​​Laporan Perekonomian Provinsi Riau Agustus 2020 - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
25 Oktober 2020
​I.  ASESMEN PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH
 
Perekonomian Riau terdeselerasi dengan cukup signifikan. Pada triwulan II 2020, pertumbuhan ekonomi Riau tercatat terkontraksi sebesar -3,22% (yoy), menurun dibandingkan triwulan I 2020 yang tumbuh sebesar 2,24% (yoy). Dari sisi penggunaan, terdeselerasinya pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan II 2020 bersumber dari penurunan konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Terkontraksinya konsumsi rumah tangga sejalan dengan penerapan Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB) yang berlaku pada bulan April – Mei 2020 yang membatasi kegiatan ekonomi masyarakat serta menurunnya harga komoditas CPO dan karet yang menurunkan daya beli masyarakat. Sementara, perlambatan PMTB diperkirakan sejalan dengan outbreak virus COVID-19. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi yang melambat didorong oleh terkontraksinya LU Perdagangan Besar dan Eceran serta LU Pertambangan akibat PSBB dan melemahnya daya beli masyarakat seiring dengan menurunnya harga CPO dan karet. LU Pertambangan dan Penggalian juga mengalami kontraksi didorong oleh penurunan lifting migas akibat natural declining dan penurunan harga minyak dunia.
 
II.  ASESMEN INFLASI DAERAH
 
Inflasi Provinsi Riau pada triwulan II-2020 tercatat lebih rendah dibandingkan tiga triwulan sebelumnya. Meredanya tekanan inflasi tersebut bersumber dari penurunan harga komoditas dari kelompok makanan, minuman dan tembakau; pakaian dan alas kaki; perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan; kesehatan; dan transportasi. Adapun komoditas utama penyebab turunnya tekanan inflasi Riau pada triwulan II-2020 antara lain: cabai merah, angkutan udara, biaya pulsa ponsel, ikan serai, bawang putih, bensin, cabai rawit dan cabai hijau. Sementara itu, komoditas utama penyebab inflasi ialah kenaikan harga emas perhiasan, bawang merah, rokok kretek filter, ayam hidup, rokok putih, telepon seluler, daging ayam ras, dan nasi dengan lauk. Secara spasial, inflasi Riau tertinggi terjadi di Tembilahan, diikuti Dumai dan Pekanbaru.
 
III. ASESMEN KEUANGAN PEMERINTAH
 
Pada triwulan II 2020, realisasi APBD Provinsi Riau secara umum tercatat lebih rendah dibandingkan realisasi pada triwulan II 2019. Realisasi belanja Provinsi Riau pada triwulan II 2020 tercatat sebesar Rp2,29 triliun atau 27,01% dari pagu anggaran, terkontraksi hingga 21,49% (yoy) dibandingkan triwulan II 2019 yang tercatat sebesar Rp2,92 triliun atau 31,80% dari pagu anggaran. Sedangkan pada sisi pendapatan, hingga triwulan II 2020 realisasi pendapatan Provinsi Riau tercatat sebesar Rp3,73 triliun atau 44,32% dari pagu anggaran, menurun 14,96% (yoy) dibandingkan triwulan II 2019 yang tercatat sebesar Rp4,39 triliun atau 48,08% dari pagu anggaran. Realisasi anggaran pada triwulan II 2020 terkendala oleh lambatnya keputusan realokasi anggaran untuk penanganan COVID-19 beserta program dan rencana pemberian bantuan sosial. Keterlambatan ini juga berimbas kepada perencanaan pengadaan proyek dan pengadaan sehingga tidak dapat direalisasikan dengan optimal pada triwulan II 2020.
 
IV.  ASESMEN STABILITAS KEUANGAN DAERAH DAN PENGEMBANGAN EKONOMI
 
Stabilitas Sistem Keuangan daerah Riau pada triwulan II-2020 masih terjaga meski menurun akibat pandemi COVID-19 dan kontraksi perekonomian. Ketahanan sektor korporasi secara umum menurun, sejalan dengan likuiditas, rentabilitas, marjin, dan kualitas kredit yang menurun. Namun, pertumbuhan kredit korporasi masih mengalami akselerasi. Ketahanan sektor rumah tangga (RT) juga menunjukkan penurunan seiring dengan pendapaatan, konsumsi, dan pertumbuhan kredit RT yang menurun, serta NPL yang meningkat. Indikator kinerja perbankan di Riau pada triwulan II-2020 tetap terjaga sebagaimana tercermin dari masih meningkatnya pertumbuhan aset, DPK, dan kredit perbankan di tengah NPL yang meningkat dan LDR yang menurun.
 
V. ASESMEN PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
 
Perkembangan transaksi pembayaran tunai di Provinsi Riau pada triwulan II 2020 tercatat mengalami net outflow sebesar Rp2,04 triliun, hal tersebut menandakan jumlah uang yang disalurkan oleh Bank Indonesia kepada masyarakat melalui perbankan (outflow) lebih tinggi dibandingkan jumlah uang yang masuk ke Bank Indonesia melalui perbankan (inflow). Transaksi non tunai melalui kliring dan RTGS mengalami penurunan dari dari sisi nominal transaksi. Secara nominal transaksi kliring pada triwulan II 2020 tercatat sebesar Rp2,97 triliun atau menurun 12,68% (qtq) sedangkan dari sisi jumlah warkat kliring tercatat sebanyak 85 ribu lembar atau menurun 10,42% (qtq). Di lain sisi, transaksi non tunai menggunakan BI-RTGS di Provinsi Riau menurun sebesar 9,80% (qtq) dari Rp 41,31 triliun pada triwulan I 2020 menjadi Rp37,26 triliun pada triwulan II 2020. Akan tetapi, volume transaksi tercatat meningkat dari 8,67 ribu frekuensi transaksi pada triwulan I 2020 menjadi 9,71 ribu frekuensi transaksi pada triwulan II 2020 atau tumbuh hingga 11,96% (qtq).
 
VI. ASESMEN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
 
Perkembangan kesejahteraan di Provinsi Riau bulan Maret 2020 membaik yang  terlihat dari penurunan persentase jumlah penduduk miskin dibanding jumlah penduduk di Riau yakni dari 7,08% pada Maret 2019 menjadi 6,82%. Kondisi tersebut turut tercermin dari tingkat kesejahteraan petani yang tumbuh positif pada periode laporan. Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Riau pada bulan Februari 2020 menunjukkan perbaikan. Sejumlah indikator memperlihatkan terjadinya peningkatan kualitas ketenagakerjaan, antara lain menurunnya angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Riau dari 5,57% pada Februari 2019 menjadi 5,07% pada Februari 2020.
 
VII.   PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
 
Perkembangan ekonomi Riau pada triwulan IV-2020 diperkirakan tumbuh positif dengan tendensi meningkat dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Riau triwulan III-2020. Ditinjau dari sisi penggunaan, sumber peningkatan diperkirakan berasal dari konsumsi RT dan net ekspor. Sejalan dengan perkiraan pandemi COVID-19 pada skala global dan nasional yang semakin terkendali, permintaan dan harga komoditas utama Riau juga diperkirakan semakin pulih pada triwulan IV-2020. Dari sisi lapangan usaha (LU), sumber peningkatan diperkirakan berasal dari: (i) LU industri pengolahan, (ii) LU pertanian, kehutanan, dan perikanan, dan (iii) LU perdagangan. Secara keseluruhan tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Riau diperkirakan melambat jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi keseluruhan 2019 yang mencapai 2,84% (yoy).
 
Inflasi Provinsi Riau triwulan IV-2020 atau keseluruhan tahun 2020 berada dalam target inflasi nasional 3,0% + 1% (yoy), dan lebih rendah dibandingkan keseluruhan tahun 2019. Tekanan inflasi pada 2020 diperkirakan masih bersumber dari komoditas-komoditas bahan pangan sejalan masih tingginya ketergantungan Provinsi Riau terhadap pasokan dari luar daerah. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa faktor yang berpotensi membawa inflasi melewati batas atas kisaran proyeksi. Faktor-faktor tersebut antara lain: (i) jika musim kemarau 2020 lebih kering dan lebih panjang dibandingkan perkiraan, (ii) terganggunya suplai cabai merah dari daerah penghasil di luar Riau akibat bencana seperti banjir dan longsor, (iii) lonjakan permintaan khususnya pada momentum liburan sekolah akhir tahun, dan (iv) outbreak COVID-19 yang lebih parah dibandingkan perkiraan semula, sehingga mengganggu impor terutama bawang putih dan sejumlah consumer goods.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel