Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tengah Agustus 2017 ​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Agustus 2020
PERKEMBANGAN  MAKRO EKONOMI  REGIONAL
 
Ritme pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2017 mampu tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan II 2017 pertumbuhan mencapai 6,61% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya 3,91% (yoy). Industri pengolahan terutama yang berasal dari peningkatan nilai tambah sektor pertambangan pada triwulan II 2017 menunjukkan kinerja yang meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini didorong oleh perbaikan kinerja ekspor seiring membaiknya kondisi ekonomi negara mitra dagang, terutama Tiongkok. Disisi lain, terdapat perbaikan produksi dari sisi sektor pertanian terutama pada sub sektor tanaman pangan dan sub sektor perkebunan, seiring dengan berakhirnya kondisi anomali cuaca El Nino dan La Nina. Produksi yang tersebar berpengaruh positif terhadap kenaikan pertumbuhan meski masih dalam skala yang terbatas. Pada tiwulan II 2017, output sektor industri pengolahan belum dapat menghasilkan ritme pertumbuhan yang sama dengan periode puncak sebagaimana yang terjadi pada triwulan II 2016. Kondisi produksi smelter baru di Kabupaten Morowali Utara yang belum optimal, dan belum selesainya pembangunan pabrik pengolahan amonia di Kabupaten Banggai merupakan beberapa faktor yang menyebabkan akselerasi pertumbuhan tidak setinggi periode sebelumnya. Pembangunan pabrik amonia diharapkan selesai pada November 2017 sehingga dapat memberikan tambahan peningkatan output industri pengolahan dan meningkatkan kontribusi ekspor terhadap perekonomian Sulteng pada triwulan IV 2017. 
 
Inflasi tahunan Kota Palu pada triwulan II 2017, tercatat 5,23% (yoy), lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi tahunan pada triwulan sebelumnya 4,05% (yoy). Inflasi tahunan Kota Palu pada akhir triwulan II 2017 tercatat masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata inflasi selama 3 tahun terakhir yaitu 5,15%. Tekanan inflasi bulan Juni 2017 tersebut dapat dijelaskan dari dua sisi. Dari sisi demand, tekanan inflasi mengalami peningkatan terutama didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara akibat meningkatnya permintaan menjelang Idul Fitri. Selain itu juga muncul dari kelompok sandang seiring dengan meningkatnya permintaan sandang oleh masyarakat untuk merayakan lebaran. Sementara dari sisi supply, tekanan inflasi terutama didorong oleh kenaikan tarif listrik seiring dengan adanya kebijakan penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga 900 VA yang diberlakukan secara bertahap. Sementara itu, dari tekanan inflasi dari kelompok volatile foods cukup terkendali seiring dengan terjaganya pasokan komoditas khususnya dari sub kelompok ikan segar yang selama ini sering memberikan tekanan.
Tekanan harga dari sisi penawaran relatif stabil dan lebih disebabkan oleh pasokan yang menurun. Tekanan sisi penawaran meningkat pada Mei 2017 yang diakibatkan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri dan tingginya perdagangan antar daerah yang terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah. Tingginya permintaan terutama terjadi pada komoditas sub kelompok ikan segar dan sub kelompok bumbu-bumbuan. Tercatat komoditas ikan cakalang mengalami kenaikan indeks harga mencapai 42,29% (mtm) dan memberikan andil inflasi 0,31% dan bawang putih mengalami kenaikan harga 29,93% (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,08%. Adanya panen raya di triwulan II mampu meredam tekanan inflasi dari sisi penawaran dengan tersedianya pasokan beras di Provinsi Sulawesi Tengah. Tekanan inflasi dari sisi penawaran yang cukup terkendali tidak lepas dari tindakan pengendalian yang telah dilakukan selama triwulan II 2017.
 
Stabilitas keuangan daerah secara umum tetap solid, baik di sektor Korporasi, sektor Rumah Tangga maupun sektor Perbankan. Ketahanan Korporasi pada triwulan II 2017 masih cukup baik, meski terdapat tekanan pada beberapa sektor utama perekonomian Sulawesi Tengah. Ketahanan korporasi diantaranya terlihat dari perkembangan kredit sektor utama di Sulawesi Tengah khususnya sektor Pertanian dan industri pengolahan yang tumbuh 20,96%(yoy) dan 23,74%(yoy). Walaupun demikian, perkembangan kredit sektor lainnya seperti pertambangan dan konstruksi menunjukkan perlambatan.
 
Optimisme konsumen rumah tangga mengalami peningkatan pada periode laporan. Berdasarkan survei Konsumen Bank Indonesia, indikator tingkat penghasilan saat ini meningkat dari angka indeks 82 pada triwulan I menjadi 100 pada triwulan laporan.
 
PERKEMBANGAN STABILITAS KEUANGAN DAERAH
 
Ketahanan sektor rumah tangga masih cukup baik, didukung oleh tingkat pertumbuhan yang positif walaupun tidak setinggi periode sebelumnya tercermin dari masih terjaganya tren positif pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) selama triwulan laporan. Pada triwulan II 2017, kredit KPR mencapai Rp2,27 triliun atau tumbuh 10,20% (yoy); lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 9,87% (yoy).
 
Fungsi intermediasi perbankan juga berjalan baik, dengan tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 142%. Kredit yang disalurkan pada Juni 2017 tercatat tumbuh 9,15% (yoy), sedangkan simpanan masyarakat (Dana Pihak Ketiga/ DPK) mencapai Rp17,7 triliun atau tumbuh 3,86% (yoy). Keberpihakan perbankan terhadap UMKM juga tinggi, tercermin dari nilai kredit UMKM yang mencapai 34,20% dari total kredit perbankan.
 
Dari aspek keuangan daerah, peran APBD (Provinsi, Kabupaten dan Kota) dan APBN dalam mendinamisasi perekonomian Sulteng perlu lebih dimeratakan, serta ditingkatkan penyalurannya di awal tahun anggaran agar dapat memberi dampak multiplier effect yang besar bagi perekonomian Sulteng. Realisasi APBD Provinsi Sulteng hingga akhir triwulan II 2017 mencapai Rp1.271,55 miliar atau 35,32% dari total anggaran yang tersedia sebesar Rp3.599,70 miliar. Persentase realisasi belanja Pemerintah Provinsi Sulteng mengalami penurunan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 36,48%. Sementara itu, realisasi belanja APBD Kabupaten dan Kota kami perkirakan mencapai 29,2% . Sedangkan realisasi belanja APBN yang dialokasikan di Sulteng mencapai Rp2.918,36 miliar atau 28,13%  dari total pagu belanja Rp10.374,79 miliar.
 
PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN
 
Perkembangan aliran uang masuk (inflow) ke Bank Indonesia Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami penurunan di sisi inflow tetapi mengalami peningkatan di sisi outflow jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Nominal outflow pada triwulan laporan mencapai Rp2,2 triliun, lebih tinggi dibandingkan outflow triwulan I 2017 sebesar Rp402,785 miliar. Sedangkan inflow justru mengalami penurunan menjadi Rp311,15 miliar dari Rp1 triliun di triwulan I 2017. Sesuai dengan tren tahun sebelumnya, nilai outflow selalu mengalami peningkatan di triwulan II yang didorong oleh meningkatnya pengeluaran masyarakat selama bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
 
Kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah secara umum mengalami perkembangan positif dibandingkan tahun sebelumnya (periode Februari 2016). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan dan mencapai 2,97% atau lebih rendah dibandingkan Februari 2016 yang mencapai 3,46%. Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS, jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tengah pada Maret 2017 tercatat sebanyak 417.870 jiwa atau 14,14% dari seluruh penduduk Sulteng. Jumlah tersebut sedikit lebih tinggi dari posisi September 2016 yang tercatat 14,09%.
 
PROSPEK PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH
 
Memperhatikan kondisi perekonomian saat ini dan prospeknya ke depan, kami memproyeksikan perekonomian Sulteng pada triwulan III 2017 akan tumbuh di kisaran 7,2%-7,6% (yoy); sementara prospek perekonomian Sulteng secara keseluruhan 2017 diprediksikan masih cukup baik meski tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 7,7-8,1% (yoy). Kami optimis perkembangan konsumsi rumah tangga dan produksi sektor pertanian kami perkirakan meningkat. Optimisme pada sektor pertanian ini ditunjang dengan upaya positif dari pemerintah daerah khususnya dalam melakukan pembenahan kualitas bibit, metode tanam, serta perbaikan infrastruktur irigasi, jalan dan bandara, sehingga konektivitas antar daerah semakin baik. Di samping itu, sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan diperkirakan masih memberikan kontribusi yang cukup besar melalui produksi LNG dan nikel olahan, sehingga mampu memenuhi permintaan ekspor luar negeri dan menjadi penggerak perekonomian yang dominan dari sisi permintaan.
 
Pada triwulan III 2017 tekanan inflasi diperkirakan sedikit mengalami peningkatan, namun melalui upaya penguatan koordinasi TPID dan peningkatan kerjasama antar daerah (antar Kab/Kota di Sulteng) diharapkan dapat mengendalikan dan menjaga pasokan maupun tingkat harga komoditas pangan strategis. Tekanan inflasi diperkirakan lebih dipengaruhi oleh harga kelompok administered prices yang diperkirakan mengalami peningkatan tarif angkutan udara sebagai dampak dari banyaknya event berskala Nasional dan Internasional di Sulawesi Tengah pada triwulan III 2017. Meningkatnya permintaan diharapkan dapat diimbangi dengan tambahan jadwal penerbangan oleh maskapai sehingga dampak peningkatan harga tarif angkutan udara bisa sedikit diredam. Potensi kenaikan harga minyak dunia kedepan diperkirakan juga  berpotensi mendorong peningkatan harga bahan bakar rumah tangga.
 
Dengan mempertimbangkan banyaknya tantangan yang dihadapi Sulteng, kami masih tetap optimis inflasi pada akhir 2017 akan dapat dikendalikan di kisaran 5,90-6,30% (yoy) , meski perkiraan ini jauh lebih tinggi dari inflasi tahun sebelumnya 1,49% (yoy). Angka proyeksi yang berada di batas angka maksimal tersebut, kami tetapkan setelah mempertimbangkan pengaruh dari kebijakan kenaikan tarif listrik pada Mei-Juni 2017 dan perkiraan kenaikan harga minyak dunia seiring dengan tanda-tanda membaiknya perekonomian global yang dapat berdampak pada kenaikan harga BBM di pasar global dan domestik. Selain itu, proyeksi juga telah mempertimbangkan potensi penurunan pasokan ikan segar pada Desember 2017 yang disebabkan siklus iklim yang berpengaruh pada gelombang air laut yang tinggi.
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel