Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Barat Agustus 2018​​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
07 Juli 2020
​ ​

Perekonomian Sulawesi Barat mengalami akselerasi pada triwulan II 2018. Pertumbuhan ekonomi tercatat 6,57% (yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2018 dan triwulan II 2017 masing-masing sebesar 5,52% (yoy) dan 5,30% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,27% (yoy). Namun, kecenderungan perlambatan ekonomi Sulawesi Barat ini perlu dipantau secara intensif terutama sektor utama ekonomi Sulawesi Barat yaitu pertanian yang pada triwulan II 2018 tumbuh 5,06% (yoy). Jika dibandingkan dengan wilayah lain di Sulawesi, beberapa provinsi juga mengalami akselerasi ekonomi pada triwulan II 2018 dibandingkan triwulan I 2018.

Inflasi Sulawesi Barat pada triwulan II 2018 relatif terkendali meski memasuki bulan puasa dan hari raya Idul Fitri. Secara tahunan, inflasi Sulawesi Barat tercatat 2,68% (yoy) atau sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi 2,62% (yoy) pada triwulan I 2018. Pencapaian pada triwulan II 2018 lebih rendah jika dilihat historis inflasi Sulawesi Barat dalam 3 (tiga) tahun terakhir yang mengindikasikan inflasi tetap terkendali. Selain itu, realisasi pada periode tersebut juga lebih rendah dibandingkan pencapaian inflasi KTI yang sebesar 3,14% (yoy) dan nasional yang sebesar 3,12% (yoy).

Secara agregat, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada tahun 2018 tidak akan jauh berbeda dengan tahun 2017. Perekonomian Sulawesi Barat pada tahun 2018 diperkirakan akan tumbuh dalam rentang sedikit lebih rendah dibandingkan 2017 yaitu 6,3% - 6,7% (yoy). Hal ini didasari oleh kinerja sektor pertanian utama yaitu pertanian tidak lebih baik dibandingkan tahun 2017. Produksi sejumlah komoditas pertanian tidak setinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang turut mempengaruhi kinerja sektor ini. Namun, ditengah perlambatan kinerja sektor pertanian, industri pengolahan yang tumbuh cukup baik setidaknya hingga triwulan II 2018 belum dapat menggantikan peran sektor pertanian sebagai sumber pertumbuhan utama. Hal ini juga dipengaruhi oleh harga komoditas di pasar global yang relatif rendah. Pembangunan infrastruktur yang masih mengandalkan dana transfer dari Pemerintah Pusat ditengah keterbatasan pendapatan asli daerah belum mampu menarik sejumlah investor untuk menanamkan sejumlah dananya untuk menstimulus perekonomian Sulawesi Barat agar tumbuh lebih tinggi.

Inflasi 2018 diperkirakan akan sesuai dengan target yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 3,5%±1%. Sejumlah komoditas bahan makanan yaitu beras, ikan tangkap, dan telur ayam menjadi komoditas yang kerap memberikan andil inflasi tahun 2018. Pengaruh tekanan harga yang berasal dari kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau tidak akan memberikan andil yang besar walaupun Pemerintah sempat menetapkan kenaikan cukai rokok pada awal tahun 2018. Perkiraan harga untuk kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar tidak akan meningkat cukup tajam pada tahun 2018. Penyesuaian harga BBM oleh Pemerintah pada triwulan I 2018 tidak serta merta mempengaruhi tekanan harga secara keseluruhan. Di sisi lain, proyeksi IMF melalui CMO yang menyatakan indikasi peningkatan harga pada tahun 2018, Pemerintah belum akan meningkatkan harga bakar subsidi pada tahun ini. Peningkatan harga mungkin terjadi pada bahan bakar non subsidi. Kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan tidak akan memberi pengaruh cukup besar dalam realisasi inflasi tahun 2018. ​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel