​Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Maluku Agustus 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
31 Oktober 2020

Perekonomian Provinsi Maluku pada triwulan II-2017 mencatatkan perlambatan pertumbuhan. Ekonomi Provinsi Maluku mengalami pertumbuhan sebesar 5,68% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,28% (yoy). Di sisi lapangan usaha, perlambatan pada triwulan II-2017 dipengaruhi oleh melambatnya kinerja kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Pada triwulan laporan, kategori Pertanian dan Perikanan tumbuh cukup tinggi dengan angka pertumbuhan 6,15% (yoy), namun masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan lalu yang sebesar 9,20% (yoy). Perlambatan tersebut disebabkan oleh produktivitas subkategori perikanan yang menurun seiring cuaca yang belum kondusif. Di sisi lain, kategori Administrasi Pemerintahan, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Konstruksi mengalami penguatan pertumbuhan. Penguatan tersebut terjadi seiring dengan peningkatan realisasi belanja terhadap pagu anggaran baik APBN maupun APBD pada triwulan laporan. Selain itu, kategori konstruksi juga meningkat sejalan dengan peningkatan investasi pada triwulan laporan. Kemudian kategori perdagangan besar dan eceran meningkat didorong oleh peningkatan permintaan saat periode Ramadhan dan Idul Fitri yang bertepatan dengan libur sekolah. ​

Pencapaian inflasi tahunan Provinsi Maluku pada triwulan I-2017 terpantau meningkat pada level yang cukup tinggi dibandingkan triwulan sebeslumnya. Pada triwulan II-2017, inflasi tahunan Maluku tercatat 5,82% (yoy), mengalami peningkatan sebesar 1,85% dibandingkan triwulan I-2017 yang tercatat sebesar 3,97% (yoy). Cuaca ekstrem dan terbatasnya pasokan beberapa komoditas inti di Provinsi Maluku menjadi penyebab utama tingginya tekanan inflasi pada triwulan II-2017. ​

Meningkatnya laju inflasi tahunan Provinsi Maluku pada triwulan II-2017 didorong oleh Kelompok Bahan Makanan. Inflasi pada kelompok bahan makanan tercatat sebesar 16,65% (yoy), lebih tinggi bandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,61% (yoy). Kelompok bahan makanan menjadi penyumbang atau memberikan andil inflasi tertinggi pada tiwulan laporan sebesar 1,19% (yoy), lebih tinggi dibandingkan sumbangan pada triwulan sebelumnya yaitu 0,83% (yoy). Inflasi pada kelompok Bahan Makanan didorong oleh meningkatnya tekanan inflasi kelompok Ikan segar dan Sayur-sayuran dengan laju inflasi tertinggi, masing-masing sebesar 49,19% (yoy) dan 32,38% (yoy). Cuaca yang kurang kondusif, yaitu curah hujan yang tinggi mengakibatkan kontinuitas pasokan ikan segar dan sayur-sayuran terganggu. ​

Stabilitas keuangan daerah Provinsi Maluku pada triwulan I-2017 masih terjaga dengan baik, namun terdapat sumber kerentanan pada kondisi keuangan rumah tangga dan korporasi. Kemudian, pertumbuhan kredit pada sektor rumah tangga meningkat dengan kualitas membaik seiring turunnya rasio kredit bermasalah. Rasio simpanan rumah tangga terpantau mengalami peningkatan. Perkembangan tahunan korporasi di Maluku dalam level yang relatif terbatas. Produksi perikanan Maluku terpantau meningkat, namun tidak setinggi kenaikan pada triwulan sebelumnya. Dominasi kredit rumah tangga serta banyaknya usaha dengan skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pangsa kredit untuk usaha besar (korporasi) di Maluku masih relatif terbatas.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel