KEKR Pro​vinsi Lampung Periode Mei 2018​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
05 Juli 2020

Pertumbuhan Ekonomi
Sejalan dengan kuatnya permintaan domestik, ekonomi Lampung pada triwulan I 2018 mampu mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi yakni sebesar 5,16% (yoy), melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi di periode yang sama selama 3 (tiga) tahun kebelakang, maupun pertumbuhan ekonomi Sumatera dan Nasional masing – masing sebesar 5,11% (yoy), 4,37% (yoy) dan 5,06% (yoy). Meski demikian, sesuai dengan pola seasonalnya, pertumbuhan ekonomi di periode laporan tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2017 sebesar 5,31% (yoy).

Di sisi permintaan, tetap kuatnya pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan I 2018 ini ditopang oleh akselerasi pada hampir keseluruhan sektor terutama konsumsi rumah tangga, ekspor serta investasi. Meski demikian, kinerja ekspor yang tinggi masih tertahan oleh impor yang lebih besar terutama antar daerah sehingga mencatatkan neraca perdagangan yang defisit bagi Provinsi Lampung. Di sisi penawaran, motor penggerak perekonomian Lampung bersumber dari sektor industri pengolahan, sektor perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor serta sektor konstruksi.

Memasuki triwulan II 2018 ekonomi Lampung diperkirakan mampu tumbuh lebih tinggi ditopang oleh meningkatnya kinerja konsumsi swasta seiring dengan masuknya bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, serta berlangsungnya Pilkada serentak. Demikian pula halnya dengan konsumsi pemerintah yang diprediksikan akan tetap tumbuh tinggi, sejalan dengan efektifnya penerimaan pendapatan daerah sehingga akselerasi belanja dapat dilakukan. Di sisi eksternal, net ekspor diperkirakan tidak akan sekuat triwulan sebelumnya seiring dengan pola seasonal beberapa komoditas ekspor yang dapat menurunkan produksi (lada, udang, buah-buahan) dan permintaan (batubara), di tengah tingginya impor barang konsumsi untuk memenuhi peningkatan permintaan, meski depresiasi rupiah diperkirakan akan memoderasi perkiraan tersebut.

Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi Lampung di triwulan II 2018 diperkirakan akan ditopang oleh lapangan usaha pertanian sejalan dengan siklus peningkatan produksi tanaman pangan. Lebih lanjut, sektor Perdagangan (besar, eceran, reparasi mobil dan sepeda motor) juga diperkirakan akan tumbuh tinggi sejalan dengan menguatnya konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan sektor ini juga diperkirakan akan didukung lapangan usaha transportasi dan pergudangan seiring dengan meningkatnya permintaan angkutan mendukung mudik lebaran. Selain itu, lapangan usaha konstruksi diperkirakan akan mampu tumbuh seiring dengan akselerasi pembangunan infrastruktur yang mendukung perbaikan konektivitas jalan dan pelabuhan, termasuk percepatan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera khususnya seksi Bakauheni – Terbanggi Besar yang dijadwalkan akan selesai konstruksi di triwulan II 2018.

Keuangan Pemerintah
Anggaran belanja fiskal pemerintah di Provinsi Lampung untuk tahun 2018 mencapai Rp31,75 triliun yang meliputi belanja APBD Provinsi Lampung sebesar Rp8,11 triliun dengan pangsa 25,54%, APBD kabupaten/kota di Provinsi Lampung sebesar Rp23,62 triliun (pangsa 74,39%), dan APBN sebesar Rp0,02 triliun (pangsa 0,06%). Komposisi belanja pegawai masih mendominasi pada tahun 2018, khususnya pada anggaran belanja Kab/Kota. Meskipun demikian, komitmen pemerintah daerah terhadap pengeluaran yang bersifat produktif semakin tinggi yang ditunjukkan dengan meningkatnya pangsa anggaran belanja modal.

Sampai dengan triwulan I 2018, pencapaian pendapatan daerah Provinsi Lampung tercatat sebesar Rp823,41 miliar, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Rp1.368,98 miliar). Secara persentase, realisasi pendapatan sebesar 10,97% juga tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan I 2017 sebesar 20,63% seiring dengan belum terealisasinya pos Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak dan pos Dana Alokasi Khusus. Meski demikian, realisasi belanja daerah Provinsi Lampung sampai dengan triwulan I 2018 menunjukkan pencapaian sebesar Rp845,62 miliar, secara nominal lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2017 (Rp767,26 milar) seiring dengan akselerasi belanja operasi, meski secara persentase (10,42%) berada di bawah periode yang sama di tahun sebelumnya (11,27%) seiring dengan pagu anggaran yang lebih besar di tahun 2018. Sementara itu, ketergantungan fiskal Provinsi Lampung terhadap Pemerintah Pusat di tahun 2018 tercatat masih tinggi sehingga dapat berimplikasi pada terbatasnya diskresi Pemerintah Daerah dalam melakukan inovasi untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah.

Inflasi
Secara tahunan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung triwulan I 2018 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni dari 3,02% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi sebesar 3,23% (yoy). Tekanan inflasi terbesar berasal dari kelompok pangan (volatile food) yang juga menjadi fokus pengawasan Tim Kerja Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Disamping itu, kenaikan harga kelompok administered prices terutama bensin non-subsidi seiring dengan peningkatan harga minyak dunia turut memberikan tekanan inflasi di Provinsi Lampung pada triwulan I 2018, di tengah perkembangan inflasi pada kelompok inti yang terpantau cukup stabil.

Meski terpantau tinggi, inflasi IHK Provinsi Lampung secara tahunan tercatat masih berada di bawah level inflasi Sumatera dan Nasional yang masing-masing sebesar 3,71% (yoy) dan 3,40% (yoy). Berdasarkan kota perhitungan IHK, pencapaian inflasi Kota Metro terpantau lebih rendah dibandingkan Kota Bandar Lampung, dan rata-rata inflasi kota-kota perhitungan IHK di Sumatera. Tantangan pengendalian inflasi Provinsi Lampung kedepan masih cukup besar diantaranya bersumber dari kelompok volatile food dan kelompok administered prices.

Memasuki triwulan II 2018, tantangan pengendalian inflasi Provinsi Lampung kedepan masih cukup besar seiring dengan tingginya risiko tekanan inflasi baik dari kelompok pangan (volatile food) dan administered prices diikuti dengan tekanan inflasi dari sisi permintaan (demand pull) sejalan dengan masuknya Bulan Ramadhan, Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 2018 dan berlangsungnya Pilkada serentak di pertengahan tahun 2018. Oleh karena itu, langkah TPID Provinsi Lampung dalam mengendalikan harga-harga perlu terus dipacu dalam rangka menjaga pencapaian inflasi sesuai sasaran 3,5±1%.

Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan UMKM
Ditengah proses pemulihan kondisi perekonomian global dan domestik, ketahanan sektor rumah tangga sebagai penopang perekonomian Lampung relatif terjaga seiring pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap tinggi serta meningkatnya preferensi konsumsi barang tahan lama dan pemanfaatan fasilitas kredit perbankan. Sejalan dengan hal tersebut, ketahanan korporasi di Provinsi Lampung juga cukup stabil, tercermin dari pertumbuhan kegiatan usaha di beberapa sektor usaha disamping membaiknya rasio kredit bermasalah. Kedepan, optimisme masyarakat terhadap prospek ekonomi enam bulan mendatang diperkirakan masih tetap tinggi didukung keyakinan masyarakat akan terjaganya tingkat penghasilan pada level yang stabil.

Sejalan dengan perkembangan kinerja sektor rumah tangga dan sektor korporasi, indikator utama kinerja perbankan Provinsi Lampung pada triwulan laporan menunjukkan perbaikan, meskipun sesuai pola historisnya pertumbuhan kegiatan usaha pada awal tahun cenderung melambat. Perlambatan pertumbuhan terjadi pada aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kredit Bank Umum dan BPR, sementara pertumbuhan Bank Syariah menunjukkan peningkatan setelah terkoreksi pada triwulan lalu. Namun demikian, kinerja pengelolaan risiko terutama risiko kredit yang terpantau rendah dan stabil khususnya pada bank umum, serta risiko likuiditas secara umum mengalami perbaikan. Pelaksanaan fungsi intermediasi yang tercermin pada perkembangan Loan to Deposit ratio juga terpantau masih berjalan optimal dengan sedikit penurunan, namun dukungan pembiayaan kepada UMKM mengalami kontraksi pertumbuhan seiring penurunan kualitas kredit UMKM.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran & Pengelolaan Uang Rupiah
Sejalan dengan pola historisnya paska libur Natal dan Tahun Baru 2017, kondisi net inflow terjadi di wilayah Provinsi Lampung pada triwulan I 2018. Transaksi pembayaran tunai tercatat melambat dan mendorong penurunan transaksi layanan penukaran, kas titipan, dan kas keliling. Begitu halnya dengan transaksi pembayaran non tunai, baik melalui kliring maupun RTGS juga cenderung mengalami penurunan seiring dengan aktivitas perekonomian yang tidak setinggi pada triwulan sebelumnya.

Ditengah penurunan transaksi pembayaran tunai dan non tunai tersebut, penggunaan uang elektronik terus mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Sampai dengan triwulan I 2018, terdapat shifting pangsa penggunaan uang elektronik yang cukup signifikan dari transaksi top up ke transaksi pembayaran. Selama triwulan I 2018, transaksi pembayaran memiliki pangsa sebesar 31,78%, dari keseluruhan transaksi uang elektronik. Hal ini tidak terlepas dari berbagai upaya Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung dalam melakukan sosialisasi dan memperluas edukasi terkait elektronifikasi dan keuangan inklusif kepada masyarakat di Provinsi Lampung, bekerjasama dengan instansi terkait.

Di sisi lain, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung juga senantiasa terus mendorong clean money policy melalui peningkatan intensitas kegiatan kas keliling, perluasan kerjasama penukaran uang dengan pihak Perbankan, serta edukasi ciri-ciri keaslian uang Rupiah guna meningkatkan soil level yang lebih baik untuk pecahan kecil (UPK) dan pecahan besar (UPB).

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Lampung pada triwulan I 2018 (Februari 2018) menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perkembangan tersebut tercermin dari meningkatnya penyerapan tenaga kerja di tengah kenaikan jumlah angkatan kerja yang mencapai 124,7 ribu orang. Dengan perkembangan tersebut, Tingkat Pengangguran Terbuka pada triwulan I 2018 tercatat mengalami penurunan. Namun demikian kenaikan penawaran pekerjaan tersebut belum diikuti perbaikan sisi produktivitas. Pada periode laporan, produktivitas angkatan kerja diperkirakan turun seiring meningkatnya pekerja dalam kategori Setengah Pengangguran. Disamping itu, dominasi pekerjaan sektor informal tercatat sedikit meningkat yang secara struktural konsisten dengan kualitas tenaga kerja Lampung yang mayoritas (65,70%) memiliki pendidikan tertinggi pada jenjang SMP.

Sementara itu, kesejahteraan pekerja yang mayoritas bekerja di kawasan pedesaan khususnya pada sektor pertanian diperkirakan sedikit mengalami penurunan. Kondisi ini ditandai oleh perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) triwulan I 2018 yang tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2017, dengan catatan NTP subsektor padi dan palawija yang diduga banyak menyerap tenaga kerja masih menunjukkan peningkatan. Namun jika dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu, NTP periode laporan masih menunjukkan perbaikan. Sejalan dengan hal ini, jumlah penduduk miskin provinsi Lampung baik di kawasan pedesaan maupun perkotaan juga memperlihatkan penurunan dalam periode yang sama. Namun dengan persentase penduduk miskin yang mencapai 13,04% jauh diatas tingkat kemiskinan nasional sebesar 10,12%, efektivitas program pengentasan kemiskinan perlu terus diperkuat, termasuk dengan upaya mengurangi kerentanan penduduk miskin terhadap fluktuasi harga komoditas utama yang dikonsumsi.

Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan III 2018 diperkirakan berada pada kisaran 5,1%-5,5% (yoy) dengan potensi bias kebawah, sehingga dapat menurunkan pertumbuhan beberapa basis poin dari capaian triwulan sebelumnya. Konsumsi swasta diperkirakan masih menjadi pendorong utama pertumbuhan meskipun tidak sekuat periode sebelumnya seiring berakhirnya perayaan hari besar keagamaan. Pendorong pertumbuhan lainnya diperkirakan bersumber dari perbaikan net ekspor yang didukung kenaikan produksi pertanian meskipun harga komoditas utama ekspor seperti CPO dan batubara diprakirakan cenderung stagnan atau bahkan turun. Secara sektoral, siklus produksi optimal komoditas perkebunan seperti kopi, tebu dan nanas memasuki musim kemarau diperkirakan menjadi penopang kinerja sektor pertanian, juga sektor perdagangan dan sektor transportasi dan pergudangan. Berbagai indikator tersebut menjadikan pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2018 diperkirakan dapat tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya pada kisaran 5,0%-5,4% (yoy).

Inflasi
Prospek inflasi triwulan III 2018 dan keseluruhan tahun 2018 diperkirakan akan tetap terkendali pada kisaran 3,5%±1% (yoy), seiring produksi pangan yang masih terjaga dan kuatnya dukungan kebijakan pengendalian harga beberapa komoditas volatile oleh pemerintah. Komitmen pemerintah untuk tidak menaikkan komoditas administered prices seperti tarif listrik dan BBM subsidi juga diharapkan dapat meminimalkan risiko inflasi dari tren kenaikan harga energi dunia beberapa waktu terakhir.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel