Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Mei 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 September 2020
​Perekonomian Papua Barat pada triwulan I 2019 tumbuh negatif seiring kinerja sektor utama yang tidak optimal. Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2019 tercatat negatif -0,26% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan IV 2018 sebesar 0,18% (yoy). Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2019 yang negatif disebabkan oleh kinerja sektor lapangan usaha (LU) utama yaitu LU industri pengolahan dan LU pertambangan penggalian yang menurun.    Dari sisi pengeluaran, negatif pertumbuhan juga tercermin dari masih rendahnya konsumsi pemerintah dan tingginya impor luar negeri.
 
Berdasarkan perkembangan berbagai indikator dan hasil liaison, ekonomi Papua Barat pada triwulan II 2019 diperkirakan meningkat dibanding triwulan I 2019. Peningkatan ini juga akan semakin terlihat setelah pertumbuhan triwulan I 2019 mencatat angka negatif. Dari sisi pengeluaran, konsumsi RT diperkirakan akan meningkat seiring dengan kenaikan konsumsi akibat tingginya daya beli, pemberian Tunjangan Hari Raya (THR), serta gaji ke13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Selanjutnya, Konsumsi LNPRT juga diperkirakan meningkat seiring proses berlangsungnya pemilu serentak pada 17 April 2019. Kegiatan. Investasi (PMTB) juga diperkirakan akan kembali tumbuh solid dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2019. Sementara, kinerja ekspor luar negeri (LN) diperkirakan tidak seoptimal seharusnya seiring masih berlangsungnya maintenance train I LNG Tangguh sehingga akan mempengaruhi produksi kemudian mempengaruhi penjualan ekspor. Selanjutnya, impor juga diperkirakan masih tetap kuat seiring kebutuhan impor modal untuk kebutuhan pembangunan train III LNG Tangguh. Dari sisi LU, LU utama yaitu industri pengolahan dan pertambangan penggalian masih berisiko tertahan seiring dengan masih berlangsungnya maintenance dimaksud hingga awal triwulan II 2019. Akan tetapi, pertumbuhan sektor perdagangan dan sektor informasi dan komunikasi akibat kegiatan menjelang pemilu akan menopang pertumbuhan ekonomi sehingga tumbuh lebih tinggi. Ekonomi Papua Barat triwulan II 2019 diperkirakan tumbuh pada rentang 3,2% – 3,6% (yoy).
 
Inflasi tahunan Provinsi Papua Barat pada triwulan I 2019 tercatat 3,48% (yoy), menurun jika dibandingkan dengan triwulan IV 2018. Berdasarkan kelompok pengeluaran, penurunan laju inflasi triwulan I 2019 berasal dari kelompok bahan makanan. Sementara, inflasi pada kelompok transportasi,komunikasi, & jasa keuangan terutama sub kelompok transportasi tercatat sangat tinggi. Kelompok bahan makanan mencatat deflasi yang disumbang oleh terkoreksinya komoditas daging ayam ras, ikan segar (ekor kuning, ikan teri, ikan mumar), serta sayuran. Secara garis besar, harga daging ayam ras memang mengalami koreksi harga secara nasional ditengah permintaan yang relatif tetap. Selain itu, pasokan ikan segar yang cukup melimpah yang didukung kondisi cuaca perairan yang cukup bersahabat juga diyakini menjadi pemicu harga ikan segar di pasar terkoreksi.  Sementara itu, ditengah penurunan inflasi bahan makanan, inflasi kelompok transportasi tercatat tinggi yang didorong oleh peningkatan tarif angkutan udara. Tarif angkutan udara mengalami peningkatan sejak Oktober tahun 2018 hingga akhir triwulan I 2019 ini belum mengalami penurunan harga yang signifikan.
 
Stabilitas sistem keuangan daerah Papua Barat pada triwulan I 2019 masih terjaga. Berbagai indikator sistem keuangan masih berada pada kisaran angka normal. Walaupun petumbuhan ekonomi terkontraksi sebesar -0,26% (yoy), namun konsumsi rumah tangga dan lembaga nonprofit rumah tangga masih menunjukkan pertumbuhan positif. Kinerja perbankan Provinsi Papua Barat menunjukkan perkembangan positif pada triwulan I 2019. Indikator utama perbankan seperti pertumbuhan aset, penghimpunan DPK serta penyaluran kredit secara tahunan menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Aset perbankan tercatat tumbuh 11,48% (yoy), sementara DPK tumbuh meyakinkan sebesar 12,36 %(yoy) diiringi pertumbuhan kredit yang berhasil mencapai 14,42% (yoy). Perkembangan kondisi perbankan yang cukup positif menunjukkan bahwa optimimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Papua Barat masih terus terjaga. Meningkatnya Loan to Deposit Ratio dari 83,72% di triwulan I 2018 menjadi 85,25% di periode laporan menunjukkan fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi dana masyarakat semakin membaik. Namun kinerja positif dari perbankan harus diimbangi dengan mitigasi risiko serta penilaian kredit yang lebih saksama. Meningkatnya rasio Non Performing Loan (NPL) dari 3,32% di triwulan I 2018 menjadi menjadi 3,63% di periode laporan, merupakan sinyal bagi perbankan untuk tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dalam setiap penilaian kredit.
 
Secara triwulanan, ekonomi Papua Barat pada triwulan III 2019 diperkirakan lebih tinggi dibanding perkiraan ekonomi triwulan II 2019. Hal ini disebabkan oleh kinerja LU utama yang diperkirakan kembali optimal setelah pada triwulan sebelumnya sempat tertahan. Secara kumulatif, ekonomi Papua Barat tahun 2019 diperkirakan tetap tumbuh walaupun lebih rendah dibanding tahun 2018. Pada tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Papua Barat diperkirakan berada pada kisaran 3,9% - 4,3% (yoy), melambat dibanding pertumbuhan pada tahun 2018 sebesar 6,24% (yoy). Ekonomi Papua Barat sangat didominasi dari sektor migas terutama LNG. Perlambatan ini disebabkan oleh melambatnya kinerja LNG di tahun 2019 yang bersumber dari produksi yang kurang optimal seiring maintenance kilang train I di triwulan I dan triwulan II 2019. Perlambatan ekonomi dunia termasuk negara mitra dagang utama Papua Barat yaitu Tiongkok dan Jepang menjadi downside risk pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, Pada triwulan III 2019, tekanan inflasi Papua Barat diperkirakan relatif terjaga dan berada pada sasaran yang ditentukan. Sementara, Laju inflasi Papua Barat di tahun 2019 diperkirakan melandai dibanding tahun 2018. Inflasi tahunan Papua Barat diproyeksikan pada kisaran 3,3% - 3,7% (yoy). Penurunan tekanan inflasi disebabkan oleh terkoreksinya harga kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, dan kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar. Selain itu, inflasi kelompok bahan makanan diperkirakan melandai disebabkan oleh terjaganya pasokan berbagai komoditas pada kelompok tersebut seiring upaya peningkatan produksi dan jalur distribusi yang terus berjalan.
 
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel