Laporan Perekonomian Provinsi Riau Agustus 2019​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020

Perekonomian Riau tumbuh melambat. Pada triwulan II 2019, pertumbuhan ekonomi Riau tercatat sebesar 2,80% (yoy), melambat dibandingkan triwulan I 2019 yang sebesar 2,87% (yoy). Dari sisi penggunaan, perlambatan pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan II 2019 bersumber dari konsumsi pemerintah. Perlambatan dari sisi lapangan usaha bersumber dari industri pengolahan, konstruksi, dan masih berlanjutnya kontraksi pertambangan akibat natural declining. Memasuki triwulan III 2019, perekonomian Riau diperkirakan tumbuh positif namun melambat dibandingkan realisasi triwulan II 2019. Perlambatan dari sisi penggunaan diperkirakan bersumber dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan ekspor yang terkontraksi lebih dalam. Dari sisi lapangan usaha, perlambatan diperkirakan bersumber dari pertanian, industri pengolahan, perdagangan, dan kontraksi pertambangan.

Provinsi Riau pada triwulan II 2019 tercatat tertinggi sepanjang tahun 2019. Tingginya tekanan inflasi tersebut bersumber dari peningkatan inflasi kelompok Bahan Makanan dan kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan. Secara spasial, inflasi Riau tertinggi terjadi di Tembilahan, diikuti Pekanbaru dan Dumai. Inflasi Riau pada triwulan III 2019 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2019.

Realisasi APBD Provinsi Riau hingga triwulan II 2019 secara umum lebih rendah dibandingkan realisasi pada triwulan II 2018. Realisasi belanja Provinsi Riau hingga triwulan II 2019 menurun dibandingkan triwulan II. Sedangkan pada sisi pendapatan, meskipun pada triwulan II 2019 terealisasi lebih baik dibandingkan triwulan II 2018 namun realisasi tersebut ditopang oleh peningkatan dana bagi hasil akibat adanya pembayaran dana tunda salur DBH 2017 dari pemerintah pusat.

Keuangan daerah Riau pada triwulan II 2019 membaik dan terjaga di tengah melambatnya kinerja perekonomian. Ketahanan sektor korporasi dan rumah tangga Riau pada triwulan II 2019 secara umum tetap terjaga, sejalan dengan NPL sektor korporasi yang membaik di tengah kredit korporasi dan RT yang melambat. Indikator kinerja perbankan di Riau pada triwulan II 2019 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan ini tercermin dari membaiknya pertumbuhan tahunan Aset dan LDR, serta membaiknya NPL di tengah melambatnya pertumbuhan kredit dan DPK.

Perkembangan transaksi pembayaran tunai di Provinsi Riau pada triwulan II 2019 tercatat mengalami netoutflow. Transaksi melalui kliring dan BI-RTGS mengalami penurunan baik dari sisi nominal maupun dari sisi jumlah warkat transaksi dibanding triwulan sebelumnya.

Perkembangan ketenagakerjaan Provinsi Riau padabulan Februari 2019 menunjukkan perbaikan, antara lain menurunnya angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), penurunan persentase jumlah penduduk miskin, dan tingkat kesejahteraan petani yang mengalami perbaikan.

Perkembangan ekonomi Riau pada triwulan IV 2019 diperkirakan tumbuh positif meskipun melambat dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Riau triwulan III 2019. Ditinjau dari sisi penggunaan, sumber perlambatan diperkirakan berasal dari net ekspor. Dari sisi lapangan usaha (LU), sumber perlambatan diperkirakan berasal dari: (i) LU pertanian, kehutanan, dan perikanan; (ii) LU pertambangan dan penggalian; serta (iii) LU industri pengolahan.

Perekonomian Riau 2019 diperkirakan meningkat terbatas jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2018. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Riau untuk keseluruhan 2019 diperkirakan bersumber darinet ekspor antar daerah dan konsumsi pemerintah. Dari sisi lapangan usaha, LU industri pengolahan diperkirakan menjadi sumber utama meningkat pertumbuhan ekonomi Riau untuk keseluruhan 2019.

Inflasi Provinsi Riau pada triwulan IV 2019 diperkirakan berada dalamtarget inflasi nasional 3,5 + 1% (yoy) dengan kecenderungan bias ke atas. Perkiraan tersebut sedikit lebih rendah jika dibandingkan perkiraan inflasi triwulan III 2019 namun lebih tinggi dibandingkan rata-rata realisasi inflasi 5 tahun terkahir, termasuk 2018. Sumber tekanan inflasi diperkirakan berasal dari komoditas-komoditas bahan pangan akibat masih tingginya ketergantungan Provinsi Riau terhadap pasokan dari luar daerah.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel