Laporan Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat Mei 2019​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Agustus 2020

Perkembangan Ekonomi Makro Daerah

Ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada triwulan I 2019 mengalami tumbuh 2,12% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi 1,43% (yoy). Meningkatnya pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh meningkatnya ekspor tambang, khususnya pada ekspor dalam negeri ke Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Di luar sektor tambang, pertumbuhan ekonomi NTB non-tambang tumbuh sebesar 2,75% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,8% (yoy). Meningkatnya pertumbuhan ekonomi NTB non-tambang didorong oleh sektor konstruksi seiring masih berjalannya berbagai pembangunan proyek stategis termasuk pembangunan Hunian Tetap bagi masyarakat terdampak gempa.

Keuangan Pemerintah

Konsumsi pemerintah meningkat pada triwulan I 2019 yang tercermin dari akselerasi realisasi belanja pegawai dan belanja barang triwulan I 2019 secara tahunan. Sedangkan realisasi belanja modal menunjukkan penurunan sehingga menyebabkan realisasi APBD triwulan I 2019 secara keseluruhan menurun secara tahunan, dari Rp2,26 Triliun pada triwulan I 2018 menjadi Rp2,15 Triliun pada triwulan I 2019. Di sisi lain, realisasi pendapatan Provinsi NTB dan kota/kabupaten di Provinsi NTB pada triwulan I 2019 sebesar Rp4,41 Triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,14 Triliun.

Perkembangan Inflasi

Tekanan inflasi Provinsi NTB pada triwulan I 2019 menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Tekanan inflasi Provinsi NTB pada triwulan I 2019 tercatat sebesar 2,45% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 3,16% (yoy). Terjaganya inflasi NTB di awal tahun 2019 didukung oleh menurunnya tekanan inflasi pada beberapa kelompok komoditas, khususnya pada kelompok komoditas bahan makanan dan kelompok komoditas perumahan, air, listrik, dan bahan bakar. Namun demikian, penurunan inflasi yang lebih dalam tertahan oleh meningkatnya inflasi kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan, khususnya pada sub-kelompok transportasi. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya harga tiket pesawat, seiring dengan kebijakan maskapai yang menetapkan harga tiket pesawat mendekati batas atas ketentuan yang berlaku.

Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM

Stabilitas sistem keuangan daerah Provinsi NTB pada triwulan I 2019 masih terjaga, baik untuk ketahanan sektor korporasi maupun ketahanan rumah tangga. Ketahanansektor korporasitercermin dari Rasio Non Performing Loan (NPL) sedikit mengalami peningkatan menjadi 1,3% pada triwulan I-2019 dari sebelumnya 1,23%. Meskipun demikian terjadi peningkatan pertumbuhan kredit, dimana kredit perbankan yang disalurkan kepada sektor korporasi produktif tumbuh 9,98% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 5,32% (yoy). Di sisi lain, kredit konsumsi masih terus tumbuh melambat yakni 6,08% (yoy), melanjutkan tren sebelumnya.

Secara umum, kinerja bank umum (konvensional dan syariah) pada triwulan I-2019 mengalami perlambatanyang tercermin dari total aset bank umum di Provinsi NTB pada triwulan I-2019 yang tumbuh 9,32% (yoy), lebih tinggidibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,55% (yoy). Penyaluran kredit bank umum pada triwulan I-2019 tumbuh sebesar 8,29% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,93% (yoy). Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan pada triwulan I-2019 terakselerasi menjadi 20,24% (yoy).

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah

Permintaan terhadap uang kartal pada triwulan I 2019 lebih rendah dari pada triwulan sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan kondisi net inflow pada triwulan I 2019 sebesar Rp1,56 Triliun yang menunjukkan bahwa perbankan di Provinsi NTB memiliki likuiditas yang lebih besar. Kondisi net inflow pada triwulan I 2019 sesuai dengan pola historis pada triwulan I di tahun sebelumnya. Posisi net inflow ini antara lain disebabkan pasca momentum liburan di akhir tahun dan hari besar keagamaan (maulid nabi & natal), serta tahun baru pada triwulan sebelumnya.

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Beberapa indikator kesejahteraan Provinsi NTB pada triwulan I 2019 menunjukan peningkatan. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I 2019 serta terjaganya inflasi pada level yang rendah dan stabil, mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tampak dari beberapa indikator. Nilai Tukar Petani (NTP) menunjukkan peningkatan pada triwulan I 2019 dengan pertumbuhan 3,56% (yoy). Penerapan UMP Provinsi NTB 2019 turut meningkatkan kesejahteraan pada triwulan I 2019. Tingkat pengangguran pada Februari 2019 tercatat menurun pada presentase 3,27%. Demikian pula dengan penduduk miskin dalam persentase maupun jumlah orang miskin juga menurun menjadi 14,63% atau 735 ribu orang. Tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi dari indikator survei konsumen juga menunjukan arah optimisme yang lebih baik. Namun demikian, membaiknya indikator kesejahteraan belum mampu meningkatkan konsumsi RT pada triwulan I 2019.

Prospek Perekonomian Dae​rah

P​erbaikan ekonomi NTB diperkirakan kembali berlanjut pada triwulan II 2019. Pada triwulan III 2019, diperkirakan pertumbuhan ekonomi NTB meningkat pada kisaran antara 6,6% s/d 7,0% (yoy). Sementara itu untuk pertumbuhan ekonomi non-tambang diperkirakan berada pada kisaran 5,9 – 6,3% (yoy). Meningkatnya pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan III 2019 diperkirakan akan didorong oleh meningkatnya pertumbuhan di sektor ekonomi utama, yaitu sektor pertambangan dan konstruksi. Hal tersebut sejalan dengan perkiraan ekspor luar negeri serta investasi yang tumbuh menguat. Selain itu, meningkatnya pertumbuhan ekonomi NTB turut didorong oleh faktor base effect pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan III 2018 yang sangat rendah saat bencana gempa bumi.

Sementara itu tekanan inflasi pada awal tahun 2019 diperkirakan terkendali dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 ± 1%. Inflasi NTB di triwulan III 2019 diperkirakan menurun dan berada pada kisaran 2,9 – 3,3% (yoy). Menurunnya tekanan inflasi sejalan dengan pola konsumsi masyarakat yang menurun paska periode puasa dan Idul Fitri yang jatuh pada triwulan II 2019. Selain dipengaruhi oleh menurunnya permintaan masyarakat, menurunnya tekanan inflasi juga disebabkan oleh perkiraan harga komoditas hortikultura yang menurun, khususnya pada komoditas cabai, bawang merah, dan tomat sayur seiring memasuki siklus panen.

KEKR_NTB_Mei-2019.jpg


Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel