KEKR Provinsi Lampung Periode Februari 2019​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Juli 2020

Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi Lampung pada triwulan IV 2018 mampu tumbuh tinggi sebesar 5,38% (yoy) melebihi pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,19% (yoy). Akselerasi pertumbuhan tersebut konsisten dengan pola seasonalnya dan tercatat sebagai yang tertinggi sejak 2014 dengan rata-rata historis pertumbuhan triwulan IV sebesar 5,08% (yoy). Di sisi permintaan, menguatnya pertumbuhan ekonomi triwulan laporan didorong oleh solidnya konsumsi rumah tangga bersamaan dengan periode perayaan hari besar keagamaan dan libur akhir tahun, di samping masih cukup kuatnya kinerja investasi. Di sisi penawaran, motor pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2018 bersumber dari lapangan usaha industri pengolahan dan pertanian. Meski tidak setinggi triwulan sebelumnya, masih solidnya kinerja lapangan usaha industri pengolahan dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas produksi pada lapangan usaha pertanian, khususnya tanaman pangan di samping kenaikan permintaan akhir tahun.

Di sepanjang tahun 2018, ekonomi Lampung dapat tumbuh sebesar 5,25% (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5,16% (yoy). Hal ini terutama dipengaruhi oleh kinerja investasi yang membaik serta konsumsi rumah tangga yang tumbuh cukup kuat ditopang daya beli dan inflasi yang terjaga. Meski demikian, melemahnya net ekspor seiring dengan tingginya pertumbuhan impor menahan pertumbuhan ekonomi Lampung yang lebih tinggi di tahun 2018. Di sisi penawaran, pertumbuhan lapangan usaha pertanian khususnya di akhir tahun dan industri pengolahan seiring dengan peningkatan aktivitas industri makanan dan minuman menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Lampung tahun 2018. Sejalan dengan kuatnya konsumsi domestik, sektor perdagangan di tahun 2018 mampu tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Memasuki triwulan I 2019 ekonomi Lampung diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi didorong oleh kinerja konsumsi swasta yang kuat termasuk konsumsi LNPRT dalam rangka persiapan Pemilihan presiden dan legislatif serentak pada bulan April. Meski demikian, berlalunya faktor musiman perayaan Natal dan libur akhir tahun berpotensi menjadi faktor penahan pertumbuhan yang lebih akseleratif dari triwulan IV 2018. Downside risk pertumbuhan triwulan mendatang juga bersumber dari sisi eksternal yaitu pelemahan lebih lanjut harga komoditas ekspor seperti kopi dan batubara, serta potensi kenaikan impor seiring tingginya permintaan domestik dan meningkatnya aktivitas industri pengolahan menjelang bulan puasa dan lebaran.

 

Keuangan Pemerintah

Hingga triwulan IV 2018, realisasi pendapatan daerah pemerintah Provinsi Lampung tercatat sebesar Rp7,13 triliun atau 89,85% dari target, lebih tinggi dibandingkan pencapaian periode yang sama tahun 2017 sebesar RP6,82 triliun atau 88,32%. Sejalan dengan realisasi pendapatan, realisasi belanja Provinsi Lampung per triwulan IV 2018 tercatat sebesar Rp7,57 triliun atau 88,24% dari target, juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,95 triliun atau 87,83%. Adapun tingkat realisasi belanja pemerintah kabupaten/kota mencapai 78,09%, sehingga tingkat realisasi belanja pemerintah di Lampung tahun 2018 diperkirakan mencapai 86,38% dari anggaran.

Peningkatan komponen pendapatan sampai akhir tahun terutama didukung oleh lebih tingginya realisasi bagi hasil pajak/bukan pajak dan dana alokasi khusus seiring dengan peningkatan target pajak dan alokasi dari Pemerintah Pusat. Pada komponen belanja, upaya optimalisasi penyerapan anggaran termasuk untuk belanja barang-jasa dan belanja modal, paska pelaksanaan Pilkada di pertengahan tahun menjadikan realisasi belanja di sepanjang tahun 2018 lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Inflasi

Secara tahunan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada triwulan IV-2018 tercatat stabil dan lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yakni dari 2,87% (yoy) pada triwulan III 2018 menjadi sebesar 2,73% (yoy) pada periode laporan. Terkendalinya tekanan inflasi pada triwulan IV 2018 terutama didorong oleh lebih terjangkarnya inflasi yang terjadi pada kelompok bahan makanan didorong oleh manajemen stok yang baik termasuk upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama dengan Satgas Pangan, BULOG dan pihak terkait dalam menjaga ketersediaan pasokan serta keterjangkauan harga.

Dibandingkan dengan Nasional, inflasi IHK tahunan Provinsi Lampung tercatat masih lebih rendah meski sedikit berada di atas level inflasi Sumatera yang sebesar 2,41% (yoy). Berdasarkan kota perhitungan IHK, pencapaian inflasi tahunan pada triwulan IV 2018 kota Metro terpantau lebih rendah dibandingkan dengan Bandar Lampung, dan menempati urutan ketiga terendah dari dari 23 kota perhitungan inflasi Sumatera. Di sisi lain, Bandar Lampung masih menempati urutan kelima kota dengan inflasi tertinggi setelah Batam, Pangkal Pinang, Jambi, dan Bukit tinggi.

Memasuki triwulan I 2019, risiko tekanan inflasi diperkirakan akan cenderung moderat bersumber dari dari terpengaruhnya pasokan kelompok bahan makanan seiring dengan puncak musim penghujan. Meski demikian, panen yang akan berlangsung pada beberapa komoditas hortikultura seperti cabai dan beras di akhir triwulan diperkirakan dapat menahan tekanan inflasi yang lebih tinggi lagi di akhir triwulan I 2019. Di samping itu, koordinasi melalui TPID dan langkah pengendalian oleh Pemerintah Daerah dan instansi terkait terus akan dilakukan dalam rangka menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, termasuk mencegah penimbunan barang yang berlebihan dan mitigasi gangguan produksi dan distribusi akibat bencana alam.

 

Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan UMKM

Stabilitas sistem keuangan Provinsi Lampung di sepanjang triwulan IV 2018 terpantau relatif terkendali. Hal ini salah satunya tercermin dari pertumbuhan konsumsi sektor rumah tangga Lampung yang mengalami peningkatan dengan tetap diimbangi ketahanan risiko yang cukup terjaga. Terjaganya ketahanan sektor rumah tangga didukung keyakinan atas penghasilan yang tetap tinggi yang mendukung peningkatan saving, konsumsi durable goods yang relatif stabil serta tersedianya akses pembiayaan yang pertumbuhannya didukung profil risiko yang dapat diterima. Sementara itu ketahanan sektor korporasi non keuangan diperkirakan menunjukkan sedikit peningkatan, didukung penjualan dan profitabilitas yang membaik, serta risiko kredit yang tetap dalam taraf risiko terkendali. Namun menjadi perhatian kedepan, peningkatan kinerja korporasi pada triwulan laporan belum mendorong pertumbuhan kredit perbankan Lampung yang lebih akseleratif.

Sementara itu kinerja sektor perbankan Lampung pada triwulan IV 2018 menunjukkan gejala penurunan, namun dari sisi pengelolaan risiko cenderung lebih stabil dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan kredit secara umum mengalami perlambatan, meski pada BPR dan Bank Syariah masih tumbuh cukup tinggi. Kinerja pendanaan juga sedikit mengalami penurunan, meski relatif terbatas dibandingkan penyaluran dana, sehingga secara umum kerentanan likuiditas bank cukup terjaga. Bersamaan dengan perlambatan kredit dan didukung upaya pengendalian risiko yang lebih intens, risiko kredit baik pada Bank Umum, BPR dan Bank Syariah relatif lebih terkendali. Sementara itu dukungan pembiayaan kepada UMKM terpantau stabil, meskipun ruang ekspansi khususnya pada segmen kredit usaha sebagian bank, antara lain BPR dan Bank Syariah, makin terbatas.

 

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran & Pengelolaan Uang Rupiah

Sesuai dengan pola historisnya di akhir tahun, kondisi net outflow terjadi di wilayah provinsi Lampung pada triwulan IV 2018. Aktivitas transaksi pembayaran tunai terpantau meningkat, salah satunya tercermin dari meningkatnya nominal dropping kas titipan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Meski demikian, nominal dan volume transaksi pembayaran non tunai melalui RTGS dan SKNBI tercatat menurun dibandingkan triwulan III 2018, maupun triwulan yang sama tahun 2017, yang diperkirakan merupakan dampak dari makin diterimanya sistem pembayaran elektronik oleh masyarakat.

Sebagai salah satu pilar penopang stabilitas sistem keuangan, perkembangan sistem pembayaran tergolong dinamis mengikuti perubahan teknologi. Selama tahun 2018, salah satu instrumen pembayaran yaitu uang elektronik menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat menggunakan alat pembayaran tersebut. Kedepan, tren penggunaan uang elektronik akan semakin meningkat yang ditandai oleh berkembangnya inovasi fitur pembayaran retail dengan didukung perbaikan infrastruktur. Menyikapi tren tersebut KPw Bank Indonesia Provinsi Lampung terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan melakukan edukasi dan kampanye kepada masyarakat untuk mendukung GNNT dan memperluas penerapan sistem pembayaran elektronik.

Di sisi lain, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung juga senantiasa mendorong clean money policy melalui pelaksanaan kegiatan kas keliling, perluasan kerjasama penukaran uang dengan Perbankan, serta edukasi ciri-ciri keaslian uang Rupiah guna meningkatkan soil level untuk pecahan besar (UPB maupun pecahan kecil (UPK).

 

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Lampung pada periode Agustus 2018 menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan periode sebelumnya, ditandai dengan bertambahnya jumlah penduduk yang siap bekerja dan berusia kerja (angkatan kerja) serta terjadi peningkatan pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Sejalan dengan hal tersebut, tingkat pengangguran di periode ini tercatat mengalami penurunan sejalan dengan peningkatan laju pertumbuhan ekonomi di tahun 2018.

Sementara itu, kesejahteraan petani yang tercemin dari Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mengalami sedikit peningkatan di triwulan IV 2018 menjadi sebesar 105,81 dibandingkan triwulan sebelumnya (105,60). Hal ini didorong oleh indeks yang diterima petani (It) tercatat tumbuh sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan indeks yang dibayar petani (Ib). Secara sektoral, terdapat 3 sektor yang mengalami peningkatan NTP, yaitu sektor Padi & Palawija, Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya. Sedangkan sektor Hortikultura, Perkebunan dan Peternakan mengalami penurunan NTP. Kedepan, kesejahteraan petani masih rentan apabila ketergantungan pada perdagangan komoditas masih tinggi mengingat harga komoditas yang cenderung berfluktuasi.

Ditengah kondisi tersebut, jumlah penduduk miskin di Provinsi Lampung menunjukkan kecenderungan naik, dengan rata-rata persentase penduduk miskin Lampung selama 3 tahun terakhir masih tergolong tinggi dan berada diatas rata-rata persentase penduduk miskin nasional. Oleh karena itu program pengentasan kemiskinan yang telah dijalankan terutama di wilayah pedesaan perlu diperkuat dengan upaya mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga komoditas yang diproduksi.

 

Prospek Perekonomian Daerah

Ditengah pertumbuhan ekonomi dunia dan volume perdagangan dunia yang tumbuh terbatas, akselerasi ekonomi provinsi Lampung pada triwulan II 2019 diperkirakan tetap tumbuh tinggi dengan kisaran 5,1%-5,5% (yoy) dan potensi bias keatas. Pertumbuhan yang melebihi capaian triwulan sebelumnya akan dimotori oleh konsumsi swasta seiring dengan pola musiman hari besar keagamaan dan libur sekolah serta berlangsungnya Pilpres dan Pileg serentak. Selain itu, laju investasi khususnya investasi bangunan juga ikut menopang seiring berlangsungnya penyelesaian pembangunan infrastruktur strategis. Secara sektoral, siklus peningkatan permintaan di bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri diperkirakan dapat mendorong kinerja sektor perdagangan, industri pengolahan serta transportasi dan pergudanan. Adapun masih berlanjutnya produksi sektor pertanian khususnya tanaman pangan dan membaiknya produksi sektor perkebunan juga diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung.

Prospek inflasi triwulan II 2019 diperkirakan akan tetap terkendali pada kisaran 3,5%±1% (yoy) dengan probabilitas mendekati pertumbuhan 3,0% (yoy). Hal ini sejalan dengan siklus peningkatan produksi pangan dan kuatnya dukungan kebijakan pengendalian harga beberapa komoditas volatile food oleh pemerintah. Faktor musiman meningkatnya permintaan bersamaan dengan perayaan hari besar keagamaan dan libur sekolah berpotensi meningkatkan tekanan inflasi meskipun masih dalam taraf yang terkendali.

Secara keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Lampung diperkirakan akan tumbuh lebih baik dibanding tahun 2018 dengan dukungan yang cukup solid dari konsumsi swasta dan investasi. Dari sisi sektoral, peningkatan aktivitas industri pengolahan, perdagangan dan pertanian juga diperkirakan dapat menopang perekonomian Lampung tahun 2019. Sementara inflasi, kendati diproyeksikan akan lebih tinggi dari capaian 2018, namun level tersebut masih sejalan dengan target inflasi nasional 3,5±1%.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel