​Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Papua Barat Agustus 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
07 Juli 2020

​Perekonomian Papua Barat tumbuh melambat dari 3,68% (yoy) pada triwulan I 2017 menjadi 2,01% (yoy) pada triwulan II 2017. Dari sisi permintaan, perlambatan ekonomi dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan konsumsi pemerintah dan investasi. Sementara dari sisi penawaran, melambatnya pertumbuhan perekonomian Papua Barat terutama disebabkan oleh turunnya produksi LNG karena aktivitas perawatan kilang minyak train 2 pada awal triwulan laporan sehingga sektor utama pendorong ekonomi Propinsi Papua Barat (sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan dan penggalian) terkontraksi. Memasuki triwulan III 2017, perekonomian Papua Barat diperkirakan cenderung meningkat didukung oleh perbaikan di lapangan usaha utama yang ditopang dengan membaiknya kinerja industri pengolahan dan konstruksi. Sedangkan, sisi permintaan diperkirakan menguat khususnya konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor barang dan jasa.

Di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi Papua Barat, inflasi tercatat meningkat pada triwulan II 2017 yaitu sebesar 3,93% (yoy), lebih tinggi bila dibandingkan dengan triwulan I 2017 yang mencapai 3,66% (yoy). Meningkatnya laju inflasi didorong oleh naiknya tekanan inflasi kelompok administered prices dan volatile food seiring dengan masuknya bulan Ramadhan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Di sisi lain, berkurangnya tekanan inflasi kelompok inti terutama untuk komoditas gula pasir, sewa rumah dan tarif rumah sakit mampu sedikit menahan peningkatan tekanan inflasi di Papua Barat. Inflasi tahunan pada triwulan III 2017 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II 2017 didorong oleh penurunan tekanan inflasi pada kelompok administered prices.

Stabilitas keuangan daerah Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2017 masih terjaga. Kinerja perbankan menunjukkan pertumbuhan yang melambat dibandingkan triwulan sebelumnya terutama pada penyaluran kredit dan aset perbankan. Sementara itu, risiko kredit yang disalurkan kepada sektor korporasi menurun tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) sektor korporasi mengalami perbaikan dari 7,69% di triwulan I 2017 menjadi 6,71% pada triwulan laporan. Selain itu, risiko kredit pada kredit rumah tangga masih terjaga dengan baik ditunjukkan dengan NPL kredit sektor rumah tangga yang tercatat pada level 1,44% pada triwulan laporan, sedikit meningkat dibanding triwulan I 2017 yang berada pada level 1,33%.

Pada triwulan IV 2017, perekonomian Papua Barat diperkirakan tumbuh pada rentang 4,9%- 5,3% (yoy). Hal ini mendorong perekonomian Papua Barat selama tahun 2017 diperkirakan dapat tumbuh sebesar 3,4% - 3,8% (yoy), lebih rendah dibanding tahun 2016 disertai dengan tekanan inflasi yang relatif menurun. Perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut disebabkan oleh melambatnya konsumsi rumah tangga dan investasi karena rendahnya realisasi proyek-proyek pemerintah dan kegiatan investasi PMA maupun PMDN. Dari sisi sektoral, perlambatan masih disebabkan oleh melambatnya sektor industri pertambangan dan penggalian dan sektor industri pengolahan karena harga minyak dunia yang masih tertekan seiring produksi minyak dunia yang masih tinggi. Di sisi lain, perkembangan inflasi Papua Barat pada triwulan IV 2017 diperkirakan akan dominan dipengaruhi oleh peningkatan harga kelompok volatile food dan administered prices karena adanya hari raya Natal dan Tahun Baru. Namun demikian, inflasi pada akhir tahun diperkirakan masih tetap berada dalam batas target inflasi nasional 4% ± 1%.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel