Laporan Perekonomian Provinsi Lampung Periode November 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
18 Februari 2020
 
Pertumbuhan Ekonomi
 
Sejalan dengan kuatnya permintaan domestik, ekonomi Lampung pada triwulan III 2019 tercatat tumbuh sebesar 5,16% (yoy), lebih lambat dibandingkan dengan pencapaian periode sebelumnya sebesar 5,61% (yoy). Pencapaian ini berada di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi di periode yang sama selama 3 (tiga) tahun terakhir yakni sebesar 5,22%. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Lampung di triwulan III 2019 masih berada di atas pertumbuhan ekonomi Sumatera dan Nasional yang masing – masing sebesar 4,49% (yoy) dan 5,02% (yoy).
 
Di sisi permintaan, lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan III 2019 ini didorong oleh perlambatan konsumsi swasta dan investasi. Meski demikian, net ekspor pada triwulan III 2019 tercatat membaik sehingga dapat menopang perekonomian Lampung. Di sisi penawaran, motor penggerak perekonomian Lampung bersumber dari sektor industri pengolahan, sektor perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor, serta sektor konstruksi.
 
Memasuki triwulan IV 2019 ekonomi Lampung diperkirakan dapat tumbuh lebih kuat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan III 2019. Di sisi permintaan, konsumsi swasta diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan, ditopang faktor musiman perayaan Natal dan libur sekolah serta realisasi anggaran pemerintah yang lebih tinggi di akhir tahun. Di sisi penawaran, sektor perdagangan besar eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, serta sektor penyedia akomodasi dan makan minum diperkirakan akan dapat menopang pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung sejalan dengan perkiraan perbaikan konsumsi rumah tangga pada Hari Natal dan Tahun baru serta libur sekolah. Di samping itu, kinerja lapangan usaha transportasi dan pergudangan, diperkirakan dapat tumbuh lebih baik didorong oleh telah diresmikannya Jalan Tol Trans Sumatera yang menghubungkan Lampung dengan Sumatera Selatan.
 
Sepanjang tahun 2019, ekonomi Lampung diperkirakan masih dapat tumbuh lebih baik dibanding tahun 2018 didukung oleh kuatnya konsumsi domestik yang didukung dengan stabilitas harga yang terjaga. Di samping itu, kinerja investasi diperkirakan masih dapat tumbuh moderat, meskipun tidak setinggi tahun lalu seiring dengan telah selesainya beberapa proyek pembangunan infrastruktur Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di Lampung.
 

 
 
Keuangan Pemerintah
 
Anggaran belanja fiskal pemerintah di provinsi Lampung untuk tahun 2019 mencapai Rp32,42 triliun yang meliputi belanja APBD Provinsi Lampung sebesar Rp7,59 triliun (pangsa 23,41%), APBD kabupaten/kota di Provinsi Lampung  sebesar Rp24,24 triliun (pangsa 74,77%), dan APBN sebesar Rp0,59 triliun (pangsa 1,82%). Komposisi belanja pegawai masih mendominasi pada tahun 2019, khususnya pada anggaran belanja Kab/Kota. Di sisi lain, alokasi untuk pengeluaran produktif tercatat menurun, yang ditunjukan oleh turunnya pangsa anggaran belanja modal.
 
Sampai dengan triwulan III 2019, secara nominal, pencapaian pendapatan daerah Provinsi Lampung terealisasi sebesar Rp5,38 triliun, tercatat mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Rp4,91 triliun). Secara persentase, realisasi pendapatan sebesar 69,21% juga tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2018 sebesar 61,87% seiring dengan terealisasinya pos Pendapatan Asli Daerah dan Pos Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah.
 
Namun demikian, penurunan pagu Belanja Daerah sebesar -11,42% pada APBD 2019 mempengaruhi nominal realisasi belanja daerah Provinsi Lampung yang sampai dengan triwulan III 2019 menunjukkan pencapaian sebesar Rp4,39 triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yaitu sebesar Rp4,68 triliun, namun demikian, secara persentase masih tercatat lebih tinggi yaitu sebesar 57,86% dari 54,64% pada tahun 2018. Sementara ketergantungan fiskal Provinsi Lampung terhadap Pemerintah Pusat di tahun 2019 tercatat masih tinggi.
 

 
 
Inflasi
 
Secara  tahunan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada triwulan III-2019 relatif tinggi sebesar 3,59% (yoy), lebih tinggi jika dibandingkan triwulan sebelumnya (Juni 2019) sebesar 2,76% (yoy). Tingginya tekanan inflasi pada periode laporan terutama didorong oleh inflasi pada kelompok bahan makanan (6,34%;yoy) yang terpantau jauh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (3,96% yoy). Hal tersebut didorong oleh keterbatasan pasokan akibat kemarau berkepanjangan sebagai dampak el nino khususnya pada komoditas kelompok bumbu-bumbuan yang mengalami inflasi sebesar 47,90% (yoy) jauh lebih tinggi dibandingkan periode triwulan II-2019 (15,83%; yoy).
 
Tingkat inflasi tersebut terpantau berada di atas inflasi nasional (3,39%;yoy) dan Sumatera (3,55%;yoy). Berdasarkan kota perhitungan IHK, pencapaian inflasi tahunan triwulan III 2019 di Kota Bandar Lampung dan Metro tercatat masing-masing sebesar 3,68%(yoy) dan 3,07%(yoy). Dengan pencapaian tersebut, Kota Bandar Lampung dan Metro masing-masing menempati peringkat ke-7 dan 11 dari 23 kota perhitungan inflasi di Sumatera.
 
Meski demikian, memasuki triwulan IV 2019, risiko tekanan inflasi khususnya dari kelompok bahan makanan cenderung akan menurun seiring dengan telah lewatnya puncak musim kemarau dan mulai memasuki musim penghujan sehingga pasokan kelompok bumbu-bumbuan berangsur normal. Sementara itu, penurunan inflasi yang lebih dalam tertahan akibat kenaikan harga komoditas beras mengingat siklus produksi komoditas beras yang mengalami pergeseran. Selain itu, kelompok transportasi dan komunikasi diperkirakan akan mengalami inflasi dibandingkan periode sebelumnya sejalan dengan masa seasonal liburan sekolah Natal dan Tahun Baru 2020. Koordinasi melalui TPID dan langkah pengendalian oleh Pemerintah Daerah dan instansi terkait perlu terus difokuskan pada aspek ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, khususnya hortikultura yang harganya rentan bergejolak. Kemudian, TPID di masing-masing Kabupaten/Kota perlu mengkomunikasikan anjuran tidak berliburan jarak  jauh pada masa peak season.
 

 
 
Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan UMKM
 
Ditengah kondisi perekonomian global yang tidak menentu, ketahanan sektor rumah tangga sebagai penopang perekonomian Lampung relatif terjaga seiring pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap tinggi didukung oleh keyakinan konsumen serta pemanfaatan fasilitas kredit perbankan. Namun demikian, kinerja korporasi di Provinsi Lampung relatif tertahan akibat ketidakpastian global, tercermin dari pertumbuhan kredit korporasi yang terkontraksi meski ketahanan korporasi sedikit membaik seiring dengan penurunan rasio kredit bermasalah, meski dengan profitabilitas yang relatif terjaga. Ke depan, optimisme masyarakat terhadap prospek ekonomi enam bulan mendatang diperkirakan masih tetap tinggi didukung keyakinan masyarakat akan peningkatan lapangan usaha.
 
Sementara itu kinerja sektor perbankan Lampung pada triwulan III 2019 secara umum menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya, yang diindikasikan meningkatnya pertumbuhan kredit sementara itu pendanaan sedikit tertahan yang diikuti dengan relatif solidnya likuiditas baik pada Bank Umum, BPR, maupun Bank Syariah. Meski demikian, risiko kredit perbankan terindikasi belum menunjukkan penurunan meskipun tetap dalam batas terkendali. Pelaksanaan fungsi intermediasi yang tercermin pada perkembangan Loan to Deposit ratio juga terpantau masih berjalan optimal dengan sedikit penurunan. Dukungan pembiayaan kepada UMKM juga terpantau melambat sejalan dengan upaya mengurangi kerentanan likuiditas akibat ketidakpastian global.
 

 
 
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran & Pengelolaan Uang Rupiah
 
Sesuai dengan pola historisnya pasca periode permintaan tinggi di triwulan II 2019 (Hari Raya Idul Fitri dan libur pertengahan tahun), kondisi net inflow terjadi di Provinsi Lampung pada triwulan III 2019. Kondisi ini tercermin dari rata-rata posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) di Bank Umum selama triwulan III 2019 yang lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sejalan dengan itu, transaksi pembayaran tunai terpantau melambat dan mendorong penurunan aktivitas penukaran uang. Sementara itu transaksi non tunai melalui SKNBI dan RTGS yang cenderung stabil meski terdapat sedikit peningkatan khususnya pada transaksi kliring seiring dengan adanya kebijakan penurunan biaya transaksi dan penambahan periode setelmen per harinya.
 
Berbeda dengan transaksi pembayaran tunai, sampai dengan triwulan III 2019 penggunaan uang elektronik terus mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang cukup signifikan sejalan dengan masyarakat yang semakin terbuka untuk beralih menggunakan uang elektronik dan semakin luasnya penerapan elektronifikasi di berbagai transaksi pembayaran (Tol, Pelabuhan, UMKM, dll.) Adapun kondisi ini tidak terlepas dari upaya Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung dalam bekerjasama dengan instansi terkait, untuk melakukan kampanye serta sosialisasi kepada masyarakat guna mendukung elektronifikasi dan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).
 
Di sisi lain, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung juga senantiasa terus mendorong clean money policy melalui penyediaan uang layak edar dengan meningkatkan intensitas kegiatan kas keliling, perluasan kerjasama penukaran uang dengan pihak Perbankan, serta edukasi ciri-ciri keaslian uang Rupiah guna meningkatkan soil level yang lebih baik untuk Uang Pecahan Kecil (UPK) dan Uang Pecahan Besar (UPB).
 

 
 
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
 
Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Lampung pada Agustus 2019 secara umum cenderung meurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini tercermin dari penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) dari 69,67% pada Agustus 2018 menjadi 69,09% per Agustus 2019. Namun demikian, serapan penduduk bekerja secara absolut mengalami peningkatan walau tidak signifikan, yaitu mencapai 17,5 ribu pekerja (0,43%). Sejalan dengan perbaikan pasar tenaga kerja, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Lampung pada Agustus 2019 tercatat sedikit menurun dibanding tahun lalu, yaitu sebesar 4,03% dari 4,06% pada tahun 2018. Namun demikian, per periode laporan, produktivitas pekerja tercatat mengalami penurunan, diindikasikan oleh turunnya jumlah full time worker. Namun di sisi lain, dominasi pekerjaan sektor informal tercatat mengalami penurunan, meskipun untuk kualitas tenaga kerja Lampung yang mayoritas berpendidikan rendah (64,68%).
 
Sementara itu, kesejahteraan pekerja yang mayoritas bekerja di kawasan pedesaan khususnya pada sektor pertanian diperkirakan sedikit mengalami penurunan. Kondisi ini ditandai oleh perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) triwulan III 2019 yang tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan III 2018, terutama disebabkan oleh penurunan NTP pada petani perkebunan rakyat seiring dengan harga komoditas perkebunan yang cenderung menurun.
 
Meski demikian, jumlah penduduk miskin Provinsi Lampung khususnya di kawasan pedesaan tercatat mengalami penurunan. Walaupun terus menurun, persentase penduduk miskin Lampung yang mencapai 13,14% berada jauh diatas tingkat kemiskinan nasional sebesar 9,82%, efektivitas program pengentasan kemiskinan perlu terus diperkuat, termasuk dengan upaya mengurangi kerentanan penduduk miskin terhadap fluktuasi harga komoditas utama yang dikonsumsi.
 

 
 
Prospek
 
Pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan I 2020 diperkirakan berada pada kisaran 5,2%-5,6% (yoy) namun dengan potensi bias kebawah (downward risk) yang lebih tinggi sehingga dapat turun beberapa basis poin dari capaian pertumbuhan pada triwulan IV 2019. Konsumsi swasta, meski secara seasonal mengalami perlambatan seiring dengan berakhirnya perayaan Natal, libur sekolah dan tahun baru diperkirakan masih dapat tumbuh cukup solid didukung oleh peningkatan disposable income dari kenaikan pendapatan karena ditetapkannya kebijakan peningkatan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar 8,51%. Di samping pendapatan, penyelenggaraan Pilkada di sejumlah Kota/Kabupaten di Lampung tahun 2020 diprediksikan dapat menopang kuatnya konsumsi swasta di sepanjang tahun 2020. Adapun investasi diperkirakan masih relatif kuat didukung oleh telah ditetapkannya Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Lampung di akhir tahun 2019, penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia yang tertrasmisi kepada penurunan suku bunga investasi dan juga beberapa proyek yang dicanangkan oleh pemerintah melalui skema investasi swasta diprediksi dapat meningkatkan investasi di tahun 2020. Meski demikian, terdapat beberapa proyek strategis yang telah usai, dan wait and see terkait situasi politik seiring adanya pilkada dapat menjadi faktor penahan investasi. Sedangkan net ekspor berpotensi mengalami perbaikan baik di triwulan I maupun sepanjang tahun 2020 seiring kemungkinan perbaikan kondisi ekonomi global sehingga dapat meningkatkan volume perdagangan dunia. Meski demikian, tren menurunnya harga beberapa komoditas ekspor Lampung seperti kopi dan lada dapat menahan kinerja ekspor di Provinsi Lampung.
 
Secara sektoral, peningkatan kinerja sektor pertanian dan industri pengolahan diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan triwulan I 2020 sejalan dengan pola musiman berlangsungnya musim panen raya padi. Di samping itu, peningkatan aktivitas industri pengolahan di periode sebelum puasa dan lebaran diprediksikan dapat menopang ekonomi Lampung di awal tahun 2020. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Lampung pada tahun 2020 diperkirakan akan sedikit meningkat dari tahun sebelumnya. Berbagai indikator tersebut menjadikan pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2020 diperkirakan dapat tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya pada kisaran 5,2%-5,6% (yoy).
 
Prospek inflasi pada triwulan I 2020 dan keseluruhan tahun 2020 diperkirakan masih tetap terjaga pada kisaran 3,0%±1% (yoy), dengan probabilitas di akhir tahun 2020 dapat mencapai nilai tengah 3,0% mengingat terdapat beberapa hal yang menjadi risiko peningkatan tekanan inflasi khususnya yang berasal dari kelompok bahan makanan serta kelompok transportasi dan komunikasi.
 
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel