Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Maluku Utara Mei 2018​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020
​​Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Ekonomi Maluku Utara pada triwulan I 2018 tumbuh melambat dibanding triwulan IV 2017. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2018 tercatat sebesar 7,98% (yoy), tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 8,30% (yoy). Dari sisi permintaan, moderasi pertumbuhan ekonomi triwulan I 2018 didorong oleh melambatnya konsumsi yang berasal dari rumah tangga, lembaga non profit rumah tangga, dana pemerintah dan kegiatan investasi di Maluku Utara yang lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang merupakan periode akhir tahun dan libur panjang. Sementara dari sisi penawaran, penurunan kinerja beberapa lapangan usaha utama yakni lapangan usaha industri pengolahan, lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, lapangan usaha konstruksi, dan lapangan usaha administrasi pemerintah juga melambat pada triwulan I 2018. Perlambatan kinerja juga terjadi pada lapangan usaha industri pengolahan terutama disebabkan proses konsolidasi sektor industri pengolahan terkait fasilitas pengolahan dan pemurnian bijih nikel di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara pada tahun 2017.

Menapaki triwulan II 2018, perekonomian Maluku Utara diperkirakan akan mengalami akselerasi dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan perekonomian Maluku Utara diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 7,93% - 8,33% (yoy). Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran diperkirakan juga mengalami akselerasi pertumbuhan yang disebabkan oleh masuknya momen ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Lapangan usaha yang diperkirakan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan pada triwulan II 2018 diantaranya adalah lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, perdagangan dan transportasi. Lapangan usaha pertanian diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan I 2018 seiring dengan kuatnya dorongan pemerintah terhadap kemandirian pangan khususnya sayur mayur dan barito didukung dengan kondisi cuaca yang diperkirakan lebih baik (curah hujan yang lebih sedikit) pada akhir triwulan II 2018. Sementara itu, dari hasil survei liaison diperoleh informasi bahwa cengkih dan pala yang merupakan komoditas perkebunan utama Maluku Utara akan memasuki masa panen tertinggi sepanjang tahun pada triwulan II 2018. Dengan mempertimbangkan kondisi terkini serta proyeksi triwulan II 2018 tersebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2018 diperkirakan berada pada kisaran 7,06 – 7,46% (yoy).

Keuangan Pemerintah

Hingga triwulan I 2018, realisasi pendapatan daerah Pemerintah Provinsi Maluku Utara sebesar Rp512,72 miliar atau mengalami kontraksi sebesar 6,70% (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pada APBD 2018, terdapat penurunan target anggaran pendapatan, yang terbesar berasala dari Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah sebesar 74,01% yang disebabkan turunnya pendapatan hibah.

Dari sisi pengeluaran, belanja APBD hingga triwulan I 2018 terealisasi sebesar Rp340,34 miliar atau 14,64% dari nilai belanja yang dianggarkan. Realisasi ini lebih besar dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya terealisasi 12,01%. Secara umum, realisasi belanja APBD pada triwulan I 2018 mengalami peningksatan sebesar 6,94% (yoy).

Inflasi Daerah

Inflasi Maluku Utara, yang diwakili oleh inflasi Kota Ternate, pada triwulan I 2018 tercatat sebesar 3,28% (yoy), lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi pada triwulan IV 2017 sebesar 1,97% (yoy). Perkembangan disagregasi inflasi triwulan I 2018 secara tahunan (yoy), kelompok core inflation dan volatile food mengalami peningkatan dibandingkan triwulan IV 2017, sedangkan untuk kelompok administered prices mengalami sedikit penurunan. Sementara itu, dibandingkan dengan rata-rata disagregasi inflasi 3 (tiga) tahun terakhir, hanya inflasi kelompok administered prices yang realisasinya lebih tinggi dari triwulan I 2018.

Inflasi pada triwulan II 2018 diperkirakan mengalami sedikit penurunan tekanan sebagai efek terjaganya pasokan bahan pangan strategis. Hal tersebut tidak terlepas dari peranan TPID kota Ternate dan satgas pangan terutama menjelang hari raya Idul Fitri. Beberapa program pengendalian inflasi yang dilakukan antara lain adalah peningkatan koordinasi dan roadshow TPID kota Ternate kebeberapa provinsi pada bulan April 2018 dalam rangka menjaga pasokan pangan kesentra konsumsi kota Ternate. Dengan demikian, inflasi akhir triwulan II 2018 diperkirakan terjaga dan berada pada kisaran 2,82% - 3,22% (yoy).

Analisis Stabilitas Keuangan Daerah 

Secara umum, Risiko kredit rumah tangga di triwulan I 2018 tercatat mengalami peningkatan, meskipun demikian masih berada dibawah threshold yang ditetapkan. Secara umum, ketahanan sektor rumah tangga masih terjaga.

Pada triwulan I 2018, perekonomian Maluku Utara pada sisi pengeluaran, secara konsisten masih didominasi oleh Konsumsi Rumah Tangga, dengan pangsa lebih dari 50%. Namun demikian pangsa tersebut terus menunjukkan penurunan seiring peningkatan peranan dari investasi swasta dan konsumsi pemerintah. Pada triwulan I 2018 pangsa konsumsi rumah tangga tercatat sebesar 55,75% lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 55,95%.

Perkembangan Sistem Pembayaran

Sejalan dengan pola historisnya, aliran uang kartal antara Bank Indonesia dengan perbankan di Provinsi Maluku Utara pada triwulan I 2018 mengalami net inflow. Aliran uang kartal menunjukkan peningkatan yang signifikan pada net inflow dibandingkan triwulan sebelumnya. Posisi net inflow  meningkat signifikan mencapai 181,06% (yoy), kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi triwulan sebelumnya yang net outflow sebesar Rp882,26 miliar. Pada triwulan I 2018 aliran uang keluar (outflow) tercatat sebesar Rp271,52 miliar, sementara aliran uang masuk (inflow) sebesar Rp544,88 miliar lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang sebesar Rp196,48 miliar. Peningkatan net inflow tersebut menunjukkan adanya penurunan kebutuhan uang kartal oleh masyarakat dibandingkan triwulan sebelumnya imbas berakhirnya musim liburan akhir tahun 2017.

Penggunaan sistem pembayaran non tunai melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada triwulan I 2018 tumbuh melambat secara nominal maupun volume. Secara nominal perputaran kliring mencapai Rp638,84 miliar, terkontraksi secara signifikan sebesar -4,66% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,18% (yoy). Pertumbuhan transaksi nontunai dengan layanan jasa RTGS triwulan I 2018 mengalami penurunan secara jumlah transaksi maupun secara nominal. Perlambatan ini sejalan dengan menurunnya kinerja keuangan dan kondisi korporasi dibeberapa sektor yang berdampak dengan menurunnya kebutuhan akan layanan transaksi nontunai high value.

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Maluku Utara pada Februari 2018 tercatat sebesar 4,65%, lebih rendah dibanding Agustus 2017 dan Februari 2017 yang masing-masing sebesar 5,33% dan 4,82%. Penurunan TPT tersebut diikuti oleh kenaikan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada periode yang sama.

Sementara itu, Kesejahteraan masyarakat di area pedesaan terpantau menunjukkan sedikit penurunan. Pada triwulan I 2018, Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku Utara tercatat sebesar 100,19, menurun dibanding triwulan IV 2017 yang tercatat sebesar 101,73.

Disisi lain, Provinsi Maluku Utara masih tercatat sebagai provinsi dengan indeks kebahagian tertinggi dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia yakni sebesar 75,68, selanjutnya diikuti Maluku sebesar 73,77, dan Sulawesi Utara sebesar 73,69.

Prospek Perekonomian

Perekonomian Maluku Utara pada triwulan III 2018 diperkirakan mengalami moderasi pertumbuhan dari triwulan berjalan dan berada pada kisaran 6,38% – 6,78% (yoy). Dari sisi permintaan, perlambatan pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh penurunan pada sektor konsumsi rumah tangga yang disebabkan pasca puncak konsumsi masyarakat yang jatuh pada momen ramadhan dan hari raya idul fitri pada triwulan II 2018. Selain itu, sektor ekspor LN juga diperkirakan akan melambat sejalan dengan menurunnya lapangan usaha industri pengolahan akibat based effect aktivasi smelter fero-nickel di triwulan yang sama di tahun 2017. Di lain sisi, perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut masih tertahan oleh membaiknya konsumsi pemerintah dan PMTB seiring membaiknya iklim investasi di Maluku Utara paska pelaksanaan Pilkada tingkat provinsi di tahun 2018.

Tekanan inflasi Maluku Utara pada triwulan III 2018 diperkirakan akan mengalami peningkatan dibanding inflasi triwulan berjalan yakni berada pada kisaran 3,42% (yoy) – 3,82% (yoy). Berdasarkan disagregasinya, kelompok volatile food pada triwulan III 2018 diperkirakan mengalami kenaikan yang signifikan. Sementara itu, untuk kelompok inflasi inti dan kelompok administered prices diperkirakan mengalami peningkatan tekanan. Peningkatan inflasi di triwulan mendatang, secara umum diperkirakan disebabkan oleh sebagian besar wilayah Maluku Utara telah memasuki musim kemarau panjang sehingga mempengaruhi musim panen sayur mayur dan barito. Dengan memperhatikan risiko-risiko tersebut, inflasi pada 2018 diperkirakan mencapai 3,93% - 4,33%  (yoy) atau masih dalam rentang sasaran inflasi nasional.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel