Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tengah Periode Mei 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020
PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH


Perekonomian Sulawesi Tengah Triwulan I 2017 tumbuh 3,91% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,80% (yoy). Sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang selama ini turut menopang ekonomi Sulteng seperti sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan tumbuh tidak sekuat periode sebelumnya. Tertahannya laju pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas nikel serta harga produk turunannya, sehingga mempengaruhi realisasi ekspor nikel. Selain itu, penurunan kinerja ekspor juga dipengaruhi oleh menurunnya kinerja sektor manufaktur Tiongkok. Dari sisi lapangan usaha, belum optimalnya panen kakao dan berlangsungnya anomali cuaca ekstrim mengakibatkan realisasi panen (tabama) tidak merata sehingga pertumbuhan di sektor pertanian mengalami penurunan. Pada sisi permintaan, kegiatan investasi masih menjadi penopang pertumbuhan dan mengalami akselerasi seiring dengan adanya pembangunan pabrik pengolahan amonia, smelter, dan stainless steel.

Tekanan inflasi tahunan Kota Palu tercatat 5,09% (yoy) lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya 1,49% (yoy), namun masih lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan nasional 4,17% (yoy). Sepanjang bulan Juli hingga September 2016, inflasi/deflasi bulanan Kota Palu secara berturut-turut tercatat 1,32% (mtm), 0,29%(mtm) dan 0,25% (mtm). Dengan pencapaian tersebut, secara tahun kalender hingga Maret 2017 tercatatinflasi 1,86% (ytd). Tekanan inflasi Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami tekanan khususnya berasal dari komoditas kelompok ikan segar dan tarif listrik.

PERKEMBANGAN STABILITAS KEUANGAN DAERAH

Sementara itu, kinerja perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Meskipun mengalami perlambatan, namun peran intermediasi perbankan relatif berada dalam koridor yang positif dalam mendukung sektor riil di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi domestik maupun global dengan LDR mencapai 141%. Pada triwulan III 2016, total aset perbankan di Sulawesi Tengah tercatat sebesar Rp29,32 triliun atau tumbuh 2,56% (yoy). Total DPK mencapai sebesar Rp16,96 triliun atau tumbuh 0,95% (yoy). Sedangkan kredit tercatat sebesar Rp23,84 triliun atau tumbuh 8,41% (yoy). Rasio NPL-gross pada akhir September 2016 tercatat 2,25%, sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 2,16%.

Pertumbuhan kredit berdasarkan jenis penggunaan masih berada dalam tren melambat. Kredit konsumsi yang memiliki market share sebesar 57,32% mencatatkan tingkat pertumbuhan 10,77% (yoy) dengan outstanding kredit mencapai Rp12,64 triliun, tingkat pertumbuhan kredit konsumsi tersebut mengalami perlambatan dari triwulan sebelumnya sebesar 14,82% (yoy). Dari sisi kredit produktif yaitu modal kerja dan investasi, masing-masing tetap tumbuh positif 6,32% (yoy) dan 2,72%(yoy), dengan outstanding sebesar Rp7,20 triliun dan Rp2,21 triliun, namun laju pertumbuhannya tercatat lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang mencapai 9,81% (yoy) dan 6,41% (yoy). Sementara itu, rasio kredit UMKM terhadap total kredit mencapai 34,38% dengan outstanding sebesar Rp7,58 triliun. Pertumbuhan kredit UMKM tersebut mengalami perlambatan dari 8,52% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 4,42% (yoy) pada triwulan laporan.

Dari aspek keuangan daerah, realisasi pendapatan daerah Sulawesi Tengah mencapai Rp2,2 triliun atau 65,67% dari total target anggaran 2016 sebesar Rp3,3 triliun. Hal ini berarti lebih rendah dibandingkan pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya 78,21%. Sementara itu, total realisasi belanja daerah mencapai Rp2 triliun atau 58,54% dari total anggaran yang tersedia sebesar Rp3,4 triliun. Persentase realisasi belanja Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 60,83% dan capaian rata-rata realisasi belanja selama 3 tahun terakhir 60,71%. Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya realisasi belanja pemerintah adalah menurunnya realisasi belanja modal yang hanya mencapai 51,23%, jauh lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 64,09%.

PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

Perkembangan aliran uang masuk (inflow) ke Bank Indonesia di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami peningkatan, sementara aliran uang keluar (outflow) mengalami penurunan. Nominal inflow pada triwulan laporan mencapai Rp955,47 miliar atau mengalami peningkatan dari triwulan sebelumnya yang mencapai Rp261,75 miliar. Sedangkan nominal outflow mengalami penurunan dari Rp1.901,53 miliar pada triwulan II 2016 menjadi Rp984,69 miliar pada triwulan laporan. Dengan demikian, berdasarkan perkembangan inflow dan outflow tersebut, maka didapatkan net outflow sebesar Rp29,22 miliar. Tingginya nominal inflow disebabkan oleh masih adanya dana pemerintah daerah yang belum tersalurkan, dimana kondisi demikian berhubungan dengan tingkat realisasi belanja yang berada di bawah rata-rata historisnya.

PROSPEK PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH TAHUN 2016

Prospek pertumbuhan ekonomi 2016 diperkirakan masih mampu mempertahankan tren pertumbuhan dua digit, yakni sebesar 11% - 11,4% (yoy). Meski kisaran pertumbuhannya tidak setinggi pencapaian 2015 yang mencapai 15,52% (yoy). Namun demikian, tingkat pertumbuhan tersebut masih tergolong tinggi, di tengah tren perlambatan ekonomi global dan nasional, serta tekanan penurunan harga komoditas di pasar internasional. Pertumbuhan ekonomi akan ditopang oleh stimulus fiskal terutama pembangunan proyek infrastruktur pada triwulan IV 2016. Sementara itu, investasi diharapkan meningkat seiring dengan implementasi paket kebijakan pemerintah yang mendorong investasi dan stabilitas makroekonomi yang semakin baik. Sedangkan, ekspor komoditas dengan tujuan Tiongkok akan sedikit mengalami perlambatan, seiring dengan menurunnya kinerja sektor manufaktur yang berimbas pada melambatnya perekonomian Tiongkok. Namun pengaruh negatif dari eksternal tersebut dapat dikompensasi melalui optimalisasi ekspor LNG, yang didukung oleh membaiknya outlook industri manufaktur Jepang yang tumbuh lebih tinggi dari perkiraan.

Pada tahun 2017, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah berkisar 11,8 – 12,2% (yoy). Akselerasi pertumbuhan ekonomi di 2017 diantaranya akan ditopang dari sektor industri pengolahan, seiring dengan ekspansi industri pengolahan amonia dan peningkatan skala produksi smelter yang memberikan nilai tambah tinggi bagi produksi minerba nikel.

Sementara itu, pada triwulan IV 2016 Inflasi Kota Palu diperkirakan masih berada pada kisaran 2,0 - 2,4% (yoy). Perkiraan Inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan realiasi inflasi triwulan III 2016 yang mencapai 4,08% (yoy). Di samping itu, inflasi Kota Palu pada triwulan I 2017 diperkirakan berada pada kisaran 3,8 – 4,2% (yoy). Tekanan inflasi ke depan lebih dipengaruhi oleh harga kelompok administered prices yang diperkirakan mengalami peningkatan seiring dengan adanya pengurangan subsidi listrik dan gas LPG 3 kilogram. Sementara itu, perkembangan outlook harga minyak dunia memiliki tendensi untuk rebound pada periode awal 2017, sehingga dapat mempengaruhi ekspektasi inflasi dari kelompok administered prices. Pada triwulan IV 2016, kelompok komoditas volatile food diperkirakan akan mengalami peningkatan pada akhir triwulan IV 2016, seiring dengan potensi La Nina dengan tingkat curah hujan di atas normal, sehingga dapat mengurangi suplai produk pertanian dan hortikultura. Sementara disisi lain, pada periode yang sama permintaan terhadap komoditas ini diprediksi meningkat, seiring dengan berlangsungnya perayaan Natal dan Tahun Baru.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel