Laporan Perekonomian Provinsi Sulawesi Barat Agustus 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Januari 2020
​Perlambatan ekonomi Sulawesi Barat berlanjut pada triwulan II 2019. Tingkat pertumbuhan tercatat 4,91% (yoy) pada triwulan II 2019 melambat dibandingkan triwulan I 2019 sebesar 5,24% (yoy). Tren perlambatan terpantau sejak triwulan IV 2018. Hal ini tidak lepas perlambatan sektor pertanian sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat. Untuk triwulan II 2019, produksi tanaman pangan telah melewati periode puncak mempengaruhi kinerja sektoral. Realisasi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat triwulan II 2019 juga berada di bawah pertumbuhan nasional dengan realisasi 5,05% (yoy).
 
Inflasi Sulawesi Barat menurun pada triwulan II 2019. Melanjutkan tren sejak triwulan III 2018, inflasi tahunan Sulawesi Barat tercatat 0,54% (yoy) pada triwulan II 2019 atau lebih rendah dibandingkan realisasi 0,96% (yoy) pada triwulan I 2019. Pencapaian pada triwulan II 2019 lebih rendah jika dilihat historis inflasi Sulawesi Barat dalam 3 (tiga) tahun terakhir yang sebesar 2,94% (yoy). Selain itu, realisasi pada periode tersebut juga lebih rendah dibandingkan pencapaian inflasi kawasan Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) yang sebesar 3,42% (yoy) dan nasional yang sebesar 3,28% (yoy). Secara spasial, sebagian kecil provinsi di Pulau Sulawesi yang mengalami penurunan inflasi pada triwulan II 2019 seperti Sulawesi Barat. Penurunan inflasi terjadi pada Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Tengah dengan pencapaian 5,32% (yoy).
 
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat diperkirakan menguat pada triwulan IV 2019. Tingkat pertumbuhan akan berkisar 7,0% – 7,4% (yoy). Produksi LU pertanian akan menguat seiring pergeseran panen tanaman pangan yang seharusnya jatuh pada awal triwulan III 2019. Namun, produksi perkebunan kelapa sawit akan mengalami perlambatan setelah mengalami masa puncak pada triwulan III 2019. Keterbatasan pasokan bahan baku ini berdampak pada perlambatan kinerja LU industri pengolahan melambat pada periode akhir tahun. Proyek pembangunan infrastruktur yang berasal dari Pemerintah akan dipercepat yang berdampak pada akselerasi LU konstruksi. Dari sisi pengeluaran, demand masyarakat diperkirakan meningkat dalam rangka persiapan hari natal dan liburan tahun baru meski tidak setinggi triwulan II 2019. Realisasi belanja Pemerintah yang masih rendah akan dipercepat dalam rangka mengejar target pembangunan daerah. Meskipun demikian, daya tarik investasi yang masih menjadi tantangan turut mempengaruhi perlambatan komponen investasi pada triwulan IV 2019. Untuk ekspor luar negeri, aktivitas perdagangan CPO diperkirakan menguat sejalan dengan indikator terkini yang menyatakan adanya sentimen peningkatan demand.
 
Tekanan inflasi triwulan IV 2019 diperkirakan meningkat. Sumber tekanan inflasi diperkirakan berasal dari kelompok bahan makanan, makanan jadi, sandang, dan transportasi. Isu keterbatasan pasokan khususnya ikan segar dan beras akan menjadi sumber tekanan inflasi triwulan IV 2019. Aktivitas nelayan juga akan berhenti sementara karena perayaan Maulid Nabi yang jatuh pada triwulan IV 2019. Tingkat permintaan transportasi diperkirakan juga mengalami kenaikan seiring kebutuhan liburan akhir tahun. Penyedia jasa akan memanfaatkan momentum ini untuk melakukan peningkatan tarif.  Namun, tekanan inflasi Sulawesi Barat diperkirakan masih cukup terkendali dalam rentang 1,8% - 2,2% (yoy).
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel