Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Maluku Utara Februari 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
30 Januari 2020

Ekonomi Maluku Utara pada triwulan VI 2017 tumbuh meningkat dibanding triwulan III 2017. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2017 tercatat sebesar 8,30% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang sebesar 7,76% (yoy). Dari sisi permintaan, akselerasi pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2017 didorong oleh peningkatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, lembaga nonprofit rumah tangga, pemerintah daerah di Maluku utara, peningkatan pertumbuhan investasi yang dicerminkan oleh Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) serta kinerja ekspor luar negeri yang disebabkan oleh tren peningkatan ekspor nikel. Dari sisi penawaran, akselerasi perekonomian Maluku Utara pada triwulan IV 2017 terutama didorong oleh ekspansi pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, transportasi dan pergudangan, informasi dan komunikasi, penyediaan akomodasi dan makan minum, jasa keuangan, dan real estate.

Menapaki triwulan I 2018, perekonomian Maluku Utara diperkirakan akan tumbuh relatif melambat dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan perekonomian Maluku Utara diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 7,69% - 8,09% (yoy) dengan kecenderungan bias ke atas. Lapangan usaha pertambangan diperkirakan akan tumbuh positif, namun melambat seiring dengan berkurangnya kuota ekspor bijih nikel. Lapangan usaha konstruksi diperkirakan akan mengalami perlambatan pertumbuhan. Dengan mempertimbangkan kondisi terkini serta proyeksi triwulan I 2018 tersebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2018 diperkirakan berada pada kisaran 6,91 – 7,31% (yoy). Peningkatan ini terutama terjadi seiring peningkatan PAD dan Dana perimbangan yang dipengaruhi oleh membaiknya kinerja sektor pertambangan dan industri pengolahan Maluku Utara.

Dari sisi pengeluaran, belanja APBD hingga triwulan IV 2017 terealisasi sebesar Rp1.970,54 miliar atau 78,36% dari nilai belanja yangdianggarkan. Realisasi belanja pemerintah mengejar keterlambatan realisasi triwulan sebelumnya. Sehingga yang seharusnya direalisasi pada triwulan sebelumnya baru dapat direalisasi periode triwulan IV 2017.

Kenaikan inflasi terindikasi terjadi sebagai dampak dari peringatan Maulid Nabi Muhammmad SAW, Hari Raya Natal yang disertai dengan pelaksanaan Cuti Bersama, dan perayaan Tahun Baru. Dengan demikian, Inflasi Maluku Utara, yang diwakili oleh inflasi Kota Ternate, pada akhir triwulan IV 2017 tercatat sebesar 1,97% (yoy), angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi pada akhir triwulan III 2017. Terjaganya inflasi dipengaruhi menurunnya tekanan kenaikan harga yang dapat dilihat dari tren penurunan harga BBM dan tarif listrik, serta perkiraan meningkatnya ketersediaan bahan pangan. Adapun risiko yang akan mempengaruhi peningkatan inflasi pada triwulan I 2018 adalah kenaikan beras di sentra produksi di pulau Jawa dan adanya potensi gangguan listrik dari pembangkit PLTMG berpotensi meningkatkan harga komoditas perikanan. Dengan demikian, inflasi akhir triwulan I 2018 diperkirakan terjaga dan berada pada kisaran 1,85% - 2,25%(yoy).

Sementara itu, stabilitas keuangan sektor korporasi secara umum masih terjaga. Meningkatnya kinerja ekonomi ini diikuti dengan turunnya risiko kredit yang terindikasi dari menurunnya NPL kredit ke sektor korporasi dibandingkan triwulan sebelumnya. NPL sektor korporasi tercatat mengalami penurunan dari 4,05% pada triwulan III 2017 menjadi 3,31% pada triwulan IV 2017.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel