Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sumatera Barat Periode November 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
02 Oktober 2020

Seirama dengan kinerja perekonomian nasional, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat mencatatkan perbaikan pada triwulan III 2017. Laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat mampu tumbuh sebesar 5,38% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2017 sebesar 5,33% (yoy). Dengan realisasi tersebut, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat berada di posisi tertinggi kedua di kawasan Sumatera. ​

Penopang pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan laporan berasal dari perbaikan kinerja domestik (konsumsi pemerintah dan investasi) dan eksternal (ekspor luar negeri). Pemberian gaji ke-13 PNS dan percepatan pengerjaan proyek infrastruktur pemerintah mendorong kenaikan laju pertumbuhan konsumsi pemerintah dan investasi pada triwulan laporan. Sementara itu, membaiknya harga komoditas internasional dan permintaan negara mitra dagang menjadi pendorong perbaikan kinerja ekspor luar negeri. ​

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan disebabkan oleh peningkatan kinerja industri pengolahan dan perdagangan. Peningkatan kinerja industri pengolahan terjadi terutama karena pengolahan CPO, sebagai imbas dari kenaikan permintaan ekspor. Sedangkan meningkatnya naiknya pertumbuhan lapangan usaha perdagangan disebabkan oleh kenaikan permintaan dan produksi barang akibat adanya sejumlah agenda acara berskala nasional dan internasional. ​

Meningkatnya realisasi Dana Perimbangan menyebabkan realisasi pendapatan Provinsi Sumatera Barat meningkat. Peningkatan pendapatan diikuti dengan kenaikan realisasi belanja pada triwulan III 2017. Kenaikan realisasi belanja Provinsi Sumatera Barat disebabkan oleh adanya pengalihan beberapa kewenangan dan tanggung jawab penggajian beberapa Aparatur Sipil Negara (ASN) khususnya guru SMA/SMK dan sederajat lainnya dari yang sebelumnya merupakan kewenangan kabupaten/kota menjadi kewenangan provinsi sebagaimana amanat UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. ​

Inflasi Sumatera Barat pada triwulan III 2017 mereda akibat masih terjaganya kecukupan pasokan bahan makanan. Laju inflasi Sumbar pada triwulan III 2017 tercatat sebesar 2,33% (yoy), atau lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 5,00% (yoy), terutama karena menurunnya tekanan harga dari kelompok bahan makanan. Masih terjaganya pasokan cabai merah seiring panen di berbagai daerah serta normalisasi harga berbagai barang dan jasa pasca Lebaran menjadi faktor rendahnya inflasi triwulan III 2017. ​

Secara umum, stabilitas keuangan daerah relatif stabil. Hal tersebut didukung oleh kinerja sektor korporasi yang berlanjut menunjukkan perbaikan. Membaiknya harga komoditas penopang pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat, yakni CPO dan karet, yang masih berlangsung hingga triwulan III 2017 berdampak pada membaiknya kinerja sektor korporasi. Sementara itu, kinerja sektor rumah tangga belum menunjukkan banyak perbaikan, tercermin dari pertumbuhan yang terbatas pada kredit sektor rumah tangga. ​

Kinerja kredit perbankan di Sumatera Barat mengalami pertumbuhan yang melambat. Risiko kredit bank umum di Sumatera Barat pada triwulan III 2017 mengalami perbaikan karena adanya perbaikan kemampuan membayar utang debitur. Pada triwulan III 2017 rasio kredit bermasalah/Non Performing Loan (NPL) bank umum di Sumatera Barat turun menjadi 3,21% dari sebelumnya sebesar 3,26%. Penurunan NPL tersebut juga diikuti oleh penurunan Loan at Risk (LAR) yang menunjukkan bahwa turunnya NPL memang disebabkan oleh adanya pembayaran cicilan dari debitur yang telah dikategorikan non performing. ​

Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) menunjukkan perbaikan, baik dari sisi nominal maupun volume transaksi. Secara volume, terjadi kenaikan transaksi kliring menjadi 74.896 lembar dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebanyak 71.897 lembar. Sedangkan dari sisi nominal, transaksi kliring juga mengalami kenaikan di level Rp3,0 triliun. Kembali normalnya pola konsumsi masyarakat pasca lebaran berimbas pada penurunan penggunaan uang tunai dan kembali normalnya tren transaksi kliring di Sumatera Barat. ​

Pengelolaan uang rupiah, arus uang masuk (inflow) lebih dominan dibandingkan arus uang keluar (outflow). Pada triwulan III 2017, inflow tercatat sebesar Rp5,5 triliun, atau meningkat 2,82% (yoy) dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya. Sedangkan arus kas yang keluar (outflow) hanya sebesar Rp799 miliar atau turun sebesar 55,26% (yoy). Secara keseluruhan, net inflow mengalami kenaikan yang signifikan mencapai 31,71% (yoy) atau sebesar Rp4,73 trilun. Pasca momen lebaran dan Idul Fitri, arus uang masuk sangat deras membanjiri sistem kas perbankan di Sumatera Barat. Masyarakat berangsur-angsur kembali menyetorkan uangnya ke perbankan. ​

Kondisi ketenagakerjaan mencatat penurunan ditengah perbaikan kinerja ekonomi. Kondisi tersebut tercermin dari menurunnya tingkat partisipasi angkatan kerja dan meningkatnya tingkat pengangguran pada Agustus 2017 dibandingkan periode sama tahun 2016. Ketenagakerjaan di Sumatera Barat menghadapi berbagai tantangan, yakni tambahan angkatan kerja yang tidak sejalan dengan pembukaan lapangan pekerjaan baru, kualitas pencari kerja yang tidak sesuai dengan kualifikasi perusahaan, serta keterbatasan anggaran pemda untuk pembenahan infrastruktur dan pelatihan ketenagakerjaan. ​

Membaiknya pertumbuhan ekonomi diiringi dengan peningkatan kesejahteraan daerah. Jumlah penduduk miskin, persentase penduduk miskin, dan indeks keparahan kemiskinan membaik pada tahun 2017. Ketimpangan atau ketidakmerataan penduduk menurun, tercermin dari angka rasio gini Sumatera Barat berada pada urutan terendah ke-3 (tiga) di Sumatera dan ke-5 (lima) di nasional. Indikator lain perbaikan kualitas hidup tercermin juga dari meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Perbaikan kesejahteraan daerah terindikasi didorong oleh meningkatnya pendapatan imbas dari peningkatan harga internasional (CPO dan karet) terutama bagi masyarakat yang sebagian besar mata pencahariannya bergantung pada komoditas tersebut. ​

Laju pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 5,2% - 5,6% (yoy). Akselerasi pertumbuhan terjadi seiring adanya peningkatan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi. Penyelenggaraan event nasional dan internasional, serta peningkatan permintaan saat liburan akhir tahun merupakan faktor pendorong konsumsi masyarakata. Semakin masifnya penyelesaian proyek fisik pemerintah dan strategi promosi investasi diduga menjadi pendorong meningkatnya investasi. Di sisi lain, sesuai pola historisnya. pengeluaran pemerintah mengalami puncaknya pada triwulan akhir. Secara sektoral, penopang pertumbuhan ekonomi berasal dari perbaikan kinerja lapangan usaha perdagangan, serta transportasi dan pergudangan. ​

Setelah mengalami inflasi yang rendah dari triwulan I hingga triwulan III 2017 dengan capaian inflasi tahun kalender sebesar 0,66% (ytd), inflasi pada triwulan IV 2017 diperkirakan meningkat. Pada triwulan IV 2017, inflasi Sumbar diperkirakan lebih banyak bersumber dari kelompok volatile food dan administered price. Hingga bulan Oktober 2017, beberapa komoditas pangan utama seperti beras dan cabai merah mulai menunjukkan adanya kenaikan harga. Walaupun pemerintah telah memberlakukan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras secara Nasional sesuai Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) RI Nomor 57/M-DAG/PER/8/2017 yang berlaku efektif sejak 15 September 2017, harga beras tetap mengalami peningkatan. Kenaikan harga beras tersebut merupakan dampak dari adanya kenaikan harga gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani dan di tingkat penggilangan. Khusus cabai merah, kenaikan harga komoditas ini terjadi sebagai dampak mulai terbatasnya produksi cabai pada sentra produksi akibat musim panen yang hampir selesai. ​

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat secara keseluruhan tahun 2017 membaik, diperkirakan berada di kisaran 5,1% - 5,5% (yoy). Sumber penopang kinerja perekonomian selama tahun 2017 diperkirakan berasal dari penguatan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan ekspor luar negeri. Sedangkan secara sektoral, pertumbuhan terjadi karena adanya perbaikan kinerja pertanian dan perdagangan. ​

Secara keseluruhan tahun, inflasi tahun 2017 diproyeksikan berada pada rentang 2,2% - 2,6% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan tahun lalu sebesar 4,89%(yoy). Pada tahun 2016, inflasi IHK mayoritas disumbang oleh kelompok volatile foods dan administered price antara lain cabai merah, beras, rokok kretek filter, sekolah menengah atas dan rokok kretek dengan andil masing-masing sebesar 2,15%; 0,33%; 0,27%; 0,27% dan 0,23%. Berbeda halnya dengan tahun 2017. Inflasi tahun kalender dari Januari hingga Oktober 2017 sebesar 0,88% (ytd) justru banyak didominasi kelompok inti dengan 5 komoditas penyumbang inflasi utama antara lain tarif listrik, tarif pulsa ponsel, biaya perpanjangan STNK, bimbingan belajar dan pasir dengan andil masing-masing sebesar 1,21%; 0,30%; 0,23%; 0,18%; dan 0,17%. Rendahnya inflasi sepanjang tahun 2017 mayoritas disebabkan oleh melimpahnya pasokan komoditas cabai merah yang berlangsung dari triwulan I hingga triwulan III, terjaganya pasokan beras disertai dengan penguatan berbagai program pengendalian inflasi ditengah kondisi masih belum kuatnya konsumsi rumah tangga. ​

Pertumbuhan perekonomian di triwulan I 2018 diperkirakan berada dalam rentang 5,1% - 5,5% (yoy). Sumber perlambatan terutama berasal dari menurunnya kinerja konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor. Pertumbuhan konsumsi masyarakat melambat karena menurunnya daya beli masyarakat serta pengaruh dari terbatasnya konsumsi swasta dan pengeluaran pemerintah pada awal tahun. Siklus masih rendahnya realisasi belanja modal pemerintah dan investasi sektor swasta di awal tahun berdampak pada tertahannya kinerja investasi. Sementara itu, ekspor diprakirakan sedikit melemah seiring tren penurunan harga berbagai komoditas internasional. Dari sisi lapangan usaha, menurunnya kinerja pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan menjadi penyebab perlambatan ekonomi pada triwulan I 2018. ​

Laju inflasi secara umum (IHK) diproyeksikan berada dalam rentang 2,3% - 2,7% (yoy) atau cenderung stabil dibandingkan triwulan IV 2017. Tekanan inflasi pada triwulan I 2018 utamanya diperkirakan berasal dari kelompok volatile foods. Tingginya permintaan dari luar Sumatera Barat seperti dari Riau, serta gangguan cuaca yang berpotensi mengganggu produksi padi dan cabai merah menjadi penyebab tekanan inflasi kelompok volatile foods. Sementara itu, Kelompok lain seperti administered price maupun inti diperkirakan terjaga dalam level yang stabil. ​​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel