KEKR Provinsi Nusa Tenggara Barat November 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020
Ekonomi Provinsi NTB pada triwulan III 2018 mengalami kontraksi sebesar 13,99% (yoy), disebabkan oleh menurunnya kinerja ekspor luar negeri. Di luar sektor tambang, ekonomi Provinsi NTB pada triwulan III 2018 juga mengalami kontraksi yakni sebesar 0,36% (yoy), menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,23%(yoy). Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh dampak bencana gempa bumi di triwulan III 2018, sehingga menurunkan aktivitas perekonomian di Provinsi NTB. Pada triwulan IV 2018 pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB secara umum masih mengalami kontraksi. Faktor utama yang mempengaruhi kontraksi pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan IV 2018 adalah kinerja ekspor tembaga yang diperkirakan masih rendah. Hingga bulan Oktober 2018, tingkat utilisasi kuota ekspor masih sebesar 54,27%. Hingga akhir tahun 2018 diperkirakan realisasi ekspor tembaga tidak mencapai kapasitas maksimal dari kuota yang dimiliki, sehingga akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekspor luar negeri. Sementara itu untuk pertumbuhan ekonomi non-tambang diperkirakan berada pada kisaran 3,6 – 4,0% (yoy). Pasca peristiwa gempa bumi, konsumsi rumah tangga diperkirakan mulai sedikit menguat namun masih dalam besaran yang terbatas. Hal tersebut terkonfirmasi dari indikator ekspektasi penghasilan dan kondisi ekonomi kedepan yang masih terbatas. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB terus mengamati berbagai indikator makroekonomi global, nasional dan regional, sejumlah potensi risiko, dan dampak gempa yang melanda Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan inflasi Provinsi NTB. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah terkait dengan pengendalian inflasi dan pemulihan ekonomi pasca gempa bumi.
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel