Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Maluku Mei 2018​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
10 Agustus 2020

Perkembangan Ekonomi Makro
Perekonomian Maluku pada triwulan I 2018 mampu mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi dan lebih kuat dibandingkan triwulan sebelumnya. Ekonomi Maluku mampu tumbuh 5,25% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan IV 2017 sebesar 5,11% (yoy). Dari sisi permintaan, penguatan pertumbuhan pada triwulan I 2018 didorong oleh meningkatnya kinerja komponen Konsumsi Pemerintah dan Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB). Di sisi penawaran, peningkatan pertumbuhan didorong oleh penguatan kinerja pada lapangan usaha (LU) Administrasi Pemerintahan dan LU Perdagangan Besar dan Eceran pada triwulan laporan. ​

Dari sisi permintaan, peningkatan pertumbuhan komponen Konsumsi Pemerintah terutama didorong oleh realisasi belanja pemerintah sehubungan dengan adanya persiapan Pilkada serentak di Maluku, perubahan nomenklatur pegawai di tingkat kabupaten/kota dan provinsi, dan realisasi pencairan Dana Desa Tahun Anggaran (TA) 2018 tahap I. Di sisi lain, peningkatan pertumbuhan komponen PMTDB didukung oleh adanya realisasi belanja modal untuk investasi selama periode laporan, seperti kapal laut, alat listrik, dan barang investasi lainnya. Kondisi ini tercermin dari meningkatnya impor barang modal pada triwulan I 2018. ​

Dari sisi lapangan usaha, menguatnya pertumbuhan LU Administrasi Pemerintahan sejalan dengan peningkatan pada komponen Konsumsi Pemerintah, yang didukung oleh realisasi belanja untuk persiapan Pilkada serentak, perubahan nomenklatur pegawai, dan realisasi pencairan Dana Desa TA 2018 tahap I. Sementara itu, meningkatnya pertumbuhan LU Perdagangan Besar dan Eceran didorong oleh meningkatnya aktivitas belanja pemerintah selama triwulan I 2018. Peningkatan dimaksud juga didukung dengan adanya pertumbuhan lapangan usaha ini yang lebih terbatas dibandingkan tahun sebelumnya. ​

Keuangan Pemerintah
Realisasi belanja APBN dari Pemerintah Pusat di Provinsi Maluku pada triwulan I 2018, tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi APBN untuk Maluku mencapai 14,52% atau mencapai Rp962,92 miliar. Secara rasio, realisasi tersebut lebih tinggi bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 12,01%. Secara nominal, realisasi belanja APBN tersebut juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp849,61 miliar. Peningkatan tersebut didorong oleh adanya peningkatan pada realisasi komponen Belanja Barang, Belanja Modal, dan Belanja Bantuan Sosial. Beberapa faktor yang mendukung kondisi ini adalah seperti adanya self blocking terhadap penggunaan anggaran di tahun sebelumnya, realisasi belanja barang modal, persiapan Pilkada serentak, dan realisasi Dana Desa TA 2018 tahap I selama periode laporan. ​

Realisasi belanja APBD Provinsi Maluku triwulan I 2018 juga tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Rasio Belanja Total tercatat sebesar 14,28%, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 10,04%. Peningkatan tersebut didorong oleh realisasi Belanja Tidak Langsung yang mencatatkan rasio realisasi sebesar 21,20%, dibandingkan triwulan I 2017 yang memiliki rasio 12,37%. Beberapa faktor yang mendukung kondisi ini adalah seperti adanya perubahan nomenklatur Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan realisasi persiapan Pilkada serentak di Maluku pada triwulan laporan. ​

Perkembangan Inflasi Daerah
Inflasi tahunan Provinsi Maluku pada triwulan I 2018 masih terkendali. Pada triwulan I 2018, inflasi tahunan Maluku tercatat sebesar 0,89% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2017 yang tercatat sebesar 0,78% (yoy). Realisasi inflasi tersebut cukup terkendali dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi Maluku tahun 2018 berdasarkan roadmap Pengendalian inflasi yang disusun oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Maluku yaitu sebesar 4% ± 1%. ​

Meningkatnya inflasi tahunan Provinsi Maluku pada triwulan I 2018 dibandingkan triwulan sebelumnya dipicu oleh meningkatnya tekanan inflasi dari komponen volatile food (VF) dan komponen inti. Dari komponen VF, inflasi dipicu oleh kelompok bahan makanan, sedangkan inflasi komponen inti dipengaruhi oleh subkelompok angkutan udara. ​

Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
Stabilitas sistem keuangan Maluku triwulan I 2018 masih terjaga di tengah terbatasnya kinerja sektor rumah tangga, sektor korporasi, dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Proporsi penyaluran kredit di Maluku pada triwulan I 2018 masih didominasi oleh sektor rumah tangga sebesar 56,44%, sedangkan korporasi dan UMKM masing-masing sebesar 15,63% dan 27,93%. Perlambatan kinerja tersebut dicerminkan oleh menurunnya pertumbuhan kredit ketiga sektor yang dipengaruhi oleh pertumbuhan yang terbatas dari lapangan usaha utama Maluku, LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, dan komponen Konsumsi Rumah Tangga (RT). Meskipun demikian, risiko kredit masih terjaga dengan nilai non-performing loan (NPL) di bawah threshold. ​

Kinerja korporasi sektor utama Maluku masih tumbuh positif meskipun tidak setinggi periode sebelumnya yang disebabkan oleh kondisi cuaca yang kurang mendukung aktivitas sektor utama selama periode laporan. Pada triwulan I 2018, kredit korporasi tumbuh 31,90% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 45,86% (yoy). Sementara itu, perkembangan kondisi RT masih cukup baik walaupun kinerja Konsumsi RT Maluku melambat. Pada triwulan I 2018, kredit RT tumbuh 17,73% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 22,10% (yoy). ​

Selanjutnya, kinerja perbankan di Maluku relatif membaik dibandingkan triwulan sebelumnya. Total aset dan DPK meningkat, sedangkan kredit melambat diiringi dengan terjaganya risiko kredit di bawah batas threshold dan intermediasi perbankan yang tetap tumbuh tinggi. Pada triwulan I 2018, total aset perbankan tercatat tumbuh 11,23% (yoy), sedangkan DPK tumbuh 6,60% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan total kredit yang disalurkan di Maluku pada triwulan I 2018 tercatat sebesar 19,33% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 27,29% (yoy). ​

Dari sisi pengembangan akses keuangan dan UMKM, proporsi kredit UMKM terhadap totap kredit perbankan di Maluku telah mencapai 23,93%, lebih tinggi dari target yang ditetapkan di tahun 2018, yaitu 20%. Meskipun demikian, pertumbuhan kredit UMKM terpantau melambat di triwulan I 2018 menjadi 25,46% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 27,77% (yoy). ​

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Perkembangan sistem pembayaran tunai sebagaimana ditunjukkan dari arus perputaran kas di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku selama triwulan I 2018 menunjukan net inflow sebesar Rp615,54 miliar. Hal ini menunjukan bahwa jumlah uang tunai yang masuk lebih banyak dibandingkan jumlah yang keluar dari Kantor perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku. Kondisi net inflow selama triwulan I 2018 sesuai dengan pola tahunan masyarakat Maluku yang pada umumnya melakukan lebih banyak setoran selama triwulan pertama. ​

Arus uang masuk ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku secara tahunan tercatat mengalami pertumbuhan yang terbatas. Penerimaan setoran uang kartal mengalami pertumbuhan 2,15% (yoy) pada triwulan I 2018, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 32,27% (yoy). Sementara itu, arus uang kartal yang keluar dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku tercatat mengalami kontraksi. Tarikan uang kartal selama triwulan I 2018 mengalami kontraksi 57,15% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 2,82% (yoy). Kondisi ini mengkonfirmasi adanya penurunan Konsumsi Rumah Tangga (RT) selama triwulan I 2018, yang tercermin dari lebih banyaknya uang yang disimpan di perbankan. ​

Perkembangan sistem pembayaran non-tunai, yang dapat ditinjau dari perkembangan transaksi RTGS dan kliring, mengalami pertumbuhan yang terbatas. Pada triwulan I 2018, pertumbuhan volume transaksi RTGS dan kliring tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini juga mengkonfirmasi adanya penurunan Konsumsi RT selama triwulan laporan, yang tercermin dari menurunnya pertumbuhan transaksi kedua sistem tersebut di masyarakat. ​

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Angka pengangguran Maluku pada Februari 2018 menurun secara signifikan. Jumlah pengangguran Provinsi Maluku pada Februari 2018 mencapai 56.958 orang atau sebesar 7,38% terhadap total angkatan kerja yang tercatat sebanyak 772.174 orang. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan bulan Agustus 2017 yang tercatat sebesar 65.735 atau 9,29% terhadap total angkatan kerja yang tercatat sebanyak 707.796. Tingkat pengangguran tersebut juga mengalami penurunan dibandingkan tingkat pengangguran pada Februari 2017, yang tercatat sebanyak 59.745 orang atau 7,77% dari total angkatan kerja yang sebesar 769.108 orang. Penurunan angka pengangguran ini didorong oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja, terutama pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan serta jasa kemasyarakatan, sosial, dan perseorangan. ​

Dari sisi pendapatan masyarakat, Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami sedikit penurunan pada triwulan I 2018. NTP Provinsi Maluku pada triwulan I 2018 tercatat sebesar 100,43, sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2017 yang tercatat sebesar 101,68. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya indeks bayar selama triwulan laporan. Beberapa faktor yang memicu peningkatan indeks bayar adalah kenaikan harga biaya pendukung produksi, seperti biaya pupuk. ​

Sementara itu, perkembangan kesejahteraan penduduk Maluku tercatat mengalami peningkatan. Peningkatan kesejahteraan tersebut terlihat dari berkurangnya jumlah penduduk miskin yang terdapat di Provinsi Maluku. Meski jumlah penduduk miskin sempat meningkat menjadi 331.790 orang pada bulan September 2016, namun pada bulan September 2017 jumlah penduduk miskin Provinsi Maluku turun menjadi 320.420 orang, atau turun 0,30% dibandingkan triwulan sebelumnya. ​

Prospek Perekonomian Daerah
Pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan III 2018 diperkirakan berada pada rentang 5,85% - 6,25% (yoy). Dari sisi lapangan usaha (LU), kinerja perekonomian triwulan III 2018 didorong oleh peningkatan kinerja LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, dan LU Administrasi Pemerintahan. Pada LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, Pemerintah Provinsi Maluku masih akan merealisasikan beberapa program untuk meningkatkan produksi tanaman bahan pokok, seperti padi, bawang merah, dan cabai. Hal ini juga bertujuan untuk mengendalikan harga bahan pokok di Maluku. Selain itu, Pemerintah Provinsi Maluku juga diperkirakan akan tetap melanjutkan program untuk melakukan pengembangan budidaya budidaya ikan lele di Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Dari LU Administrasi Pemerintahan, kinerja akan didorong oleh berlanjutnya pembangunan proyek infrastruktur strategis pemerintah dan pengembangan investasi. Selain itu, komitmen pemerintah daerah terhadap realisasi program Dana Desa Tahun Anggaran (TA) 2018, terutama penyaluran Dana Desa tahap III akan mendorong lapang usaha ini. ​

Dari sisi permintaan, kinerja perekonomian pada triwulan III 2018 diperkirakan akan didorong oleh Konsumsi Rumah Tangga (RT), Konsumsi Pemerintah, dan Konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT). Dari Konsumsi RT akan didorong oleh penyelenggaraan kegiatan internasional, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Kehadiran turis mancanegara akan mendorong konsumsi RT di Maluku. Peningkatan pada Konsumsi RT terindikasi akan berasal dari konsumsi makanan dan minuman dan konsumsi sandang. Sementara itu, peningkatan pada Konsumsi Pemerintah akan didorong oleh berlanjutnya realisasi proyek infrastruktur strategis pemerintah sejalan dengan LU Konstruksi dan realisasi dana desa tahap III. Selain Konsumsi Pemerintah, realisasi dana desa juga diprediksi akan mendorong Konsumsi RT. Dari sektor Konsumsi LNPRT, aktivitas persiapan Pilkada serentak di Maluku diperkirakan akan mampu mendorong pertumbuhan sektor ini. ​

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Maluku untuk keseluruhan tahun 2018 diperkirakan dalam rentang 5,43% - 5,83% (yoy. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan didorong oleh terus membaiknya Sektor Perikanan seiring meningkatnya produksi dan ekspor perikanan. Investasi baru dalam sektor perikanan dan konstruksi terpantau meningkat mulai akhir tahun 2017 dan diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir 2018. Sementara itu, kinerja lapangan usaha perdagangan diperkirakan tetap tumbuh seiring dengan perbaikan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi, secara relatif dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, semakin membaiknya kondisi korporasi diharapkan dapat menyediakan lebih banyak lapangan kerja. Oleh karena itu, kredit perbankan juga diperkirakan akan meningkat pada semester I 2018 seiring dengan membaiknya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi. ​

Inflasi Provinsi Maluku untuk triwulan II 2018 diperkirakan sedikit meningkat, namun tetap berada pada sasaran inflasi Provinsi Maluku 2018. Inflasi Maluku pada triwulan II 2018 diperkirakan berada pada rentang 1,17% – 1,57% (yoy). Komponen volatile food (VF) diperkirakan masih masih akan mendominasi inflasi pada triwulan II 2018. Kelompok bahan makanan menjadi pendorong utama meningkatnya inflasi pada komponen VF. Selain itu, komponen administered prices juga diperkirakan mengalami peningkatan tekanan, terutama pada subkelompok angkutan udara dan subkelompok bahan bakar. Sedangkan dari komponen inti diperkirakan cukup stabil, namun potensi tekanan berasal dari kelompok sandang. Peningkatan konsumsi masyarakat saat bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 2018. Hal ini terlihat dari Survei Konsumen Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku yang menunjukan adanya peningkatan indeks ekspektasi harga 3 (tiga) bulan yang akan datang. ​

Inflasi Provinsi Maluku untuk triwulan III 2018 diperkirakan tetap berada pada sasaran inflasi Provinsi Maluku 2018 sebesar 4% ± 1% (yoy). Inflasi Maluku pada triwulan III 2018 diperkirakan berada pada rentang 1,48% (yoy) – 1,88% (yoy). Komponen volatile food diperkirakan masih akan mendominasi tekanan inflasi pada triwulan III 2018. Kelompok bahan makanan menjadi pendorong utama meningkatnya inflasi pada komponen volatile food. Lebih detil lagi, subkelompok ikan segar, sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan akan menjadi pendorong utama inflasi kelompok bahan makanan pada triwulan III 2018. ​

Dengan perkembangan tersebut, tingkat inflasi Maluku pada tahun 2018 diperkirakan tetap terkendali dalam sasaran target inflasi sebesar 4% ± 1% (yoy). Inflasi Maluku diperkirakan berada pada rentang 3,17% (yoy) – 3,57% (yoy). Sebagian besar inflasi Maluku diperkirakan berasal dari komponen VF, terutama kelompok bahan makanan. Beras dan ikan segar masih menjadi komoditas utama dalam menyumbang inflasi pada komponen tersebut. Di sisi lain, angkutan udara masih menjadi faktor dominan pada komponen AP. Tarif angkutan udara diperkirakan menurun pada akhir tahun 2018. Akan tetapi, kenaikan harga minyak dunia masih menjadi tantangan yang mendorong peningkatan harga BBM non-subsidi di Maluku. Dari komponen inti, sandang dan makanan jadi akan kembali meningkat, terutama menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2019.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel