Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Nusa Tenggara Barat November 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 Januari 2020

​Pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan III 2017 tumbuh meningkat sebesar 4,09% (yoy), setelah pada kedua triwulan sebelumnya mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif). Hal tersebut didorong oleh peningkatan kinerja ekspor luar negeri khususnya ekspor tembaga. Di luar sektor tambang, pertumbuhan ekonomi NTB triwulan II 2017 tercatat tetap tumbuh tinggi, sebesar 6,07% (yoy), yang ditopang oleh meningkatnya investasi khususnya investasi bangunan.

Tekanan inflasi tahunan Provinsi NTB pada triwulan III 2017 masih terkendali, tercatat sebesar 3,47% (yoy) atau masih dalam sasaran inflasi nasional sebesar 4 ± 1%. Hal tersebut terutama didukung oleh terkendalinya inflasi volatile food paska perayaan Hari Raya Idul Fitri, sehingga menahan laju inflasi pada triwulan III 2017.

Stabilitas keuangan daerah Provinsi NTB pada triwulan III 2017 masih relatif terjaga. Ketahanan sektor korporasi dan rumah tangga masih berada pada level aman. Hal ini tercermin dari indikator Non Performing Loan (NPL) relatif stabil. Risiko kredit sektor rumah tangga juga cenderung menurun, terlihat dari indikator Debt Service Ratio (DSR) > 30% yang mengalami penurunan.

Pada triwulan III 2017 terjadi penurunan kebutuhan uang tunai di Provinsi NTB. Hal ini tampak dari net outflow uang yaitu jumlah uang tunai yang keluar (cash outflow) lebih sedikit dari jumlah uang tunai yang masuk (cash inflow). Penurunan ini sejalan dengan kembali normalnya aktivitas ekonomi di Provinsi NTB terkait siklus musiman pasca bulan Ramadhan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri. Demikian pula dengan transaksi non tunai secara total transaksi (RTGS dan kliring) melambat dibanding triwulanan sebelumnya.

Indikator kesejahteraan Provinsi NTB menunjukkan peningkatan sejalan dengan kondisi ekonomi yang meningkat pada triwulan III 2017. Hal itu terlihat dari beberapa indikator seperti tingkat pengangguran yang mengalami penurunan. Selain itu, indikator Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan III 2017 menunjukan arah yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB (termasuk tambang) pada triwulan I 2018 diperkirakan meningkat. Ekonomi triwulan I 2018 diperkirakan tumbuh 6,5 s/d 6,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan perkiraan triwulan IV 2017 yang mengalami kontraksi. Meningkatnya pertumbuhan tersebut seiring dengan kuota ekspor tembaga yang diperkirakan akan secara maksimal dimanfaatkan menjelang akhir periode perizinan sehingga berpotensi meningkatkan kinerja ekspor luar negeri. Perekonomian Provinsi NTB (termasuk tambang) secara keseluruhan tahun 2018 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2017.

Sementara itu, ekonomi Provinsi NTB non-tambang pada triwulan I 2018 diprakirakan tumbuh 4,6 s/d 5,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan perkiraan triwulan IV 2017. Hal tersebut disebabkan menurunnya konsumsi masyarakat paska libur akhir tahun dan Maulid Nabi. Ekonomi Provinsi NTB non-tambang secara keseluruhan tahun 2018 diprakirakan tumbuh sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2017.

Tekanan inflasi tahunan pada triwulan I 2018 diperkirakan masih terkendali dan berada di dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 ± 1%.

Tags: Inflasi

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel