Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Nusa Tenggara Barat Februari 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
14 Juli 2020

​Pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan IV 2017 tumbuh melambat sebesar 0,58% (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya mengalami akselerasi sebesar 4,22% (yoy). Hal tersebut didorong oleh menurunnya kinerja ekspor luar negeri khususnya ekspor tembaga. Di luar sektor tambang, pertumbuhan ekonomi NTB triwulan IV 2017 tercatat sebagai pertumbuhan tertinggi selama 7 tahun terakhir dengan laju sebesar 8,30% (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya investasi dan pertumbuhan ekspor domestik yang tinggi.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB secara keseluruhan pada tahun 2017 tercatat sebesar 0,11% (yoy), lebih rendah dibandingkan tahun 2016 sebesar 5,82% (yoy). Terbatasnya kuota ekspor tembaga menjadi faktor utama penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB sepanjang tahun 2017.

Penyerapan belanja daerah Pemerintah Provinsi NTB dan seluruh kota/kabupaten di Provinsi NTB sampai dengan triwulan IV 2017 mencapai Rp19,91 Triliun. Penyerapan belanja tersebut lebih tinggi dibandingkan penyerapan dalam periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp17,14 Triliun. Hal ini ditopang oleh penyerapan pos belanja barang, belanja modal dan belanja pegawai meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, realisasi pendapatan dalam APBD Provinsi dan kota/kabupaten di Provinsi NTB sampai dengan triwulan IV 2017 sebesar Rp19,91 Triliun, lebih tinggi dibandingkan realisasi pendapatan dalam periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp17,91 Triliun. Pada tahun 2017 pendapatan daerah berupa pajak daerah dan pendapatan lain-lain yang sah meningkat.

Tekanan inflasi tahunan Provinsi NTB pada triwulan IV 2017 masih terkendali, tercatat sebesar 3,70% (yoy) atau masih dalam sasaran inflasi nasional sebesar 4 ± 1%. Hal tersebut terutama didukung oleh terkendalinya inflasi volatile food, sehingga menahan laju inflasi pada triwulan IV 2017.

Stabilitas keuangan daerah Provinsi NTB pada triwulan IV 2017 masih terjaga. Ketahanan sektor korporasi dan rumah tangga cukup baik, ditandai dengan indikator Non Performing Loan (NPL) yang menurun, meski terjadi perlambatan pertumbuhan kredit. Risiko kredit sektor rumah tangga ke depan menurun, terlihat dari indikator Debt Service Ratio (DSR) > 30% yang menurun dibanding triwulan sebelumnya.

Pada triwulan IV 2017 terjadi peningkatan kebutuhan uang tunai di Provinsi NTB. Hal ini tampak dari net outflow uang yaitu jumlah uang tunai yang keluar (cash outflow) lebih banyak dari jumlah uang tunai yang masuk (cash inflow). Peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan aktivitas ekonomi non tambang, terutama pada pengeluaran konsumsi pemerintah. Namun demikian, transaksi non tunai secara total transaksi (RTGS dan kliring) sedikit melambat dibanding triwulanan sebelumnya.

Indikator kesejahteraan Provinsi NTB menunjukkan peningkatan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat, terutama non tambang, pada triwulan IV 2017. Hal itu terlihat dari beberapa indikator seperti Nilai Tukar Petani (NTP) yang lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, persentase kemiskinan menunjukkan adanya penurunan.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB pada triwulan II 2018 diperkirakan menurun. Ekonomi triwulan II 2018 diperkirakan tumbuh antara 1,99 s.d 2,39% (yoy), lebih rendah dibandingkan perkiraan triwulan I 2018 yang mengalami peningkatan. Perlambatan pertumbuhan tersebut seiring dengan penurunan kinerja ekpor luar negeri, terutama ekspor tambang. Perekonomian Provinsi NTB secara keseluruhan tahun 2018 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2017.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel