2017 diperkirakan stabil, berada dalam kisaran 5,1%-5,5% (yoy). Perbaikan perekonomian pada tahun 2017 disertai dengan perkiraan akan kembali terjangkarnya inflasi yang diperkirakan akan berada pada kisaran 4,0 ± 1% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2016. Rendahnya tekanan inflasi pada tahun 2017 ditopang oleh pasokan pangan yang membaik.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel