Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat Mei 2020 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 Oktober 2020

Perekonomian Papua Barat pada triwulan I 2020 tumbuh positif meskipun melambat dibandingkan triwulan IV 2019, sejalan dengan pola historisnya. Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2020 didorong oleh Konsumsi Rumah Tangga (RT) yang masih solid dan perbaikan ekspor meskipun masih terkontraksi. Sementara dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan didorong oleh meningkatnya pertumbuhan LU konstruksi dan LU pertanian, kehutanan, dan perikanan. Di samping itu, pertumbuhan LU industri pengolahan dan pertambangan masih menjadi penyumbang andil tertinggi perekonomian meskipun mengalami laju perlambatan.

Berdasarkan perkembangan berbagai indikator dan hasil liaison, ekonomi Papua Barat pada triwulan II 2020 diperkirakan tumbuh positif meskipun melambat dibanding triwulan I 2020. Dari sisi pengeluaran, konsumsi RT diperkirakan sedikit tertekan seiring pembatasan sosial yang dilakukan oleh pemerintah, namun tetap dapat ditopang dengan pemberian bantuan langsung tunai oleh pemerintah. Belanja pemerintah diperkirakan sedikit lebih baik dibandingkan triwulan I 2020 didukung dengan realokasi belanja guna penanggulangan COVID-19. Ekspor diperkirakan tumbuh positif yang didorong oleh stabilnya produksi LNG meskipun dibayangi tekanan dari tingkat harga dan permintaan global yang menurun. Investasi juga diperkirakan tetap tumbuh meskipun terbatas.

Inflasi Papua Barat pada triwulan I 2020 terjaga pada level yang rendah dan stabil. Secara tahunan, Papua Barat mengalami inflasi 2,37% (yoy). Angka ini lebih rendah dibanding triwulan IV-2019 yang mengalami inflasi 2,68% (yoy). Inflasi ini juga berada dibawah angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,96% (yoy). Secara spasial, Kabupaten Manokwari mengalami inflasi sebesar 2,15% (yoy), lebih rendah dibanding inflasi triwulan IV 2019 yang sebesar 4,78% (yoy). Sementara Kota Sorong mencatatkan angka inflasi 2,43% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan IV 2019 yang sebesar 2,09% (yoy).

Stabilitas Sistem Keuangan Daerah Provinsi Papua Barat pada triwulan I 2020 tetap terjaga ditengah melambatnya aktivitas dunia usaha sebagai dampak pandemi Covid-19. Penyaluran kredit kepada korporasi di Papua Barat berhasil tumbuh 29.01% (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada periode triwulan IV 2020. Kredit perbankan yang disalurkan kepada sektor Rumah Tangga (RT) pada triwulan I 2020 juga tercatat tumbuh 15,00% (yoy). Peningkatan kredit RT terutama didorong oleh peningkatan kredit multiguna sebesar 24,07% (yoy). Aset, penghimpunan DPK, dan penyaluran kredit yang merupakan indikator-indikator utama kinerja perbankan, secara tahunan menunjukkan pertumbuhan yang cukup meyakinkan. Aset perbankan tercatat tumbuh sebesar 17,92% (yoy) sementara DPK juga berhasil tumbuh sebesar 18,85% (yoy) dan kredit berhasil tumbuh 10,75% (yoy). Peningkatan kinerja perbankan juga sejalan dengan peningkatan kualitas. Nilai NPL (gross) pada periode ini tercatat turun menjadi 4,97%. Sementara LDR tercatat meningkat menjadi 79,45%.​

Transaksi nilai besar melalui RTGS tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan dari Rp5,2 triliun pada triwulan IV 2019 menjadi Rp1,1 triliun pada triwulan I 2020. Transaksi melalui SKNBI juga tercatat mengalami pertumbuhan negatif dari Rp1,62 triliun pada triwulan IV 2019 menjadi Rp1,31 triliun pada periode ini. Di sisi lain, tingginya aliran uang masuk (inflow) dibandingkan uang keluar (outflow) menyebabkan Provinsi Papua Barat mengalami net inflow sebesar Rp813,5 miliar pada triwulan I 2020. Kondisi ini berbanding terbalik dengan triwulan IV 2019 yang mengalami net outflow sebesar 1,78 triliun.

Inflasi Papua Barat pada triwulan III 2020 diperkirakan rendah dibanding perkiraan inflasi pada triwulan II 2020. Rendahnya inflasi pada triwulan III 2020 diperkirakan akibat tidak adanya faktor pendorong seperti momen hari besar keagamaan dan menurunnya tingkat permintaan masyarakat seiring dampak pandemi Covid-19 yang masih melanda. Meski demikian kelompok volatile food terutama kelompok bahan makanan diperkirakan akan tetap memberikan tekanan inflasi.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel