Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tenggara Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
30 Januari 2020
​Pada triwulan I 2018 ekonomi Sulawesi Tenggara masih mengalami pertumbuhan positif meskipun mengalami perlambatan pertumbuhan. Pada periode tersebut, perekonomian Sulawesi Tenggara tumbuh sebesar 5,8% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang mencapai 6,1% (yoy). Meskipun demikian, pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,0% (yoy). Dari sisi permintaan, perlambatan yang terjadi pada konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah dan investasi menjadi faktor yang mendorong perlambatan yang terjadi. Sementara itu dari sisi penawaran, perlambatan terjadi pada lapangan usaha utama seperti lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, lapangan usaha pertambangan dan penggalian serta lapangan usaha konstruksi. Memasuki triwulan II 2018, perkembangan beberapa indikator ekonomi di Sulawesi Tenggara mengindikasikan arah pertumbuhan dengan tren meningkat dan diperkirakan mampu tumbuh pada kisaran 6,2% - 6,6% (yoy). Sektor ekonomi yang diperkirakan akan mengalami percepatan pertumbuhan yaitu lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, lapangan usaha konstruksi dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran. 
 
Sementara itu, tingkat inflasi IHK provinsi Sulawesi Tenggara pada triwulan I 2018 mencapai 2,39% (yoy), mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,97% (yoy). Sumber utama penurunan inflasi tersebut berasal dari kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, rokok dan tembakau, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar serta deflasi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan. Hal tersebut didukung oleh peningkatan produksi pada beberapa komoditas utama seperti komoditas ikan segar. Upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama Bank Indonesia melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Tenggara selama triwulan I 2018 difokuskan pada upaya meningkatkan produksi dan pasokan pangan strategis dengan beras menjadi fokus utama. 
 
Dari sisi stabilitas sistem keuangan, stabilitas sistem keuangan di Sulawesi Tenggara menunjukkan kondisi yang relatif terjaga. Kondisi tersebut berasal dari sektor rumah tangga, sektor korporasi, UMKM dan institusi keuangan yang masih menunjukkan perkembangan yang positif dengan sumber kerentanan yang dapat dikendalikan. Ketahanan keuangan sektor rumah tangga masih relatif kuat dengan adanya peningkatan penghasilan, optimisme konsumsi, perilaku berhutang yang aman, dan kemampuan keuangan yang masih cukup untuk berbagai keperluan. Sementara itu, ketahanan pada sektor korporasi masih relatif terjaga seiring dengan peningkatan omset dan perbaikan kondisi likuiditas serta berkurangnya beban hutang di tengah meningkatnya biaya dan penurunan margin keuntungan. Dari sisi institusi keuangan, terjadi peningkatan kinerja penghimpunan dana pihak ketiga dan kredit. Risiko kredit juga masih dapat terkendali terutama dari kredit untuk penggunaan konsumsi.
 
Berdasarkan beberapa indikator pendukung, hasil survei dan liaison, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada triwulan III 2018 diprakirakan berada pada kisaran 7,1% - 7,5% (yoy) mengalami akselerasi jika dibandingkan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang diprakirakan tumbuh sebesar 6,2% - 6,6% (yoy). Terakselerasinya beberapa lapangan usaha utama seperti lapangan usaha pertambangan, lapangan usaha industri pengolahan, lapangan usaha konstruksi menjadi faktor utama pertumbuhan yang terjadi meskipun tertahan dengan perlambatan yang terjadi pada lapangan usaha pertanian dan lapangan usaha perdagangan. Dengan memperhitungkan hal tersebut, maka pada tahun 2018 perekonomian Sultra diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang moderat pada kisaran 6,7% - 7,1% (yoy). Kinerja lapangan usaha pertanian, pertambangan dan industri pengolahan yang masih mendominasi perekonomian Sultra secara signifikan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global. Di sisi lain, tekanan inflasi Sulawesi Tenggara pada tahun 2018 mendatang diperkirakan berada pada sasaran inflasi nasional yaitu sebesar 3,5% ± 1%. Pada tahun tersebut, inflasi Sulawesi Tenggara diperkirakan sekitar 2,9% - 3,3% (yoy), relatif meningkat dibandingkan dengan perkiraan inflasi selama tahun 2017 yang sebesar 2,97% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi pada tahun tersebut didorong oleh peningkatan tekanan inflasi inti dan administered prices. Sementara itu, tekanan volatile foods relatif berkurang dengan peningkatan produksi seiring dengan bertambahnya luas lahan, pengembangan urban farming, dan bertambahnya kapal penangkap ikan.
​Variabel Q1-2017​ Q2-2017​ ​Q3-2017 ​Q4-2017 ​Q1-2018
​Pertumbuhan Ekonomi (%, YoY) ​7,8 6,9​ 6,6​ 6,1​ 5,8​
​PDRB (Rp Miliar), ADHK 2010 ​19.315 20.650​ 21.230​ 21.844​ 20.427​
​Inflasi (%,YoY) ​2,25 5,21​ 3,18​ 2,97​ 2,39​
​Pertumbuhan DPK (%,YoY) ​3,3 ​8,7 10,6​ ​14,4 12,1​
​Pertumbuhan Kredit (%,YoY), Lokasi Bank
​11,2 8,6​ 9,8​ 12,8​ 13,4​
​NPL ​3,23
3,27
3,12​ 2,72​ 2,46​
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel