<span style="text-transform:none;text-indent:0px;letter-spacing:normal;font-family:arial;font-size:12px;font-style:normal;font-weight:700;word-spacing:0px;float:none;display:inline !important;white-space:normal;orphans:2;widows:2">Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Papua Februari 201​8</span> - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 September 2020
Perkembangan Makro Ekonomi Daerah
Kinerja perekonomian Provinsi Papua pada triwulan IV 2017 mengalami penguatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Tercatat perekonomian Provinsi Papua pada triwulan laporan tumbuh sebesar 4,78% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,87% (yoy).
Kenaikan ekspor luar negeri menjadi pendorong kenaikan ekonomi Papua pada triwulan IV 2017 sejalan dengan peningkatan kinerja lapangan usaha pertambangan. Selain itu, peningkatan kinerja juga terjadi pada lapangan usaha konstruksi dan administrasi pemerintahan sejalan dengan perbaikan kinerja investasi. Sementara, kinerja lapangan usaha pertanian terpantau mengalami kenaikan yang didorong oleh panen di beberapa daerah. Perayaan natal dan tahun baru pada triwulan IV 2017 menjadi pendorong kinerja lapangan usaha perdagangan.
Sementara untuk keseluruhan tahun 2017, regulasi izin ekspor mineral masih menjadi faktor utama penahan kinerja lapangan usaha pertambangan yang pada akhirnya mempengaruhi kinerja perekonomian Papua secara keseluruhan. Selain itu, peralihan pemerintahan pasca pilkada menyebabkan penyerapan anggaran selama tahun 2017 kurang optimal.
Memasuki triwulan I 2018, kinerja perekonomian Papua diperkirakan mengalami kenaikan. Optimalisasi kinerja pertambangan dan ekspor diperkirakan menjadi faktor utama pendorong perekonomian Papua. Sementara itu, berlalunya perayaan natal dan tahun baru serta panen menjadi faktor penahan kinerja ekonomi pada triwulan I 2018.
 
Keuangan Pemerintah
Realisasi APBN dan di lingkup Provinsi Papua pada triwulan IV 2017 mengalami peningkatan, baik pada pos pendapatan maupun pos belanja dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Pada triwulan IV 2017 sumber pendapatan terbesar berasal dari pajak dalam negeri. Sementara itu, realisasi belanja terbesar pada triwulan IV 2017 berasal dari  belanja modal.
Selain itu, Realisasi APBD Papua pada triwulan IV 2017 secara umum mengalami peningkatan. Realisasi Pendapatan dan Belanja mengalami peningkatan baik secara nominal maupun persentase realisasi. Berdasarkan pangsanya, postur pendapatan APBD Papua mayoritas berasal dari lain-lain pendapatan daerah yang sah dengan komposisi terbesarnya berasal dari dana otonomi khusus. Dari sisi belanja, peningkatan terbesar berasal dari peningkatan belanja tidak langsung. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan belanja barang dan jasa serta belanja modal.
 
Perkembangan Inflasi
Tekanan inflasi Papua pada triwulan IV 2017 mengalami kenaikan dibanding dengan triwulan III 2017 namun masih lebih rendah dibanding inflasi Nasional. Sementara itu, secara tahunan, selama 2017 inflasi Papua mengalami penurunan dibandingkan tahun 2016.
Terkendalinya inflasi Papua pada triwulan IV 2017 disebabkan oleh terjaganya inflasi kelompok komoditas inti dan deflasi kelompok volatile food. Disisi lain, terjadi peningkatan inflasi kelompok komoditas administered prices pada triwulan IV 2017.
Secara spasial, kedua kota inflasi di Papua mengalami inflasi. Pada triwulan IV 2017, inflasi Kota Jayapura lebih tinggi dibanding inflasi di Kabupaten Merauke. Secara umum inflasi kedua wilayah tersebut terutama disebabkan oleh inflasi kelompok komoditas administered prices dan komoditas inti.
Mencermati risiko peningkatan harga di Papua, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah berkoordinasi melaksanakan berbagai kegiatan guna melaksanakan pengendalian harga di Papua.
 
Stabilitas Sistem Keuangan Daerah
Kinerja keuangan sektor korporasi dan rumah tangga pada triwulan IV 2017 terjaga dengan baik dan menjadi penopang stabilitas sistem keuangan secara umum di Papua.
Kinerja sektor korporasi di Papua pada triwulan IV 2017 relatif mengalami kenaikan dibanding triwulan III 2017. Peningkatan kinerja lapangan usaha tambang menjadi penopang stabilitas keuangan di sektor korporasi di tengah rendahnya realisasi belanja pemerintah. Kinerja perbankan di sektor Korporasi Papua pada triwulan IV 2017 masih relatif terjaga dengan kualitas kredit yang sedikit membaik.
Sementara kinerja sektor Rumah Tangga pada triwulan IV 2017 masih tumbuh positif, tercermin dari kondisi dan risiko keuangan di sektor Rumah Tangga yang relatif terjaga. Perkembangan indikator perbankan di sektor rumah tangga pada triwulan IV 2017 menunjukkan peningkatan, khususnya DPK dan penyaluran kredit. Sementara, kualitas kredit NPL relatif terjaga dalam batas ketentuan Bank Indonesia.
 
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Perkembangan transaksi system Klining Nasional Bank Indonesia (SKNBI) di Papua pada triwulan IV 2017 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, baik secara volume dan nominal. Transaksi melalui Sistem Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) pada triwulan laporan juga tercatat meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, aliran uamg kartal melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Papua menunjukkan posisi net outflow pada triwulan IV 2017 sebesar Rp3.257 miliar.
Kondisi tersebut salah satunya disebabkan pencairan dana desa di provinsi Papua dan tingginya kebutuhan uang tunai terkait perayaan hari raya natal dan tahun baru.
 
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Jumlah tenaga kerja di Papua pada triwulan IV 2017 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun 2017 namun disertai kenaikan tingkat pengangguran terbuka.
Secara umum kesejahteraan masyarakat Papua cenderung membaik dan jumlah penduduk miskin menurun. Tingkat kesenjangan menunjukan kecenderungan menurun walaupun masih berada di atas nilai rata-rata nasional. Disamping itu, garis kemiskinan juga mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan. Di sisi lain, penurunan terjadi pada nilai tukar petani yang mengindikasikan terjadinya penurunan kesejahteraan petani di Papua.
 
Prospek Ekonomi Daerah
Perekonomian Papua pada triwulan II 2018 diperkirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan I 2018. Izin ekspor konsentrat tembaga yang berakhir pada Februari 2018 diperkirakan menjadi faktor utama yang mempengaruhi kinerja lapangan usaha pertambangan dan ekspor luar negeri. Sementara, peralihan pemerintahan pasca pilkada berpotensi membuat kinerja lapangan usaha konstruksi, konsumsi pemerintah dan realisasi investasi tumbuh terbatas. Di sisi lain, pelaksanaan puasa dan lebaran menjadi faktor penopang perekonomian seiring kenaikan kinerja lapangan usaha perdagangan dan konsumsi masyarakat. Untuk keseluruhan tahun 2018, penambahan kuota ekspor, kenaikan UMP dan rencana eksplorasi tambang secara umum menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi.
Tekanan inflasi Papua pada triwulan II 2018 diperkirakan lebih tinggi dari triwulan I 2018. Perayaan pauasa dan lebaran menjadi salah satu faktor pemicu kenaikan harga. Untuk keseluruhan tahun 2018, inflasi Papua diperkirakan mengalami kenaikan dibanding tahun 2017. Kenaikan UMP dan pengaruh base effect menjadi faktor yang dapat memicu inflasi. Di sisi lain, kebijakan perubahan harga oleh pemerintah yang relatif minimal menjadi faktor yang dapat meredam tekanan inflasi pada tahun 2018.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel