Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sumatera Barat Periode November 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
10 Agustus 2020

Ekonomi Sumatera Barat triwulan III 2018 terakselerasi sebagai dampak tingginya aktivitas ekspor dan percepatan realisasi anggaran pemerintah. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat tumbuh sebesar 5,24% (yoy), meningkat dari realisasi pertumbuhan triwulan sebelumnya yakni 5,09% (yoy). Faktor pendorong perekonomian dari sisi pengeluaran adalah kenaikan signifikan pertumbuhan ekspor terutama ekspor CPO dan realisasi anggaran pemerintah yang pertumbuhannya sempat mengalami kontraksi pada triwulan sebelumnya. Sedangkan dari sisi Lapangan Usaha (LU), peningkatan kinerja suLU perkebunan, terutama perkebunan sawit mendorong kinerja LU industri olahan yang memproduksi produk turunannya. Sementara itu, proyeksi perekonomian Sumatera Barat pada triwulan IV 2018 diprakirakan melambat dalam kisaran 5,0 – 5,4% (yoy) dan proyeksi pertumbuhan ekonomi secara tahunan di 2018 berada pada rentang 4,8% - 5,2% (yoy). Perbaikan kinerja perekonomian Sumatera Barat berdampak pada kondisi ketenagakerjaan. Hal tersebut tercermin dari meningkatnya tingkat partisipasi angkatan kerja diiringi dengan menurunnya tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2018. Namun demikian, terus bertambahnya angkatan kerja yang belum diiringi peningkatan pembukaan lapangan kerja baru secara memadai menyebabkan masih rendahnya penyerapan tenaga kerja. Dari sisi anggaran pemerintah, realisasi pendapatan dan belanja pemerintah Provinsi Sumatera Barat pada triwulan II 2018 mengalami peningkatan. Realisasi pendapatan pada triwulan III 2018 adalah 75,03%, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi triwulan III 2017 sebesar 74,97%. Sedangkan realisasi belanja mencapai 56,33%, relatif stabil dibandingkan dengan realisasi belanja pada triwulan III 2017 sebesar 56,29%. Laju IHK pada triwulan III 2018 menurun dibandingkan triwulan sebelumnya, dari 3,17% (yoy) pada triwulan II 2018 menjadi 2,69% (yoy) pada triwulan laporan. Menurunnya laju inflasi tersebut terjadi di hampir seluruh kelompok inflasi, kecuali kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. Normalisasi permintaan pasca Ramadhan dan Idul Fitri ditengarai menjadi faktor utama penurunan laju IHK, kenaikan pada kelompok perumahanpun disebabkan oleh langkanya LPG di Bukittinggi karena terganggunya distribusi. Selain itu, koordinasi yang semakin erat antara TPID Sumbar dan TPID Kab/Kota dengan beberapa program unggulannya juga berhasil menahan tekanan inflasi lebih tinggi. Di triwulan IV 2018 tekanan inflasi diprediksi akan meningkat akibat faktor musiman akhir tahun pada rentang 3,4% - 3,8% (yoy), sehingga secara keseluruhan tahun 2018 target inflasi 3,5% + 1% dapat tercapai. ​ ​

Secara umum, stabilitas keuangan daerah di Sumatera Barat masih relatif terjaga walau cenderung tumbuh melambat. Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan pada triwulan III 2018 tumbuh melambat sebesar 8,54% (yoy) yang sebagian besar berupa instrumen tabungan. Sementara itu, kredit/pembiayaan juga melanjutkan tren perlambatan yakni tercatat tumbuh sebesar 2,87% (yoy) yang didominasi oleh kredit konsumsi. Rasio Non-Performing Loan (NPL) Sumatera Barat tercatat rendah pada angka 3,1%, relatif tetap dibandingkan triwulan II 2018. Sementara itu, arus kas masuk (cash inflow) kembali membanjiri sistem perbankan di Sumatera Barat pada triwulan III 2018. Pasca berakhirnya momen Lebaran dan Idul Fitri, uang yang diedarkan kembali memasuki kas perbankan. Kembali normalnya konsumsi masyarakat mendorong terjadinya inflow. Transaksi non tunai di Sumatera Barat melalui LKD menunjukkan pertumbuhan yang signifikan hingga triwulan III 2018. Efek adanya program bantuan sosial yang banyak ditransaksikan melalui agen-agen LKD dirasa turut berperan dalam tingginya transaksi di LKD. Masyarakat penerima bantuan sosial non tunai dapat mencairkan bantuannya dalam bentuk uang dan/atau bahan pangan melalui agen LKD. Terjadi penurunan pemusnahan uang tidak layak edar (UTLE) di Sumbar. UTLE yang dimusnahkan turun, baik dari segi nominal maupun lembaran. Secara nominal, pemusnahan UTLE di Sumbar menurun 33% (yoy) menjadi Rp1,67 triliun. Turunnya pemusnahan UTLE tersebut berimbas pada turunnya rasio pemusnahan UTLE terhadap inflow sebesar 0,347 atau turun 23,73% (yoy) dari triwulan yang sama tahun sebelumnya. ​

Laju PDRB Sumatera Barat di triwulan I 2019 diproyeksikan melambat pada kisaran 4,8% - 5,2% (yoy), menurun dibandingkan dengan proyeksi triwulan sebelumnya sebesar 5,0% - 5,4% (yoy) sejalan dengan menurunnya kinerja investasi di tahun pemilu, rendahnya ekspor karena masuknya masa trek kelapa sawit dan pola realisasi anggaran pemerintah yang masih rendah di awal tahun. Dari sisi lapangan usaha, perlambatan bersumber dari telah usainya masa libur akhir tahun sehingga berpengaruh pada pertumbuhan LU transportasi pergudangan, LU perdagangan serta LU penyedia akomodasi dan makan minum. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, laju inflasi di triwulan I 2019 diprakirakan juga melambat dibandingkan prakiraan triwulan sebelumnya, dengan rentang inflasi 2,9% - 3,3% (yoy). Meskipun melambat, angka proyeksi inflasi tersebut meningkat signifikan dibandingkan dengan realisasi pada triwulan yang sama tahun 2018, sebesar 2,33% (yoy). Meningkatnya daya beli masyarakat karena masifnya kebijakan pemerintah pusat, belum masuknya masa panen tanaman pangan dan hortikultura, tren kenaikan harga minyak dunia dan pemberlakuan tarif batas atas oleh operator angkutan udara di awal triwulan akan menggerakkan laju inflasi pada tingkat yang masih terjaga.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel