Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Papua Barat Februari 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
31 Oktober 2020

Berdasarkan perkembangan berbagai indikator dan hasil liaison, ekonomi Papua Barat pada triwulan I 2019 diperkirakan meningkat dibanding triwulan IV 2018. Konsumsi RT akan terjaga dengan daya beli masyarakat yang cukup baik seiring meningkatnya UMP Papua Barat di tahun 2019. Konsumsi LNPRT juga diperkirakan meningkat seiring berbagai kegiatan yang dilakukan menjelang pemilu yang akan dilaksanakan serentak di bulan April 2019. Investasi (PMTB) juga berlangsung normal dengan peningkatan yang relatif stabil. Namun, peningkatan ini perlu diwaspadai dengan kinerja ekspor LN yang diperkirakan menurun seiring dengan mulai berlangsungnya maintenance train I LNG Tangguh yang nantinya akan sedikit menahan penjualan ekspor. Dari sisi LU, LU utama yaitu industri pengolahan dan pertambangan penggalian akan tertahan dengan rencana berlangsungnya maintenance dimaksud. Akan tetapi, pertumbuhan sektor perdagangan dan sektor informasi dan komunikasi seiring kegiatan menjelang pemilu serentak mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Ekspor LN yang menjadi pendorong ekonomi Papua Barat tahun 2018 diperkirakan sedikit tertahan di tahun 2019 akibat pengaruh kegiatan maintenance train I Tangguh LNG yang berlangsung dari triwulan I s.d triwulan II 2019. Adanya maintenance ini akan menahan produksi LNG yang menyebabkan kinerja sektor LU industri pengolahan dan LU pertambangan dan penggalian menjadi kurang optimal

Inflasi tahunan Provinsi Papua Barat pada triwulan IV 2018 meningkat namun masih terjaga. Berdasarkan kelompok, peningkatan inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok bahan makanan yang terdiri dari daging ayam ras, ikan segar, beras, serta cabai rawit. Selanjutnya, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau disumbang oleh komoditas rokok baik itu rokok kretek filter maupun non-filter, serta roti manis. Lebih lanjut, kelompok transportasi, komunikasi, & jasa keuangan disebabkan oleh komoditas angkutan udara, angkutan laut, dan tarif pulsa ponsel. Tekanan eksternal akibat valuasi nilai Rupiah dengan USD terhadap inflasi di Papua Barat sangatlah terbatas. Meskipun terbatas, perlu diperhatikan produk yang memiliki ketergantungan cukup tinggi pada impor luar negeri. Inflasi tahunan Papua Barat pada triwulan I 2019 diperkirakan lebih rendah dibandingkan inflasi pada triwulan IV 2018. Dari sisi permintaan, hari raya natal dan tahun baru yang telah berlalu diperkirakan akan diikuti oleh normalisasi tekanan inflasi pada triwulan I 2019. Dari sisi ketersediaan, data cuaca dari BMKG menggambarkan kondisi curah hujan atau musim hujan dimulai dari bulan November 2018 dan akan mengalami puncaknya di bulan Januari dan Februari 2019. Kondisi cuaca ini dapat menghambat produksi pertanian maupun perikanan. Lebih lanjut, pada Maret 2019 BMKG memprediksi curah hujan tidak setinggi bulan sebelumnya. Dampaknya produksi pertanian dan perikanan diharapkan dapat lebih optimal. Selain itu, penurunan tarif listrik, penurunan harga BBM, serta tidak adanya kenaikan cukai rokok di tahun 2019 mengurangi tekanan inflasi. Dari sisi eksternal diperkirakan tidak ada shock atau goncangan karena tercermin dari nilai tukar dollar terhadap rupiah yang lebih terkendali dan justru menunjukkan penguatan dibanding akhir tahun 2018.

Stabilitas sistem keuangan daerah Papua Barat pada triwulan IV 2018 masih terjaga. Berbagai indikator perekonomian masih berada pada kisaran angka normal. Walaupun petumbuhan ekonomi melambat, menjadi hanya sebesar 0,18% (yoy), namun konsumsi rumah tangga dan lembaga non profit rumah tangga masih menunjukkan pertumbuhan positif, sebesar 5,13% dan 9,76%. Kondisi perbankan di Provinsi Papua Barat juga masih menjanjikan. Aset, DPK, dan penyaluran kredit oleh perbankan menunjukkan peningkatan dibanding triwulan sebelumnya. Intermediasi perbankan yang tercermin dari nilai Loan to Deposit Ratio (LDR) pada triwulan IV 2018 tercatat sebesar 81,64%, relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya. Walau stabil namun efisiensi biaya intermediasi masih perlu ditingkatkan melihat spread suku bunga DPK dengan suku bunga kredit yang masih relatif tinggi. Berikutnya, rasio kredit bermasalah di Papua Barat juga mengalami perbaikan sebagaimana tercermin dari penurunan angka NPL menjadi sebesar 2,92%. Rasio Non Performing Loan (NPL) mengalami perbaikan di hampir semua sektor hingga mencapai level aman yang ditentukan Bank Indonesia yakni sebesar 5%. Praktis hanya sektor pertambangan yang masih memiliki rasio diatas normal dengan NPL sebesar 6,75%.

Secara kumulatif, ekonomi Papua Barat tahun 2019 diperkirakan tetap tumbuh walaupun lebih rendah dibanding tahun 2018. Pada tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Papua Barat diperkirakan tumbuh lebih lambat dibanding pertumbuhan pada tahun 2018. Ekonomi Papua Barat sangat didominasi dari sektor migas terutama LNG. Perlambatan ini disebabkan oleh melambatnya kinerja LNG di tahun 2019 yang bersumber dari produksi yang kurang optimal seiring maintenance kilang train I di triwulan I dan triwulan II 2019. Perlambatan ini juga didorong oleh perlambatan ekonomi dunia termasuk negara mitra dagang utama Papua Barat yaitu Tiongkok dan Jepang. Sedangkan tekanan inflasi Papua Barat pada triwulan II 2019 diperkirakan menurun namun masih tinggi dibanding perkiraan inflasi triwulan I 2019. Sementara, Laju inflasi Papua Barat di tahun 2019 diperkirakan melandai dibanding tahun 2018. Inflasi tahunan Papua Barat diproyeksikan mendekati sasaran nasional 3,5%±1%. Penurunan tekanan inflasi disebabkan oleh terkoreksinya harga kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, dan kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar. Selain itu, inflasi kelompok bahan makanan diperkirakan melandai disebabkan oleh terjaganya pasokan berbagai subkomoditas pada kelompok tersebut seiring upaya peningkatan produksi dan jalur distribusi yang terus berjalan.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel