Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Maluku Utara Februari 2019​​​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
15 Agustus 2020
 
Pertumbuhan Ekonomi Daerah
 
Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada triwulan IV 2018 tercatat sebesar 8,25% (yoy), mengalami percepatan jika dibandingkan 8,21% (yoy) pada triwulan sebelumnya, sehinga secara keseluruhan pertumbuhan Maluku Utara pada 2018 tumbuh sebesar 7,92% (yoy), akselerasi dibandingkan tahun 2017 yang tumbuh sebesar 7,67% (yoy). Dengan demikian, Maluku Utara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di KTI baik pada triwulan IV 2018 maupun keseluruhan tahun 2018. Pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,17% (yoy). Dari sisi permintaan, percepatan pertumbuhan terjadi pada sektor Konsumsi Rumah Tangga, Konsumsi LNPRT, Konsumsi Pemerintah, dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) seiring dengan tumbuhnya Lapangan Usaha Pertanian dan Lapangan Usaha Perdagangan dalam rangka memenuhi konsumsi masyarakat pada HBKN dan Tahun Baru pada triwulan IV 2018. Selain itu, disinyalir terdapat peningkatan konsumsi masyarakat akibat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) pada bulan Desember. Sementara itu, dari sisi penawaran, percepatan secara umum disebabkan oleh lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran dalam rangka menunjang kebutuhan Maluku Utara selama HBKN dan Tahun Baru.
 
Memasuki triwulan I 2019, perekonomian Maluku Utara diperkirakan akan kembali mengalami perlambatan dibanding triwulan sebelumnya akibat normalisasi konsumsi masyarakat dan pemerintah pada momen HBKN Natal, tahun baru, dan libur sekolah semester II,  serta penyelesaian proyek pemerintah pada akhir tahun 2018. Pertumbuhan perekonomian Maluku Utara pada triwulan I 2019 diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 7,85% - 8,25% (yoy). Ditinjau dari sisi penawaran, lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran serta lapangan usaha Pertanian dan Perikanan diperkirakan akan mengalami perlambatan pertumbuhan yang disebabkan oleh normalisasi kinerja sektor utama tersebut dalam rangka pemenuhan pasca tingginya konsumsi masyarakat pada triwulan IV 2018. Sementara itu, lapangan usaha Pertambangan diperkirakan akan menopang laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2019 yang disebabkan oleh bertambahnya hari produksi bijih nikel pada triwulan tersebut dibandingkan dengan triwulan IV 2018 seiring dengan percepatan ekspor Luar Negeri pada triwulan IV 2018. 
 
 
Keuangan Pemerintah
 
Hingga triwulan IV 2018, realisasi pendapatan daerah Pemerintah Provinsi Maluku Utara sebesar Rp2,34 triliun. Realisasi ini meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp2,16 triliun. Anggaran pendapatan Pemprov Maluku Utara dalam APBD 2018 adalah sebesar Rp2,48 triliun atau menurun 13,13% dari anggaran pendapatan APBD 2017 yang tercatat sebesar Rp2,86 triliun.
 
Dari sisi pengeluaran, belanja APBD hingga triwulan IV 2018 terealisasi sebesar Rp2,39 triliun. Realisasi ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017 yang tercatat sebesar Rp1,97 triliun. Secara umum, nominal APBD pada triwulan IV 2018 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan IV 2017. Secara nominal, realisasi ini melebihi anggaran belanja Pemprov Maluku Utara tahun 2018 yang dianggarkan sebesar Rp2,32 triliun.
 

Inflasi Daerah
 
Inflasi pada triwulan IV 2018 tercatat sebesar 4,12% (yoy) meningkat jika dibandingkan dengan 3,67%  (yoy) pada triwulan sebelumnya. Kenaikan inflasi terjadi akibat perayaan Natal dan Tahun Baru 2019, khususnya pada beberapa kelompok bahan makanan seperti sayur-sayuran, bumbu-bumbuan dan ikan segar, serta kenaikan harga pada kelompok transportasi seperti tiket angkutan udara.
 
Tekanan Inflasi pada triwulan berjalan (triwulan I 2019) diperkirakan mengalami sedikit penurunan tekanan sebagai akibat normalisasi harga pasca perayaan Natal dan Tahun Baru 2019. Meski demikian, terdapat ancaman tekanan inflasi dari pelaksanaan Pemilu Pilpres 2019 yang dapat menyebabkan peningkatan konsumsi di masyarakat Maluku Utara. 
 
 
Analisis Stabilitas Keuangan Daerah
 
Secara umum, Risiko kredit rumah tangga di triwulan IV 2018 menunjukkan penurunan, tercermin dari NPL sektor rumah tangga sebesar 0,53% pada triwulan IV 2018, membaik dibanding 0,62% pada triwulan sebelumnya. Sejalan dengan Hal tersebut, pangsa konsumsi rumah tangga pada PDRB tercatat sebesar 53,98% di triwulan IV 2018, tetap yang terbesar dan menunjukkan sedikit peningkatan dibanding triwulan III 2018 yang sebesar 53,72% dari total PDRB.
 
Sama halnya dengan rumah tangga, risiko korporasi juga menunjukkan penurunan, tercermin dari perbaikan NPL sektor korporasi dari 3,89% pada triwulan III 2018 menjadi 3,38% pada triwulan IV 2018. Penurunan risiko kredit secara umum disebabkan oleh upaya perbankan dalam menjaga dan memperbaiki kualitas kredit.

 

Perkembangan Sistem Pembayaran
 
Transaksi keuangan tunai di Maluku Utara pada triwulan IV 2018 mengalami net outflow sebesar Rp 1048.76 miliar. Sementara itu, transaksi kliring pada triwulan IV 2018 juga mengalami kenaikan sebesar Rp 949,561 Miliar atau 13,19% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 743,417 Miliar. Peningkatan transaksi keuangan secara tunai dan non tunai tersebut merupakan imbas dari perayaan natal dan tahun baru, serta meningkatnya pembayaran transaksi keuangan Pemda menjelang tutup buku anggaran tahunan.
 
Penggunaan sistem pembayaran non tunai melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada triwulan IV 2018 terpantau mengalami kenaikan dari sisi volume maupun nominal. Secara volume perputaran kliring mencapai 28.367 atau naik sebesar 26,96% (yoy). Sementara itu, secara nominal transaksi SKNBI mengalami peningkatan sebesar 13,19% (yoy) atau sebesar Rp 949,561 milyar atau naik 0.4% (qtq) setelah pada triwulan sebelumnya tercatat sebesar Rp 743,42 miliar.
 
 
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Maluku Utara pada Agustus 2018 tercatat sebesar 4,77%, lebih tinggi dibanding Februari 2018 tapi lebih rendah dibanding Agustus 2017 yang masing-masing sebesar 4,65% dan 5,33%. Kenaikan TPT tersebut diikuti oleh penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada periode yang sama.
 
Sementara itu, Kesejahteraan masyarakat di area pedesaan terpantau menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan lebih rendah jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan IV 2018, rata-rata Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku Utara tercatat sebesar 96,92, menurun dibanding triwulan III 2018 yang tercatat sebesar 99,09. Hal ini, sejalan dengan rata-rata pertumbuhan NTP Maluku Utara mengalami penurunan, yaitu dari -1,87% (yoy) pada triwulan III 2018 menjadi -4,72% (yoy) pada triwulan IV 2018. Secara keseluruhan NTP gabungan Maluku Utara di Kawasan Timur Indonesia memiliki ranking 9 (sembilan) dari 17 (tujuh belas) daerah.
 
 
Prospek Perekonomian
 
Perekonomian Maluku Utara pada triwulan II 2019 diproyeksikan masih tumbuh positif, meskipun melambat dibandingkan triwulan I 2019 dan berada pada kisaran 7,26% – 7,66% (yoy). Dari sisi permintaan, perlambatan pertumbuhan ekonomi didorong oleh sektor PMTB yang disebabkan oleh aksi wait and see investor menyusul rencana Pemilu Pilpres Indonesia 2019 yang jatuh pada bulan April 2019. Selain itu, ekspor Luar Negeri juga diperkirakan mengalami perlambatan seiring dengan menurunnya produksi pada lapangan usaha pertambangan dan industri pengolahan. Di lain sisi, perlambatan pertumbuhan ekonomi diperkirakan dapat ditahan dengan meningkatnya sektor konsumsi rumah tangga dan pemerintah sejalan dengan peningkatan konsumsi masyarakat pada bulan puasa dan hari raya idul fitri 2019.
 
Tekanan inflasi Maluku Utara pada triwulan II 2019 diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan dibanding inflasi triwulan berjalan. Penurunan inflasi di triwulan mendatang, secara umum diperkirakan disebabkan oleh membaiknya tata kelola dan tata usaha pada pertanian dan perikanan sehingga pasokan pangan di Maluku Utara dapat terjaga. Penurunan harga diperkirakan terjadi pada kelompok bahan makanan. Meskipun demikian, terdapat potensi kenaikan inflasi sebagai akibat dari adanya Bulan Ramadhan dan HBKN Idul Fitri di triwulan II 2019. Potensi kenaikan inflasi diperkirakan terjadi pada kelompok sandang, makanan jadi, dan dan biaya angkutan seperti tiket pesawat dan angkutan laut. Selain itu, komoditas rokok diperkirakan masih akan berkontribusi terhadap inflasi di Maluku Utara karena tingginya konsumsi masyarakat terhadap komoditi tersebut terutama pada hari raya Idul Fitri. 

 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel