Laporan Perekonomian Provinsi Lampung Periode Mei 2019  - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
06 Juni 2020

Pertumbuhan Ekonomi

Sejalan dengan kuatnya permintaan domestik, ekonomi Lampung pada triwulan I 2019 masih dapat tumbuh solid yakni sebesar 5,18% (yoy), melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi di periode yang sama selama 3 (tiga) tahun terakhir, maupun pertumbuhan ekonomi Sumatera dan Nasional masing – masing sebesar 5,00% (yoy), 4,55% (yoy) dan 5,07% (yoy). Meski demikian, sesuai dengan pola seasonalnya, pertumbuhan ekonomi di periode laporan tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2018 sebesar 5,38% (yoy).

Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan I 2019 ditopang oleh konsumsi rumah tangga serta perlambatan impor. Meski demikian, kontraksi ekspor tercatat menahan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di periode laporan. Di sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Lampung ditopang oleh peningkatan kinerja pada industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran dan reparasi mobil dan sepeda motor serta konstruksi.

Memasuki triwulan II 2019 ekonomi Lampung diperkirakan mampu tumbuh lebih tinggi ditopang oleh meningkatnya kinerja konsumsi swasta seiring dengan masuknya bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, serta berlangsungnya Pilpres dan Pileg serentak. Di samping itu, laju investasi diperkirakan dapat tumbuh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya seiring dengan mulai efektifnya proyek pasca lelang dan terus berlangsungnya penyelesaian pembangunan infrastruktur strategis. Di sisi eksternal, net ekspor diperkirakan dapat membaik seiring dengan pola seasonal beberapa komoditas ekspor yang mulai memasuki masa panen. Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan II 2019 diperkirakan didorong oleh kinerja pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan, perdagangan (besar, eceran, reparasi mobil dan sepeda motor), transportasi dan pergudangan serta konstruksi.

Keuangan Pemerintah

Anggaran belanja fiskal pemerintah di provinsi Lampung untuk tahun 2019 mencapai Rp31,88 triliun yang meliputi belanja APBD provinsi Lampung sebesar Rp7,82 triliun, APBD kabupaten/kota sebesar Rp24,03 triliun, dan APBN sebesar Rp0,04 triliun. Komposisi belanja pegawai masih mendominasi pada tahun 2019, khususnya pada anggaran belanja kab/kota. Meskipun demikian, komitmen pemerintah daerah terhadap pengeluaran yang bersifat produktif semakin tinggi yang ditunjukkan dengan meningkatnya pangsa anggaran belanja modal.

Sampai dengan triwulan I 2019, secara nominal, pencapaian pendapatan daerah Provinsi Lampung terealisasi sebesar Rp1,11 triliun, atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara persentase, realisasi pendapatan sebesar 14,27% juga tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2018 sebesar 10,97% terutama ditunjang realisasi belanja pos Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak dan pos dana perimbangan.

Sejalan dengan hal tersebut, realisasi belanja daerah Provinsi Lampung sampai dengan triwulan I 2019 menunjukkan pencapaian sebesar Rp0,93 triliun (11,93%) atau melebihi pencapaian baik nominal maupun persentase realisasi di periode yang sama tahun 2018. Sementara ketergantungan fiskal Provinsi Lampung terhadap Pemerintah Pusat di tahun 2019 tercatat masih tinggi.

Inflasi

Secara tahunan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada triwulan I 2019 tercatat relatif terkendali sebesar 1,49% (yoy), lebih rendah jika dibandingkan triwulan sebelumnya (Desember 2018) yang sebesar 2,73% (yoy). Lebih rendahnya tekanan inflasi pada periode laporan terutama didorong oleh deflasi yang terjadi pada kelompok bahan makanan, jauh lebih rendah (-2,09% yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (1,05% yoy) yang didorong oleh melimpahnya pasokan serta upaya BULOG dalam melakukan langkah KPSH (Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga).

Adapun pencapaian tersebut juga terpantau lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi tahunan Nasional (2,48% yoy) dan Sumatera sebesar 1,68% (yoy). Berdasarkan kota perhitungan IHK, pencapaian inflasi tahunan pada triwulan I 2019 di Kota Bandar Lampung dan Metro tercatat sebesar masing-masing 1,57% (yoy) dan 1,06% (yoy). Dengan pencapaian inflasi tahunan tersebut, Kota Bandar Lampung dan Metro masing-masing menempati peringkat pencapaian inflasi yang cukup baik yakni ke-14 dan 21 di 23 kota perhitungan inflasi tertinggi di Sumatera.

Memasuki triwulan II 2019, risiko tekanan inflasi khususnya dari kelompok bahan makanan cenderung akan lebih tinggi seiring dengan berlangsungnya periode seasonal Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri yang meningkatkan permintaan. Di samping itu, kelompok transportasi dan komunikasi diperkirakan akan mengalami tekanan inflasi sejalan dengan kenaikan tarif angkutan antar kota maupun transportasi pendukung mudik lainnya saat periode lebaran. Meski demikian, keputusan pemerintah pusat dalam menurunkan tarif batas atas (TBA) angkutan udara di periode lebaran di tengah kenaikan harga yang telah terjadi sejak semester II 2018 telah tertransmisi pada penurunan tarif angkutan udara yang lebih rendah. Berkaca pada hal tersebut, ke depan, koordinasi melalui TPID dan langkah pengendalian oleh Pemerintah Daerah dan instansi terkait perlu terus difokuskan pada aspek ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, termasuk mencegah penimbunan barang yang berlebihan dan mitigasi kenaikan tarif administered prices khususnya pada periode seasonal yang memiliki historis kenaikan tinggi.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran & Pengelolaan Uang Rupiah

Sesuai dengan pola historisnya pasca libur Natal dan Tahun Baru 2018, kondisi net inflow terjadi di wilayah Provinsi Lampung pada triwulan I 2019. Sejalan dengan hal tersebut, transaksi pembayaran non tunai baik melalui SKNBI maupun RTGS di Provinsi Lampung juga cenderung mengalami penurunan seiring dengan aktivitas perekonomian yang tidak setinggi triwulan sebelumnya.

Ditengah penurunan transaksi pembayaran tunai dan non tunai tersebut, penggunaan uang elektronik terus mengalami peningkatan. Sampai dengan triwulan I 2019, jumlah uang elektronik terus berkembang dan tumbuh sejalan dengan meningkatnya pengetahuan dan keyakinan masyarakat terhadap penggunaan uang elektronik, ditopang oleh semakin baiknya infrastruktur pendukung. Menyikapi perkembangan tersebut KPw Bank Indonesia Provinsi Lampung terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan melakukan edukasi dan kampanye kepada masyarakat untuk mendukung GNNT dan memperluas penerapan sistem pembayaran elektronik.

Di sisi lain, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung juga senantiasa terus mendorong clean money policy melalui penyediaan uang layak edar dengan meningkatkan intensitas kegiatan kas keliling, perluasan kerjasama penukaran uang dengan pihak Perbankan, serta edukasi ciri-ciri keaslian uang Rupiah guna meningkatkan soil level yang lebih baik untuk Uang Pecahan Kecil (UPK) dan Uang Pecahan Besar (UPB).

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Lampung pada periode Februari 2019 menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Perkembangan tersebut tercermin dari meningkatnya penyerapan tenaga kerja Lampung ditengah penambahan angkatan kerja yang mencapai 176 ribu orang. Sejalan dengan hal tersebut, peningkatan Angkatan Kerja hampir seluruhnya terserap pasar sehingga tingkat Pengangguran Terbuka mengalami penurunan sebesar -8,55% (yoy).

Sementara itu, kesejahteraan pekerja yang mayoritas bekerja pada sektor pertanian tercatat mengalami penurunan. Kondisi ini tercemin dari Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan I 2019 yang tercatat lebih rendah sebesar 104,69 dibandingkan triwulan IV 2018 (105,81) seiring dengan lebih tingginya pertumbuhan indeks yang dibayar petani (It) dibandingkan dengan indeks yang diterima petani (Ib). Secara sektoral, penurunan NTP terutama terjadi pada sektor Hortikultura dan Perkebunan seiring dengan belum masuknya musim panen. Sementara itu, penurunan NTP yang lebih dalam tertahan oleh adanya peningkatan NTP yang terjadi pada sektor Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya. Ke depan, masih tingginya ketergantungan Provinsi Lampung terhadap ekonomi yang berbasis komoditas, patut untuk diwaspadai. Hal ini mengingat dampaknya yang cukup signifikan terhadap kerentanan kesejahteraan masyarakat seiring dengan harga komoditas yang cenderung berfluktuasi.

Ditengah kondisi tersebut, jumlah penduduk miskin di Provinsi Lampung menunjukkan kecenderungan naik, dengan rata-rata presentase penduduk miskin Lampung selama 3 tahun terakhir masih tergolong tinggi dan berada di atas rata-rata presentase Nasional. Oleh karena itu, ke depan program pengentasan kemiskinan yang telah dijalankan perlu diperkuat dengan upaya mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga komoditas yang diproduksi.

Prospek Perekonomian

Pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan III 2019 diperkirakan berada pada kisaran 5,1%-5,5% (yoy) dengan potensi bias kebawah hingga beberapa basis poin dari capaian triwulan sebelumnya. Konsumsi swasta diperkirakan masih menjadi pendorong utama pertumbuhan, meskipun tidak sekuat periode sebelumnya yang ditopang faktor musiman perayaan hari besar keagamaan. Pendorong pertumbuhan lainnya diperkirakan bersumber dari meningkatnya realisasi investasi dan perbaikan net ekspor yang didukung kenaikan produksi pertanian meskipun harga komoditas utama ekspor seperti CPO dan batubara diprakirakan cenderung stagnan atau bahkan turun. Secara sektoral, siklus produksi optimal komoditas perkebunan seperti kopi, tebu dan nanas memasuki musim kemarau diperkirakan menjadi penopang kinerja sektor pertanian, juga sektor perdagangan besar-eceran dan sektor transportasi dan pergudangan.

Prospek inflasi triwulan III 2019 diperkirakan akan terkendali pada kisaran 3,5%±1% (yoy), didukung produksi pangan yang masih terjaga dan kuatnya dukungan kebijakan pengendalian harga beberapa komoditas volatile oleh pemerintah. Selain itu tekanan permintaan domestik terhadap inflasi diperkirakan cenderung menurun sejalan dengan arah pertumbuhan ekonomi, meski beberapa risiko inflasi diantaranya terkait pasokan beras dan penyesuaian tarif pendidikan tetap perlu dimitigasi.

Secara keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Lampung diperkirakan akan tumbuh lebih baik dibanding tahun 2018 dengan dukungan yang cukup solid dari konsumsi swasta dan investasi. Dari sisi sektoral, peningkatan aktivitas industri pengolahan, perdagangan dan pertanian juga diperkirakan dapat menopang perekonomian Lampung tahun 2019. Sementara inflasi, kendati diproyeksikan akan lebih tinggi dari capaian 2018, namun level tersebut masih sejalan dengan target inflasi nasional 3,5±1%.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel