Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kepulauan Riau November 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
06 Juni 2020

Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan III 2017 tumbuh menguat dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Kepri sebesar 2,41% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 1,04% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh perbaikan kinerja investasi dan konsumsi rumah tangga. Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh perbaikan kinerja sektor industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan. Memasuki triwulan IV 2017, perekonomian Kepri diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 4,0 – 4,4% (yoy).

Investasi mencatatkan tumbuh sebesar 9,03% (yoy) dibanding triwulan sebelumnya yang terkontraksi 3,31% (yoy). Pertumbuhan investasi disebabkan oleh peningkatan investasi bangunan. Adapun net ekspor kembali mencatatkan kontraksi yang lebih dalam sebesar 17,59% (yoy) dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh kontraksi sebesar 4,41% (yoy). Kontraksi net ekspor disebabkan oleh penurunan ekspor antardaerah yang terkontraksi 14,26% (yoy). Konsumsi pemerintah mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,04% (yoy) dibanding triwulan sebelumnya terkontraksi sebesar 13,06% (yoy). Konsumsi RT tumbuh menguat sebesar 7,20% (yoy) ditopang oleh peningkatan jumlah kunjungan wisman dan penurunan tingkat pengangguran Agustus 2017 dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 2,88% (yoy), dibanding triwulan sebelumnya yang mencatatkan kontraksi 0,44% (yoy). pertumbuhan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan produksi CPO dan perahu, kapal dan struktur terapung lainnya. Sektor konstruksi tumbuh 5,60% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 0,44% (yoy). Peningkatan sektor konstruksi sejalan dengan peningkatan realisasi investasi bangunan. Sektor perdagangan tumbuh sebesar 7,11% (yoy) dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,96% (yoy) ditopang terjaganya konsumsi masyarakat pada triwulan laporan. Sedangkan kinerja sektor pertambangan dan penggalian masih melanjutkan kontraksi dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang masih pada level rendah.

Inflasi pada triwulan III 2017 tercatat sebesar 3,78% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,73% (yoy). Kelompok administered price, mencatatkan inflasi 8,88% (yoy), dengan andil terbesar inflasi dari tarif listrik dengan andil terbesar dari tarif listrik. Komoditas inti mencatatkan inflasi 2,10% (yoy), terutama pada komoditas tarif pulsa ponsel dan sekolah dasar. Sementara itu, tingkat inflasi volatile food sebesar 3,08% (yoy) dengan andil terbesar disumbang oleh bawang merah. Secara spasial, laju inflasi Batam 3,86% (yoy) lebih tinggi dibanding Tanjungpinang sebesar 3,29% (yoy).

Kinerja perbankan mengalami perbaikan tercermin dari pertumbuhan aset dan kredit. Kedua indikator tersebut tercatat tumbuh masing-masing sebesar 9,96% (yoy) dan 5,66% (yoy). Stabilitas keuangan daerah relatif tetap terjaga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Tingkat kredit bermasalah sedikit melewati ambang batas yang ditetapkan BI yang merupakan dampak dari pelemahan ekonomi pada dua triwulan sebelumnya. Aktivitas sektor UMKM mencatatkan pertumbuhan tercermin dari pertumbuhan positif kredit UMKM sebesar 3,26% (yoy) lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya sebesar 2,56% (yoy). Namun kualitas kredit sudah melewati ambang batas yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Aktivitas pembayaran tunai kembali normal setelah berlalunya Hari Raya Idul Fitri. Net outflow tercatat sebesar Rp612 Miliar. Nilai net outflow tersebut terkontraksi signifikan dibanding triwulan II 2017. Transaksi kliring menunjukkan kontraksi pada triwulan III. Nominal dan jumlah warkat transaksi kliring tercatat melambat masing-masing sebesar 27,554% (yoy) dan 11,96% (yoy).

Pertumbuhan ekonomi yang masih terbatas masih belum mampu menyerap angkatan kerja yang lebih banyak. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2017 tercatat sebesar 7,16% (yoy), lebih tinggi dibanding periode Februari 2017 yang tercatat 6,44% (yoy). Bila dibandingkan secara nasional, TPT Kepri relatif masih tinggi yaitu pada posisi ke-7 tertinggi dari 34 provinsi, juga lebih tinggi dibanding TPT nasional sebesar 5,33%.

Kinerja industri Kepri khususnya CPO, dan elektronik berpotensi membaik sejalan dengan semakin pulihnya permintaan dunia, terutama dari Tiongkok, Eropa dan Amerika Serikat. Pemulihan kinerja sektor industri tersebut berpotensi memperbaiki kinerja ekspor impor Kepri. Berbagai program kemudahan investasi yang diluncurkan pemerintah seperti program perluasan implementasi KLIK dan 123J, diyakini memperkuat daya tarik investasi Kepri. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk terus meningkatkan realisasi belanja infrastruktur, regulasi kemudahan investasi, serta berbagai upaya reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan publik, akan memperkokoh fundamental perekonomian.

Laju inflasi pada triwulan IV 2017 diperkirakan meningkat, dipengaruhi oleh komoditas volatile food khususnya komoditas hasil laut serta administered price khususnya tarif angkutan udara. Potensi kenaikan volatile food dipengaruhi faktor cuaca yaitu curah hujan cukup tinggi dan gelombang tinggi yang telah dirasakan menjelang akhir tahun, memicu kenaikan harga ikan segar dan sejumlah komoditas sayuran. Selain itu maskapai angkutan udara diperkirakan akan menaikan tarifnya menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Inflasi diperkirakan akan meningkat pada triwulan I 2018 sebagai efek dari peningkatan administered price dan bulan Januari karena kenaikan tarif listrik dan perayaan Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh. Selain itu kelompok volatile food juga diperkirakan masih akan memberikan sumbangan inflasi yang cukup tinggi dipengaruhi oleh fenomena angin utara yang masih berlangsung sampai dengan triwulan I 2018.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel