KEKR Provinsi Lampung Periode Agustus 2017​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Januari 2020

​Pertumbuhan Ekonomi​

Di tengah proses pemulihan ekonomi nasional yang tidak secepat perkiraan, perekonomian Lampung di triwulan II 2017 masih dapat tumbuh cukup tinggi, yakni 5,03% (yoy), didorong oleh pesatnya pengeluaran konsumsi rumah tangga dan investasi di atas rata-rata historis 3 tahun terakhir. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi Lampung tersebut di atas pertumbuhan ekonomi Sumatera dan Nasional yang masing-masing sebesar 4,09% (yoy) dan 5,01% (yoy).

Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh cukup tinggi sebesar 6,09% (yoy) sesuai dengan pola musiman pada periode Ramadhan dan Idul Fitri yang bersamaan dengan liburan sekolah. Selain itu, pertumbuhan investasi juga tercatat meningkat cukup signifikan yaitu sebesar 11,82% (yoy), terutama pada investasi bangunan seiring dengan pesatnya pembangunan proyek strategis Pemerintah. Di sisi penawaran, motor penggerak perekonomian Lampung bersumber dari sektor Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil-Sepeda Motor, sektor Industri Pengolahan, dan sektor Konstruksi yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,98%, 0,92%, dan 0,90%.

Memasuki triwulan III 2017, ekonomi Lampung diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi yang didorong oleh masih baiknya konsumsi rumah tangga dan meningkatnya konsumsi pemerintah. Sementara itu, secara sektoral, meningkatnya kinerja sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan diperkirakan menjadi pendorong ekonomi Lampung pada triwulan III 2017.

Keuangan Pemerintah

Sampai dengan triwulan II 2017, realisasi anggaran belanja relatif lebih rendah dibandingkan triwulan II tahun 2016 sejalan dengan rendahnya realisasi belanja modal dan belanja bagi hasil kepada pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah desa. Meskipun secara total realisasi pendapatan lebih tinggi, namun penyerapan anggaran tersebut belum optimal di setiap kabupaten/kota yang antara lain disebabkan oleh penundaan pencairan dana perimbangan. Secara keseluruhan, ketergantungan fiskal Provinsi Lampung terhadap pusat semakin tinggi yang berimplikasi pada terbatasnya diskresi pemerintah daerah dalam melakukan inovasi untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah.

Dari anggaran tersebut, komposisi belanja pegawai masih mendominasi, khususnya pada anggaran belanja kabupaten/kota. Di tengah keterbatasan alokasi anggaran, komitmen pemerintah daerah terhadap pengeluaran yang bersifat produktif semakin tinggi yang ditunjukkan dengan meningkatnya pangsa anggaran belanja modal.

Inflasi

Sesuai dengan pola historisnya, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada triwulan II 2017 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni dari 3,68% (yoy) menjadi sebesar 4,91% (yoy). Inflasi tersebut terutama dikarenakan adanya peningkatan tekanan inflasi pada kelompok adiministered prices seiring dengan adanya kebijakan penyesuaian tarif listrik tahap II dan III, serta kenaikan harga angkutan antar kota menjelang perayaan Idul Fitri. Di sisi lain, inflasi kelompok pangan (volatile food) yang merupakan fokus kerja Tim Pengendali Inflasi Daerah provinsi Lampung khususnya pada bulan Ramadhan, masih memberikan sumbangan inflasi, namun dengan laju yang cenderung turun dan terkendali. Secara keseluruhan, terkendalinya inflasi pada triwulan II 2017 terutama didukung oleh pasokan bahan makanan yang memadai ditengah meningkatnya permintaan masyarakat selama bulan Ramadhan 2017.

Berdasarkan kota perhitungan IHK, inflasi IHK Kota Metro tercatat lebih rendah dibandingkan kota Bandar Lampung, dan rata-rata inflasi kota-kota perhitungan IHK di Sumatera. Adapun secara nasional, inflasi IHK Provinsi Lampung sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi IHK Nasional yang mencapai 4,37% (yoy). Tantangan pengendalian inflasi Provinsi Lampung kedepan masih cukup besar diantaranya bersumber dari inflasi kelompok volatile foods dan kelompok administered prices.

Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan UMKM

Ditengah kondisi pemulihan ekonomi domestik, stabilitas keuangan Provinsi Lampung yang ditopang oleh kinerja sektor rumah tangga dan korporasi masih terjaga. Ketahanan sektor rumah tangga tercermin dari masih cukup stabilnya penghasilan rumah tangga dan konsumsi yang meningkat sesuai pola historis musiman bulan Ramadhan dan libur hari raya Idul Fitri yang bersamaan dengan liburan sekolah meskipun tidak setinggi perkiraan semula. Meningkatnya NPL kredit rumah tangga dan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi kedepan yang melemah masih menjadi risiko kerentanan sektor rumah tangga kedepan. Sementara itu ketahanan sektor korporasi ditengah proses konsolidasi perekonomian global masih cukup baik tercermin dari meningkatnya penjualan domestik dan ekspor yang stabil. Di lain sisi, masih rendahnya margin dan terdapatnya indikasi perbaikan harga komoditas yang belum stabil menjadi risiko penahan kinerja korporasi kedepan.

Kinerja perbankan Provinsi Lampung pada triwulan laporan tercatat membaik, yang tercermin dari pertumbuhan aset, DPK serta kredit bank umum maupun pembiayaan bank syariah yang tercatat meningkat, dengan kualitas kredit yang membaik dan masih terjaga di bawah threshold 5% serta indikator intermediasi perbankan yang cukup terjaga. Di sisi lain, kinerja kredit UMKM belum cukup menggembirakan, ditandai dengan melambatnya pertumbuhan kredit UMKM dan pangsa yang menurun, serta peningkatan risiko kredit yang perlu mendapat perhatian.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran & Pengelolaan Uang Rupiah

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2017 tercermin dari perkembangan positif pertumbuhan sistem pembayaran non tunai di Provinsi Lampung. Nilai transaksi pembayaran melalui Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) menunjukkan peningkatan pertumbuhan, walaupun dari volume pertumbuhannya tidak setinggi triwulan sebelumnya.

Untuk meningkatkan layanan ketersediaan uang layak edar, Bank Indonesia senantiasa terus mendorong clean money policy melalui kegiatan pengelolaan uang tunai dengan melakukan pembukaan layanan penukaran uang bekerjasama dengan perbankan, kas keliling, remise, program peduli uang lusuh, gerakan peduli koin dan edukasi ciri-ciri keaslian uang Rupiah.

Dalam hal pengembangan akses keuangan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung terus berupaya memperkenalkan Gerakan Nasional Non Tunai untuk memperluas edukasi terkait elektronifikasi dan keuangan inklusif kepada masyarakat di Provinsi Lampung.

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Lampung pada triwulan II 2017 mengalami sedikit perbaikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), penggunaan tenaga kerja meningkat terutama dari sektor Industri Pengolahan, Perdagangan, serta Pertambangan.

Sementara itu, kesejahteraan petani yang tercemin dari Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat stabil namun cenderung menurun dari 104,32 pada triwulan I 2017 menjadi 104,28 pada triwulan laporan. Penurunan NTP tersebut disebabkan oleh indeks yang diterima petani (It) tercatat memiliki penurunan yang lebih dalam dibandingkan dengan indeks yang dibayar petani (Ib). Relatif menurunnya NTP dimaksud antara lain didorong oleh meningkatnya biaya produksi seiring dengan standard kualitas hasil produksi yang cukup tinggi, termasuk fluktuasi harga pada komoditas tanaman hortikultura dan perkebunan. Kedepan, kesejahteraan petani masih rentan apabila ketergantungan Lampung terhadap ekonomi yang berbasis komoditas masih tinggi mengingat harga komoditas yang cenderung berfluktuasi.

Di lain sisi, meskipun kondisi NTP tercatat masih cukup baik serta jumlah penduduk miskin di Provinsi Lampung menunjukkan tren yang menurun, rata-rata persentase penduduk miskin di Provinsi Lampung selama 3 tahun terakhir tergolong cukup tinggi dan berada diatas rata-rata persentase penduduk miskin nasional. Upaya pengentasan kemiskinan yang telah dijalankan di Provinsi Lampung perlu untuk terus ditingkatkan terutama pada daerah pedesaan.

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan IV 2017 diperkirakan tumbuh cukup tinggi pada kisaran 5,0%-5,4% (yoy), namun dibayangi downward risk yang sedikit meningkat dari triwulan sebelumnya. Konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah diperkirakan juga menjadi pendorong pertumbuhan, sedangkan net ekspor berpotensi mengalami koreksi dibandingkan triwulan III seiring kemungkinan berlanjutnya depresiasi harga komoditas ekspor seperti CPO dan Batubara, berkurangnya produksi kopi dan beberapa komoditas pangan, serta downward bias proyeksi pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra dagang utama. Secara sektoral, peningkatan kinerja sektor perdagangan diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan triwulan IV sejalan dengan pola musiman realisasi anggaran dan pelaksanaan hari besar keagamaan serta libur akhir tahun, sedangkan pertumbuhan sektor pertanian sedikit termoderasi seiring siklus penurunan produksi pangan memasuki musim hujan. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Lampung pada tahun 2017 diperkirakan akan sedikit meningkat dari tahun sebelumnya.

Inflasi

Prospek inflasi pada triwulan IV dan keseluruhan tahun 2017 diperkirakan masih tetap terjaga pada kisaran 4%±1% (yoy), namun berpotensi mencatatkan level yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan tekanan inflasi pada periode tersebut berasal dari kelompok volatile food sejalan dengan masuknya musim penghujan dan potensi penurunan hasil panen. Kondisi ini perlu diantisipasi TPID dengan fokus pada upaya menjaga stabilitas inflasi pangan di level yang cukup rendah (dibawah 5%) guna mempertahankan daya beli masyarakat. ​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel